Jumat, 04 Januari 2013

Bhagavatam Part 30 : Jalan yang ditempuh para Bhagavata

Kode Iklan anda yang ingin ada di sebelah kiri disini
Kode Iklan anda yang ingin ada di sebelah kanan disini


Resi Shuka membetulkan duduknya dan mulai bercerita, “Tuhan Yang Maha Tinggi dan Maha Kuasa mewujudkan diri sebagai Brahma, Vishnu, dan Maheshvara karena dorongan keinginan pramula (moha) dan sibuk mencipta, memelihara, serta melebur manca loka. Dalam segala yang mereka ciptakan, selalu ada prinsip dualisme. Ada perbedaan dan kelainan antara yang satu dengan yang lain. Bila perbedaan dan kelainan ini diselaraskan dengan bijaksana, dunia akan memiliki kebahagiaan dan kedamaian. Sebaliknya, jika makhluk hidup bertingkah laku tidak benar, dunia akan tenggelam dalam kecemasan, kesengsaraan, dan kekacauan. Bila ini terjadi, Tuhan mengambil wujud yang sesuai dan memberikan perlindungan serta perbaikan yang diperlukan. Beliau membenahi dunia yang rusak dan kacau, menyingkirkan kekuatan jahat yang menyebabkan kerusakan itu, dan mengajar umat manusia cara-cara untuk memelihara yang benar dan baik.”
“Tidak mungkinlah membatasi kebebasan Tuhan dalam mengambil wujud. Dengan tiada putusnya Beliau mengenakan aneka wujud untuk mengejawantah di dunia dan menyelamatkannya. Inkarnasi Beliau disesuaikan dengan kebutuhan dan krisis pada masa itu. Ketika bumi mengerang menderita ketidak adilan Hiranyaaksha, Beliau harus muncul sebagai babi hutan jantan. Tuhan mengambil wujud itu lengkap dengan sifat-sifatnya, walaupun pada hakikatnya Beliau tidak berwujud dan tidak bersifat. Kehendak Tuhan bersifat misterius, tidak dapat dijelaskan dengan sistem penggolongan atau (dianggap) sebagai akibat. Kehendak Tuhan berada di atas dan di luar jangkauan pemikiran serta imajinasi manusia. Kehendak Tuhan hanya dapat dipahami oleh mereka yang sudah mengenal Beliau, dan bukannya oleh mereka yang berpendidikan tinggi atau berotak tajam. Sebab dan akibat sepenuhnya saling terkait.”

“Pada suatu hari ketika Brahma sedang beristirahat sejenak di tempat duduk Beliau, dari hidung Beliau muncullah seekor babi hutan kecil mungil sebesar ujung ibu jari! Dalam senda gurau yang amat gembira, Brahma telah mengambil wujud manusia, dan Beliau tahu perihal mengapa dan untuk apanya segala sesuatu. Meskipun demikian, Beliau berpura-pura tidak tahu dan memandang babi hutan mungil itu dengan sangat heran. Sementara itu, babi hutan tersebut tumbuh makin lama makin cepat dan makin besar ukurannya sebesar katak, tikus, kucing, kemudian menjadi sebesar gajah pejantan. Brahma tersenyum sendiri melihat kejenakaannya. Dalam waktu singkat babi hutan itu tumbuh demikian besar hingga menutup bumi dan langit. Ia meluncur ke dalam lautan dan keluar lagi sambil mengangkat Dewi Bumi (yang telah menyembunyikan diri dalam air karena merasa dihina) aman dan terlindung pada taringnya.”
“Sementara itu, terdengarlah teriakan dari belakang, 'Engkau babi bedebah! Ke mana kau lari? Berhenti di tempatmu! 'babi hutan tidak memperdulikan teriakan itu; ia berjalan terus seakan-akan tidak mendengarnya. Kemudian Hiranyaaksha, pemimpin kaum raksasa yang jahat, menghadangnya bagaikan monster yang mengerikan dan menantang berduel. Berlangsunglah perkelahian yang dahsyat di antara keduanya. Menyaksikan mereka tusuk menusuk sangat mengerikan, Dewi Bumi gemetar ketakutan, tetapi babi hutan itu menghiburnya, 'Oh Dewi, jangan takut. Raksasa ini akan segera kuhabisi. Akan kujamin keselamatan dan ketenteraman Dewi dalam sekejap. 'Segera babi hutan itu menjadi sangat mengerikan dipandang. Sang Dewi resah sekali melihat duel itu. Babi hutan menubruk Hiranyaaksha dengan kekuatan yang luar biasa sehingga Dewi Bumi memejamkan mata karena seram, tidak tahan melihat wujud babi hutan yang membinasakan itu. Duel itu dilangsungkan dengan gelora kemarahan yang tidak terlukiskan, tetapi akhirnya Hiranyaaksha tercabik-cabik dan dicampakkan ke tanah.”
“Demikianlah Tuhan mengambil aneka wujud sesuai dengan keperluan situasinya. Beliau mengenakan wujud yang paling cocok untuk membinasakan Daanava yang jahat (bangsa raksasa yang busuk hati), untuk melindungi mereka yang baik dan saleh, dan untuk menjaga Weda, kitab-kitab suci yang mengungkapkan kebenaran sejati. Dengan cara ini Tuhan telah mengejawantah sebagai ikan, kura-kura, manusia-singa, dan orang cebol (Avatar Matsya, Kurma, Narashimha, dan Vaamana). Dari semua penjelmaan itu wujud Krishnalah yang teragung dan penuh kebahagiaan. Meskipun demikian, kalian harus sadar bahwa tujuan utama semua inkarnasi Tuhan adalah untuk mempertahankan darma (keadilan, kebenaran, moralitas, dan kebajikan).”
Orang yang mengajar harus memperkirakan kemampuan siswa dalam menerima pelajarannya. Akan merupakan usaha yang sia-sialah bila berusaha menyampaikan pengetahuan tertinggi kepada orang yang tarafnya paling rendah karena ia tidak akan mampu memahaminya. Demikian pula, bila pelajaran yang harus diberikan kepada mereka yang rendah tarafnya disampaikan kepada mereka yang tinggi tingkatnya, mereka tidak akan puas dengan pelajaran itu. Untuk memperjelas hal ini akan saya ceritakan kepada kalian diskusi yang pernah berlangsung antara Brahma dan Naarada. Dengarkan baik-baik!”
“Sekali peristiwa Brahma berkata kepada Naarada, 'Oh putra yang timbul dari pikiranKu!. Mencipta adalah tugasKu. Itulah caraKu memenuhi misi dan tapaKu. Aku berkehendak, maka ciptaan terjadi. Tetapi Kutetapkan peraturan dan tata cara untuk setiap jenis (ciptaan) Jika hal itu diikuti dengan baik, roda darma akan berputar dengan benar. Sebaliknya, jika peraturan serta tata cara itu diabaikan dan mereka bekerja untuk memuaskan keinginan mereka sendiri mengikuti jalur yang curang, jahat, dan sesat, mereka akan menderita berbagai kesengsaraan.”
“Siang dan malam ada karena kehendakKu. Para penguasa makhluk hidup merupakan bagian dari diriKu. Dorongan yang dimiliki manusia untuk bertambah dan berkembang biak merupakan cerminan kehendakKu. Kadang-kadang bila dunia ciptaan ini harus ditopang dan dipertahankan dari kemerosotan, Aku mengenakan nama serta wujud dan memulai Manvantara 'masa kepemimpinan seorang Manu'l Kulengkapi bumi dengan tokoh-tokoh suci serta kaum bijak waskita yang sesuai untuk memberikan teladan yang harus diikuti dan menunjukkan jalan menuju kemajuan.”
“Kuakhiri pula pertambahan makhluk yang berlipat ganda tanpa batas, jika hal itu terjadi. Untuk ini Aku pun mengenakan wujud Rudra. Kuciptakan yang jahat untuk mengangkat yang baik dan membuat mereka kelihatan mencolok. Untuk melindungi yang baik, Kutetapkan batasan-batasan tertentu untuk orang yang baik dan buruk, karena jika tidak demikian, mereka akan sesat menempuh jalan yang salah dan amat membahayakan (makhluk lain).”
“Aku selalu ada dalam segala makhluk. Orang-orang melupakan Aku yang berada di dalam dan di luar diri mereka. Aku adalah hakikat dan inti setiap makhluk, tetapi mereka tidak menyadari hal ini. Karena itu, mereka tergoda untuk menganggap dunia objektif ini sebagai nyata dan benar. Mereka mengejar kesenangan dan kenikmatan duniawi, lalu jatuh dalam kesedihan dan penderitaan. Sebaliknya, jika mereka pusatkan seluruh perhatian mereka kepada-Ku semata; percaya bahwa segala sesuatu dan setiap makhluk ada karena kehendak Tuhan, maka mereka Kuberkati dan Kuungkapkan pada mereka kebenaran bahwa mereka sebenarnya adalah Aku dan Aku adalah mereka. Ribuan orang telah memperoleh berkat itu. Mereka adalah para peminat kehidupan rohani, para pencari kebenaran, para mahaatma, kaum bijak waskita, orang-orang yang mendapat inspirasi dari Tuhan, para penjelmaan Tuhan, dan para pembimbing yang menunjukkan jalan. Mereka telah memperoleh penghayatan bahwa kebenaran adalah Tuhan.”
“Akan Kuceritakan kepada Anda sekalian tentang beberapa di antara mereka, dengarkan! Saagara, Ikshvaaku, Praachinabarhi, Rubhu, Dhruva, Raghumaaharaj, Yaayati, Maandhaathaa, Alarka, Shatadhanvaa, Dilipa, Khali, Bhiishma. Shibi, Pippalaada, Saarasvata, Vibhiishana, Hanuumaan, Mucukunda, Janaka, Shataruupa, Prahlaada, dan banyak brahmaresi, rajaresi, para pangeran, serta bangsawan yang dapat dikelompokkan dalam satu golongan, yaitu orang-orang yang saleh (Bhaagavata), mereka semua merindukan kesempatan untuk mendengarkan kemuliaan Tuhan. Mereka semua telah diberkati tanpa memandang kasta, usia, kedudukan, atau jenis kelaminnya. Di antara mereka terdapat wanita, brahmana, sudra, dan orang-orang yang tidak berkasta.”
“Akulah penyebab segala sebab. Aku abadi. Aku adalah sat, chit, aananda 'eksistensi, pengetahuan, dan kebahagiaan'. Aku adalah Hari (Vishnu) dan juga Hara (Shiva), karena Kuubah diri-Ku menjadi perwujudan itu, jika timbul kesempatan (yang tepat). Ciptaan, alam semesta, adalah proyeksi kehendak-Ku, kebenaran ini Kunyatakan kepadamu karena Kasih-Ku yang sangat mendalam kepadamu. Orang-orang lain tidak akan mampu memahami misteri ciptaan ini. Hal yang baru saja Kuungkapkan kepadamu ini dikenal sebagai ringkasan Bhaagavata.”
“Bhaagavata mencakup tiga bagian pengetahuan sebagai berikut:

1.   Kemuliaan dan kebesaran para penjelmaan Tuhan.
2.   Nama-nama mereka yang berbakti sepenuhnya kepada Tuhan.
3.   Hubungan erat antara Tuhan dengan orang-orang yang mencintai-Nya
Bila ketiga hal ini dijumpai bersama-sama, di situlah kita memiliki Bhaagavata. Segala hal yang kasat mata tidak berada di luar Tuhan. Karena itu, singkatnya, segala sesuatu adalah Bhaagavata. Segala sesuatu layak dihormati seperti itu.”
“Ketika Brahma sedang menyampaikan pelajaran kepada Naarada dengan sangat gembira, Naarada bertanya kepada Beliau dengan takjub dan amat ingin tahu, 'Tuhan, sesuai dengan petunjuk Paduka, saya menyanyikan kemuliaan Tuhan dengan tiada putusnya dan memungkinkan dunia memperoleh kebahagiaan dari hal itu. Tetapi maya yang penuh tipu muslihat dan amat kuat setiap saat dapat mengalahkan saya, menjerumuskan saya dalam kesalahan, dan menimbulkan hambatan pada misi yang saya tempuh. Adakah suatu cara agar saya dapat menghindari bencana ini? Mohon berilah saya petunjuk dalam hal ini sebagai bukti lain kasih kebapakan Paduka.”
“Brahma tertawa mendengar pertanyaan ini. Jawab Beliau, 'Nak! Perkataanmu terdengar kekanak-kanakan. Awan maya tidak dapat menggelapkan kesadaran batin orang-orang sebagai berikut.
1.   Mereka yang bersuka ria dalam kemuliaan dan keagungan Tuhan.
2.   Mereka yang tahu dan mempermaklumkan bahwa Tuhan adalah penguasa maya; pemegang kekuatan baik yang bersifat memperdayakan maupun kekuatan yang menghancurkan kesan dan pandangan yang keliru.
3.   Mereka yang melakukan berbagai perbuatan baik, dan melaksanakannya dengan iman dan bakti.
4.   Serta mereka yang selalu berusaha menegakkan kebenaran dan karena itu, pergilah tanpa takut ke mana pun juga di tiga loka ini dengan (alat musik) viina di tanganmu, bernyanyilah sebagai pernyataan bakti dan kasihmu yang mendalam kepada Tuhan. Penduduk mancaloka yang mendengarkan kidung itu dan uraian tentang misteri Tuhan serta orang-orang saleh, akan menyelamatkan diri dari lingkaran kelahiran dan kematian.”
“Karma (perbuatan manusia dan akibatnya) bersifat mengikat karena hal itu menimbulkan akibat yang harus diderita atau dinikmati. Tetapi perbuatan yang dilakukan sebagai pelayanan tanpa pamrih atau bakti sosial bebas dari kekurangan itu. Selalulah memusatkan pikiranmu kepada Tuhan, selain ini tiada cara lain untuk memalingkan pikiranmu dari kegiatan duniawi dan usaha mengejar kesenangan indera.”
Resi Shuka berkata kepada Raja, “Oh Maharaja Pariikshit, karena kebijaksanaan tertinggi ini tidak dapat disampaikan kepada semua orang kecuali mereka yang telah mencapai tingkat kemurnian dan pengertian yang tinggi, Brahma hanya mengajarkannya kepada Naarada. Sesuai dengan nasehat itu, Naarada terus bernyanyi, dan melalui lagu-lagunya ia memuja serta menyatakan kasihnya kepada Tuhan yang imanen (berada dalam kesadaran segala makhluk dan segala sesuatu) serta transenden (melampaui segala sesuatu). Ia tidak mengabaikan atau mengesampingkan pelajaran yang dianugerahkan Brahma. Tuan pun memenuhi syarat dan berhak menerima pelajaran suci ini; itulah sebabnya mengapa saya yang sulit ditemui, telah datang secara spontan langsung kepada Tuanku untuk mengisahkan Bhaagavata. Saya bukanlah penyanyi pengembara sebagaimana lazimnya. Saya tidak pernah datang menemui orang yang belum memenuhi syarat untuk mendengarkan saya. Bayangkan betapa tingginya tingkat spiritual yang telah dicapai Naarada sehingga ia memenuhi persyaratan yang diperlukan untuk menerima pelajaran mengenai sifat-sifat Tuhan yang tidak bersifat.”
Ketika Resi Shuka menilainya dengan serius seperti itu, Pariikshit menyela, “Resi Yang Agung! Brahma penguasa purwakala yang berwajah empat itu menyuruh Naarada menyanyikan Bhaagavata, demikian kata Maharesi. Kepada siapa Naarada menuturkan kisah Bhaagavata? Siapakah tokoh-tokoh yang disayang dan mendapat keistimewaan itu? Mohon ceritakan hal itu secara rinci kepada saya. “Resi Shuka menjawab, “Oh Maharaja, mengapa Tuanku begitu tergesa-gesa. Tabahlah dan kendalikan diri. Segalanya akan saya ceritakan kepada Tuan pada saatnya yang tepat. Bersikaplah tenang dan sabar.”
Raja menjelaskan, “Maharesi, maafkan saya. Saya sama sekali tidak bermaksud tergesa-gesa. Saya hanya ingin sekali agar pada saat terakhir kehidupan, dapat memusatkan pikiran saya pada senyum manis yang tersungging di bibir Sri Krishna dan ingin agar pada saat itu saya dapat mereguk dalam-dalam madu kaki suci Tuhan. Saya tidak mempunyai keinginan lain. Jika pada saat ajal saya tidak dapat memusatkan pikiran saya pada citra Tuhan yang menawan itu, pastilah saya harus lahir lagi sebagai salah satu di antara 84.000.000 jenis makhluk hidup, bukan? Karena bencana itu tidak boleh terjadi, dan karena dengan napas yang terakhir saya harus mengingat penganugerah napas yang terakhir saya harus mengingat penganugerah napas kehidupan, mohon buatlah hidup saya berarti dengan menceritakan kepada saya ciri-ciri khas serta kegiatan suci Tuhan.”
Resi Shuka tertawa mendengarnya. Kata beliau, “Maharaja! Bagaimana pikiran dapat terpusat pada kaki suci Tuhan, jika telinga mendengarkan ciri-ciri khas dan kegiatan Beliau? Apakah pendapat Tuan mengenai hal ini? Katakan kepada saya. “Pariikshit menjawab, “Resi Yang Agung, saya percaya bahwa tiada perbedaan antara Tuhan, nama Beliau, dan sifat-sifat Beliau; Benarkah itu? Bila kisah Tuhan diceritakan dan didengarkan, nama Tuhan dan sifat-sifat Beliau masuk dari telinga ke dalam hati dan melenyapkan kegelapan kebodohan, bukankah demikian? Bukankah bila singa memasuki hutan, serigala yang penakut lari dengan ekor tersembunyi di antara kedua kakinya? Pendengar yang serius pastilah akan memusatkan perhatiannya pada hal yang didengarnya melalui telinga. Pada waktu sedang terpesona mendengarkan kisah Sang Avatar yang senyum-Nya menawan dan sifat-sifat-Nya sangat memikat hati, pikiran orang itu akan melekat pada keindahan yang diperolehnya dari kisah tersebut sehingga tidak tertarik lagi pada hal-hal yang rendah dan kasar, bukankah demikian? Pada waktu itu telinga dan pikiran akan bekerja secara serentak. Hanya itulah yang akan menimbulkan kebahagiaan.”
Demikianlah dengan penuh semangat raja menyanjung-nyanjung manfaat yang diperoleh, bila manusia mendengarkan kisah kegiatan dan keagungan Tuhan dengan penuh perhatian. Resi Shuka menyela luapan kegembiraannya dan berkata, “Oh Maharaja, sifat pikiran itu tidak tetap. Bagaimana pikiran dapat membuang sifatnya dan melekatkan diri pada kaki Tuhan? Bukankah itu prestasi yang tidak mungkin?” Resi Shuka mencoba menduga perasaan yang memenuhi hati Pariikshit. Pariikshit tersenyum dan menjawab, “Resi Yang Agung, saya akan memberikan jawabnya jika Maharesi mengizinkan dan memerintahkannya. Kumbang akan terbang melayang di sekitar bunga sambil mendengung-dengung hingga ia duduk mengisap nektar dari situ. Setelah memasuki bunga dan mengecap nektarnya, ia tidak akan melayang-layang atau mendengung lagi. Ia tidak memikirkan hal-hal lain yang mengganggu kebahagiaannya. Begitu mabuknya si kumbang dengan kebahagiaan itu sehingga it tidak peduli lagi pada keselamatannya sendiri, karena ketika (pada senja hari_ daun bunga teratai menutup, kumbang membiarkan diri terkurung di dalamnya. Demikian pula, sekali pikiran manusia menetap pada kaku suci perwujudan keindahan dan kebajikan itu, ia tidak akan pernah lagi ketagihan atau menginginkan apa pun juga selain nektar kaki suci Tuhan.”

Tidak ada komentar: