Rabu, 09 Januari 2013

Bhagavatam Part 32 : Purana dan Inkarnasi Tuhan

Kode Iklan anda yang ingin ada di sebelah kiri disini
Kode Iklan anda yang ingin ada di sebelah kanan disini


Menjawab pertanyaan Raja, Resi Shuka berkata, "Akan sulitlah jika kesepuluh ciri khas Puraana ini harus dilukiskan secara singkat karena setiap ciri khas harus ditunjukkan dengan jelas seperti bila harus memaparkan proses pembuatan mentega, maka setiap bagian dari memeras susu hingga mengocok (yoghurt) harus disebutkan. Setiap langkah penting. Sepuluh nama tersebut berkaitan dengan sifat-sifat yang ditandai oleh makna nama tersebut. Tetapi semuanya ditujukan untuk memperoleh mentega kebebasan (moksa), Untuk mencapai kebebasan itulah, maka kesepuluh ciri khas tersebut digunakan. Kitab-kitab Puraan dimaksudkan agar para pendengar (atau pembacanya) yang tulus dan penuh hasrat dapat memperoleh dukungan dan santapan rohani yang diperlukan dalam peziarahannya menuju kebebasan. Hal-hal yang ditunjukkan Weda dengan pernyataan, dalil, atau dengan anjuran yang dinyatakan secara tidak langsung dalam konteks lain, atau bahkan dengan menggambarkan pengalaman aktual secara langsung dalam suatu bab lain, di dalam Puraana diuraikan secara rinci agar lebih jelas dan menimbulkan inspirasi," ujar Resi Shuka.

Ketika mendengar perkataan ini, timbullah pertanyaan dalam pikiran Pariikshit. Hal itu disampaikannya, "Resi Yang Agung! Maharesi berkata bahwa Guru akan menceritakan sebuah Puraana kepada saya. Karena itu, saya ingin mendengar lebih banyak mengenai ciri-ciri khas ini. Dengan demikian, kisah itu dapat saya dengarkan dengan lebih gembira dan lebih bermanfaat."
Resi Shuka siap menjawab pertanyaan ini, dimulai dengan uraian tentang kesepuluh ciri khas Puraana. Beliau berkata, "Dengarkan oh Maharaja! Saya telah memutuskan akan menceritakan Bhaagavata Puraana kepada Tuanku. Kitab ini sarat dengan jawaban segala pertanyaan dan keraguan yang timbul dalam pikiran Tuan. Tidak ada Puraana yang lebih penting daripada ini."


"Mengenai ciri khasnya, yang pertama adalah sarga. Akan saya jelaskan artinya kepada Tuan. Ketika ketiga sifat: sattva, rajas, dan tamas berada dalam keseimbangan, hal itu disebut prakriti, subtansi pramula. Dengan adanya gangguan dalam keseimbangan itu, keadaan menjadi tidak seimbang, maka timbullah kelima unsur alam : tanah, air, api, udara, dan angkasa (eter). Timbullah juga sifat halus kelima unsur tersebut yaitu: bau, rasa, wujud, sentuhan, dan suara. Tercipta juga indra halus yang dapat mempersepsinya yaitu: hidung, lidah, mata, kulit, dan telinga. Pikiran dan ego pun timbul dari prinsip yang sama. Proses penciptaan inilah yang dimaksudkan dengan sarga."
"Tanda kedua pada Puraana adalah visarga yaitu sarga atau penciptaan dalam pengertian khusus. Perkembangbiakan makhluk menjadi aneka ragam jenis melalui pengaruh timbal balik berbagai sifat yang aneh dan kegiatan yang khas, inilah yang dimaksud dengan visarga. Hal ini berhubungan erat dengan Pribadi Maha Tinggi yang meliputi semuanya. Alam semesta ini terkandung di dalam Beliau."
"Sthaana merupakan isi terpenting yang ketiga dalam Puraana. Segala sesuatu yang diciptakan dalam alam semesta ini harus mempunyai batasan-batasan agar bermanfaat untuk beberapa keperluan.
Penentuan batasan ini, dan proses-proses yang membuat batasan tersebut dihormati, semuanya dilukiskan dalam bagian yang disebut sthaana atau keadaan. Suatu mesin misalnya, mempunyai kunci. Hanya dengan kunci itulah mesin tersebut dapat dijalankan. Mesin itu juga mempunyai alat-alat untuk mengatur dan menghentikan kerjanya. Jika tidak, mesin tersebut akan menimbulkan bahaya baik bagi benda itu sendiri maupun bagi orang yang menggunakannya. Penetapan alat atau perlengkapan pengatur semacam itu merupakan topik yang dibahas dengan sthaana."
"Tanda berikutnya yang merupakan ciri khas Puraana yaitu adanya bagian mengenai poshana 'pemeliharaan, penjagaan, dan perlindungan dari bahaya'. Singkatnya, semua pemeliharaan, bimbingan, dan perlindungan tercakup dalam satu topik yang mengandung pengertian luas yaitu rahmat Tuhan. Pohon muda yang ditanam harus dipelihara dengan penuh perhatian dan kasih; segala ciptaan juga dipelihara seperti itu dengan rahmat Sang Pencipta."

"Berikutnya adalah Manvantara yaitu urutan waktu atau masa (kekuasaan) Manu yang terkandung dalam setiap Puraana. Satu hari (bagi manusia di dunia ini) terdiri dari delapan yama. Tiga puluh hari semacam itu disebut sebulan. Dua belas bulan disebut setahun. Waktu setahun di dunia manusia ini hanya sehari bagi para dewa. Tiga ratus enam puluh hari bagi dewa merupakan setahun bagi mereka. Kali Yuga atau 'zaman kali' terdiri dari 1000 tahun dewa. Dwaapara Yuga sebelum ini terdiri dari 2000 tahun dewa, sedangkan Tretaa Yuga yang mendahului Dwaapara Yuga terdiri dari 3000 tahun dewa. Krita Yuga yang paling awal dari keempat zaman ini, terdiri dari 4000 tahun dewa. Di antara setiap yuga itu terdapat jarak waktu peralihan selama 200, 400, 600, dan 800 tahun dewa yang disebut periode sandhyaa. Dua belas ribu tahun semacam itu (tahun dewa) merupakan satu mahaayuga. Seribu mahaayuga merupakan satu hari bagi Brahma! Dalam setiap hari Brahma ini terdapat 14 Manu yang menguasai dunia. Dengan demikian, setiap Manu berkuasa selama lebih dari 0 mahaayuga. Kisah para Manu ini dan keturunannya disebut manvantara."

"Tanda berikutnya yang terdapat dalam Puraana adalah uuti. Uuti berarti akibat perbuatan; pengaruhnya yang kuat pada sifat dan karier seseorang. Sifat setiap kehidupan ditentukan oleh pengaruh berbagai kehidupannya yang lampau. Hal itu tidak diberikan atau ditentukan oleh Tuhan yang (bersifat) semaunya sendiri. Semua diperlakukan sama oleh Tuhan: nasib manusia yang berbeda-beda dibentuk-nya sendiri dengan kelakuannya yang sulit dikendalikan dan perbuatannya yang disengaja. Aspek ini dibahas dalam uuti."
"Ishaanucarita merupakan aspek lain yang dibahas dalam Puraana. Kata itu berarti kemuliaan Isha atau Tuhan dan berbagai cara manusia mengalami kekuasaan, kebesaran, keindahan, serta terang kemuliaan itu."
"Kemudian dalam Puraana kita dapati aspek yang membahas nirodha atau 'penyerapan'. Segala kemuliaan yang ditampilkan atau diwujudkan oleh Tuhan, diserap-Nya kembali ke dalam diri-Nya sendiri; kemudian ia masuk dalam keadaan tidur yoga hingga dorongan ketuhanan untuk mewujud lagi mengganggu keseimbangan suci. ini."

"Topik lain yang diuraikan dalam semua Puraana adalah mukti. Ini berarti dibebaskannya manusia dari belenggu ajnaana 'kekaburan batin' yang membuatnya terkurung. Dengan kata lain, manusia harus dibebaskan dari anggapan bahwa ia adalah tubuh. Tubuh itu hanyalah wadahnya. Manusia harus disadarkan bahwa ia adalah atma, jiwa, yaitu kenyataan sejati yang terkurung (di dalam tubuh)."
"Asraya merupakan aspek terakhir yang dibahas dalam Puraana. Asraya berarti pertolongan, bantuan, dukungan. Tanpa pertolongan, kebebasan tidak dapat dicapai. Tuhan Yang Mahakuasa merupakan penopang alam semesta. Paramaatma 'Tuhan Yang Mahabesar' merupakan asal segala sesuatu, segala sesuatu berada di dalam-Nya, dan segala sesuatu akan manunggal kembali ke dalam-Nya; Ialah yang menolong manusia mencapai kebebasan. Orang yang mengetahui aadhibhautika, aadhidaivkam, dan aadhiaatmika, dengan pengetahuan itu juga akan mengetahui asraya atau Paramaatma. "Di sini Parikshit menyela sang resi dan memohon, "Resi Yang Agung! Mohon jelaskan kepada saya, apakah aadhibhautika, aadhidaivikam, dan aadhiaatmika itu."

Resi Shuka senang pertanyaan itu diajukan oleh Pariikshit. Disiapkannya dirinya menjawab hal itu. "Oh Maharaja! Saya melihat sesuatu. Sesuatu itu merupakan aadhi-bhautika. Akan tetapi, apakah sebenarnya yang melihat hal itu? Mungkin Tuanku mengatakan matalah yang melihatnya. Dari mana kemampuan melihat itu didapat oleh mata? Pikirkan hal itu! Dewa yang menguasai mata adalah Surya. Suryalah yang memberikan kemampuan melihat kepada mata. Tanpa Surya, dalam kegelapan, mata tidak dapat melihat, bukan? Karena itu matahari merupakan aadhidaivikam. Dalam proses ini ada lagi satu faktor utama yaitu jivi 'individu' yang berada di balik semua indra, di balik mata, telinga, dan lain-lainnya. Individu itulah atma, sang aadhi-aatma. Sang atma, Tuhan, adalah kesadaran yang menimbulkan pengertian mengenai semua ini; tanpa ini, proses tersebut tidak dapat berlangsung. Atma merupakan saksi."
"Sekarang sudah saya beritahukan kepada Maharaja kesepuluh ciri khas Bhaagavata dan Puraana lainnya. Katakan, apa lagi yang ingin Tuanku ketahui dari saya, akan saya jelaskan dengan senang hati. Saya selalu siap," kata sang resi.

Mendengar ini, Pariiskhit berkata, "Maharesi! Saya mengerti kesepuluh tanda Puraana; saya baru tahu bahwa Paramaatma yang berada dalam setiap makhluk sebagai atma, menyaksikan ruang, waktu, dan sebab akibat. Saksi abadi itu telah mengambil berbagai wujud demi kepentingan dunia dan menegakkan moralitas serta keadilan. Saya ingin mendengarkan kisah suci inkarnasi ini: Raama, Krishna, serta Avatar lainnya, dan mengenai misteri mereka yang lebih mendalam. Jangan merasa bahwa waktunya singkat. Biarlah saya menyucikan setiap saat yang masih tersisa dalam hidup saya dengan menyimak kisah kejadian yang menimbulkan inspirasi ini. Saya mohon agar dengan restu Maharesi, dahaga saya dapat terpuaskan dan hati saya dianugerahi sukacita."
Resi Shuka menjawab, "Oh Maharaja, saya juga sampai pada cerita itu. Jadi dengarkan. Setiap perwujudan Tuhan yang kongkrit itu penting; tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Kisah setiap Avatar meluhurkan budi. Setiap Avatar merupakan perwujudan yang lengkap. Mungkin mendengarkan kisah ini akan membuat Tuanku merasa bahwa perwujudan yang satu lebih agung dan lebih luhur daripada lainnya. Akan tampak seakan-akan Tuanku memperoleh lebih banyak inspirasi dari satu Avatar daripada lainnya, tetapi semua sama misteriusnya dan mempunyai sifat ketuhanan yang sama. Perwujudan Tuhan disesuaikan dengan waktu, tugas, situasi, dan kebutuhan (pada masa itu); wujud yang diambil disesuaikan dengan tujuannya."

"Dengarkan oh Maharaja. Tuhan itu Mahakuasa, bagi-Nya tidak ada perbedaan antara yang mungkin dan tidak mungkin. Kemukjizat-an, kesenangan, permainan, dan senda gurau-Nya tidak dapat dilukiskan dengan perbendaharaan kata manusia. Walaupun Tuhan tidak berwujud, Beliau dapat mengambil wujud pribadi universal, mencakup segala ciptaan dalam wujud-Nya. Tuhan itu Maha Esa, tetapi membuat diri-Nya sendiri beraneka. Matsya, Varaaha, Narasimha, Vaamana, Parashuraama, Raama, Krishna, Buddha, Kalki, orang-orang saling menceritakan bahwa inilah wujud suci yang dikenakan Tuhan, tetapi itu tidak melukiskan kebesaran Beliau. Kita harus melihat segala wujud sebagai wujud Tuhan; daya hidup setiap makhluk merupakan napas-Nya. Singkatnya, setiap bagian yang terkecil dalam ciptaan adalah Tuhan, perwujudan kehendak-Nya. Tiada apa pun yang berbeda atau terpisah dari Tuhan."
"Meskipun demikian, untuk melindungi dunia, untuk menegakkan darma, dan untuk memenuhi kerinduan pada bakta, Tuhan berkehendak secara khusus, mengambil wujud khusus, dan hidup di dunia. Beliau menganugerahkan kegembiraan yang besar kepada para bakta dengan berbagai tindakan ketuhanan yang membuat umat mempercayai kedatangan Beliau. Dengan cara itu, keyakinan mereka diperteguh dan mereka terdorong mengabdikan segala kegiatannya kepada Tuhan; dengan demikian mereka menyelamatkan dan membebaskan dirinya sendiri. Karena itu, wujud Tuhan yang dikenakan untuk tujuan ini, dianggap suci secara khusus oleh umat. Mereka memuja Tuhan dalam wujud-wujud pengejawantahan tersebut."

"Pada beberapa kesempatan tertentu, untuk menyelesaikan beberapa krisis yang mendesak, Tuhan telah menjelma dengan wujud yang merupakan pengejawantahan sebagian dari sifat-sifat ketuhanan. Beliau, dengan sejumlah kekuasaan dan kemampuan ketuhanan. Cukup banyak contoh inkarnasi semacam itu untuk melindungi dunia."
Ketika Resi Shuka mengatakan hal itu, Pariikshit menengadahkan wajahnya yang berseri dengan sukacita yang tidak lazim dan berseru. "Oh, apakah Tuhan yang menawan mengambil wujud-wujud semacam itu dengan sebagian dari diri Beliau? Tentu saja semua itu hanyalah permainan bagi Beliau. Ceritakan kepada saya mengenai wujud-wujud yang dikenakan Tuhan untuk melindungi dunia; buatlah saya senang dengan mendengarkan kisah itu." Sambil memohon, Pariikshit bersujud di hadapan sang guru.

Resi Shuka melanjutkan, "Dengarkan oh Maharaja! Kapila, Dattatreya, Sanaka, Sananda, Sanatkumaara, Sanatsujata, dan para resi lain: Rshabha, Nara-Naaraayana, Vishnu, Dhruva, Hayagriiva, Prthu, Kashyapa, Dhanvantari, Hamsa, Manu, Balaraama, Vyaasa, dan banyak pribadi suci semacam itu, tidak lain adalah nama dan wujud yang dikenakan Tuhan untuk memberi anugerah kepada para bakta, untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran, untuk menetapkan aturan moralitas serta perilaku yang benar bagi umat manusia, dan untuk memulihkan ideal sertta tata cara tradisional yang sudah mapan di antara umat manusia. Masih banyak lagi Amsha-Avataara 'pengejawantahan sebagian dari kemuliaan dan kekuasaan Tuhan' semacam itu, tetapi kita tidak punya waktu untuk menceritakannya satu demi satu secara rinci. Lagi pula mereka tidak sedemikian penting untuk dipertimbangkan sampai ke detailnya. Saya menanggapi permintaan Tuanku karena saya rasa tinjauan singkat sudah cukup."
Meskipun demikian, Pariikshit menyela, katanya, "Resi Yang Agung! Ceritakan kepada saya, setidak-tidaknya secara singkat sekali, mengapa Tuhan menjelma seperti itu, walaupun hanya sebagian dari diri Beliau yang mengejawantah, seperti misalnya Kapila, Dhruva, Dattaatreya, Hayagriiva, Dhanvantari, dan sebagainya. Ceritakan kepada saya tentang prestasi yang mereka capai dan makna setiap kedatangan tersebut. Itu akan memberi saya terang yang memurnikan."
Resi Shuka berkata, "Oh Maharaja! Devahuuti, istri Prajaapati Kardama mempunyai sembilan putri dan wujud Kapila lahir sebagai anaknya yang kesepuluh. Tuhan yang mengejawantah sebagai Kapila, menjadi guru dan pembimbing rohani bagi ibunya, Devahuuti! Beliau ajarkan kepada Devahuuti, rahasia untuk mencapai kebebasan, dan Beliau berikan ajaran untuk mencapai kebebasan akhir."

"Anasuuya, istri Resi Atri, berdoa mohon agar Tuhan lahir sebagai anak dari rahimnya dan Tuhan menjawab, "Dikabulkan (datta)". Karena nama ayahnya Atri, putra itu disebut Datta-atreya atau Dattaatreya. Beliau melimpahkan harta agung kebijaksanaan yoga kepada Kaartaviiryaarjuna dan Yadu, para maharaja yang sangat termasyhur dan mulia."
"Pada awal zaman ini Tuhan menjelma dan hidup sebagai empat resi bocah: Sanaka, Sanandana, Sanatkumaara, dan Sanaatana. Mereka senantiasa (seperti bocah) berusia lima tahun, demikian lugu sehingga tidak mengenakan pakaian, mereka memang bersifat ketuhanan sehingga memancarkan kebijaksanaan dan kedamaian ke sekitarnya."
"Tuhan menjelma sebagai saudara kembar Nara-Naaraayana. Mereka tinggal di hutan-hutan sekitar Badri di Himalaya, melakukan tapa. Ibu mereka adalah Muurtidevi.

"Tuhan menghargai tapa Dhruva yang sangat keras, Beliau menganugerahinya karunia penampakan Beliau dalam wujud konkret dan menyucikan hidup orang tua Dhruva. Tuhan menobatkannya sebagai penguasa wilayah kutub dan menempatkannya di angkasa sebagai Bintang Kutub."
"Ketika Vena yang bejat dan jahat dikutuk serta dibinasakan oleh para resi, dan ketika tubuhnya diaduk, muncullah penguasa tertinggi yang pertama di dunia, karena Tuhan mengambil wujud tersebut. Beliau adalah Prithu, penguasa (lishvara) pertama bagi bumi (prithvii). Dengan tirakad dan kelakuannya yang baik, Prithu menyelamatkan ayahnya dari neraka. Beliau memulihkan kemakmuran dan moralitas di seluruh dunia. Beliau membangun pedesaan, kota-kota kecil dan besar di bumi, dan memerintahkan agar manusia tinggal dengan damai di situ, setiap orang melaksanakan tugas yang ditetapkan baginya dalam kerja sama yang penuh kasih dengan lain-lainnya."
"Tuhan menjelma lagi sebagai Nabhi dan Sudevi. Beliau mewujudkan diri sebagai Paramahamsa, orang bijak yang telah mencapai kesadaran diri sejati. Beliau mengajarkan obat yang paling mujarab bagi segala penyakit yaitu ketidakterikatan dan cara-cara untuk meningkatkannya."
"Kemudian Tuhan mengambil wujud sebagai yajna dalam suatu Brahma-yajna, dan karena dari leher ke atas Beliau mengenakan wujud kuda, Beliau disebut Haya-griiva " 'Berkepala kuda'. Napas Hayagriiva mewujud sebagai Weda"

"Sementara itu Weda dicuri oleh Somaka, raksasa yang licik, dan disembunyikan dalam banjir pralaya 'penghancuran besar-besaran' yang menggelora. Karena itu, Tuhan harus mengambil wujud seekor ikan dan mencari Weda di kedalaman lautan. Si raksasa dibinasakan oleh Beliau. Dengan demikian, cara-cara hidup yang digariskan Weda, dan tujuan hidup yang ditunjukkannya, Beliau tegakkan kembali di dunia ini."
"Demikianlah Tuhan telah mengenakan berbagai wujud sesuai dengan kebutuhan masa itu dan menampilkan diri dalam berbagai saat kritis yang tidak terhitung jumlahnya untuk mencurahkan rahmat Beliau kepada dunia. Beliau telah memusnahkan rasa takut dan penderitaan umat manusia; Beliau selamatkan mereka yang baik dan saleh. Kisah kedatangan Tuhan semacam itu sudah tidak terhitung lagi, maka bodohlah jika alasan yang mendorong penjelmaan Beliau itu diselidiki.

Mereka yang berusaha mengetahui atau menetapkan sebab-sebabnya mengapa Tuhan menghendaki suatu cara dan bukan cara lain, benar-benar orang bodoh yang berusaha melakukan petualangan kurang ajar; demikian pula mereka yang menyatakan bahwa kekuasaan dan rencana Tuhan mempunyai ciri khas, sifat, dan pembatasan begini atau begitu, dan mereka yang menyatakan tahu bahwa Tuhan hanya akan bertindak dengan suatu cara tertentu, atau mereka yang mengatakan bahwa prinsip ketuhanan itu bersifat begini dan tidak begitu!"
"Tidak ada yang dapat membatasi atau merintangi kehendak Tuhan. Tidak ada yang dapat membatasi manifestasi kekuasaan serta kemuliaan Beliau. Tuhan membuat segala yang Beliau kehendaki berhasil dengan baik. Tuhan dapat menampilkan diri dalam wujud apa pun yang Beliau kehendaki. Tuhan itu unik, tiada bandingnya, hanya sepadan dengan diri Beliau sendiri. Tuhanlah ukuran, saksi, dan wewenang untuk diri Beliau sendiri."
"Suatu kali Tuhan sangat terharu oleh ketulusan bakti Naarada kepada Beliau sehingga Beliau mengambil wujud hamsa 'angsa surgawi' untuk memberi pelajaran kepada Naarada. Sifat bakta, Tuhan, dan hubungan antara keduanya, Beliau uraikan agar semua peminat kehidupan rohani dapat dibimbing dan mencapai kebebasan. Kebijaksanaan dan jalan (untuk mencapainya) Beliau letakkan pada landasan yang cukup kuat sehingga dapat bertahan hingga akhir zaman, ini, tanpa khawatir akan kegagalan atau kemerosotan. Ketujuh loka Beliau buat terkenal dalam kesucian dan kecemerlangan, dengan kemasyhuran Beliau yang tak bercela."
"Pada waktu lautan susu diaduk secara besar-besaran, Tuhan mengambil wujud kura-kura untuk mengangkat Gunung Mandara yang digunakan sebagai tongkat pengaduk. Pada saat yang sama Tuhan juga mengambil wujud yang lain sebagai Dhanvantari untuk membawa wadah surgawi yang penuh amrit 'madu pemberi kekekalan'. Sebagai Dhanvantari Beliau mengajarkan berbagai cara mengalahkan penyakit sehingga manusia dapat mengobati penyakit-penyakit jasmaninya. Belai membuat banyak orang menjadi terkenal sebagai tabib dan dokter yang ahli dalam diagnosa dan pengobatan."
"Masih banyak lagi yang dilakukan Tuhan, oh Maharaja. Sebelumnya para tabib dan dokter tidak berhak menerima bagian dari sesaji yang dipersembahkan kepada para dewa dalam yajna. Dhanvantari menetapkan bahwa mereka harus diberi bagian dan dengan demikian Beliau mengangkat status mereka dalam masyarakat."
"Apakah Tuanku perhatikan permainan gaib Tuhan yang tidak dapat dipahami, ditunjukkan secara nyata dalam berbagai perwujudan ini? Tuhan! Hanya Tuhanlah yang mengetahui cara-cara Tuhan. Bagaimana lainnya dapat menduga kemuliaan dan kebesaran Beliau? Bagaimana mereka dapat mengukur hal itu dengan perlengkapan akal budi dan imajinasinya yang tidak berarti? Manusia terikat oleh belenggu ajnaana 'ketidaktahuan; mengira tubuh sebagai diri sejati' maka mereka berdebat dan berbicara panjang lebar, lama, dan keras mengenai Tuhan serta sifat Beliau, dan berkubang dalam dosa sakrilegi."
"Sebaliknya, manusia dapat memperoleh rahmat Tuhan jika ia membuang segala keraguan pada waktu melihat perwujudan Tuhan; bila citranya mengenai Tuhan tidak dicemari oleh suasana hati dan berbagai kejadian yang sifatnya hanya sepintas lalu; jika ia mengubah suasana hati dan tindakannya sendiri sesuai dengan perwujudan Tuhan yang beruntung disaksikannya." Bila ia bertindak sebaliknya, ia tidak dapat berharap memperoleh rahmat Tuhan atau mengenyam kebahagiaan jiwa."
"Di antara semua inkarnasi ini, Raama dan Krishna paling bermakna bagi umat manusia karena manusia dapat memahami teladan mereka, mengikuti cara mereka menyelesaikan berbagai persoalan, dan memperoleh kebahagiaan dengan merenungkan keunggulan serta ajaran mereka. Kedua Avatar ini telah menyemayamkan diri dalam hati umat manusia dan menerima kasih serta hormat bakti mereka. Akan saya ceritakan kepada Maharaja beberapa kejadian penting yang patut dicamkan dalam karir kedua Avatar ini

Tidak ada komentar: