Sabtu, 29 Desember 2012

Bhagavatam Part 24 : Kutukan Sringii kepada Parikshit

Kode Iklan anda yang ingin ada di sebelah kiri disini
Kode Iklan anda yang ingin ada di sebelah kanan disini


Dari Maharesi Vyaasa Parikshit mendengar uraian tentang bakti Paandava yang mendalam dan iman mereka yang teguh. Ia terharu bila mendengar betapa mereka dilimpahi rahmat Sri Krishna yang tidak terbatas. Raja demikian tenggelam dalam kegembiraan sehingga tidak menyadari siang atau pun malam! Tiba-tiba ia dibangunkan oleh kicauan burung yang indah dan suara gagak yang keras. Ia mendengar nyanyian yang biasa dikidungkan rakyatnya pada dini hari untuk menyambut para Dewa; genta tempat ibadah berdenting di sekitar istana.
Maharesi Vyaasa pun menyadari bahwa hari yang baru telah dimulai. Ia berkata, "Nak, Maharaja, sekarang saya harus pergi," dan sambil memungut kendi tempat air yang biasa dijinjingnya dalam perjalanan, beliau bangkit lalu memberkati sang raja yang bersujud di kakinya dengan amat sedih. "Aduh, fajar menyingsing begitu cepat. Saya belum memahami sepenuhnya kebesaran dan kemuliaan para kakek saya. Saya belum dapat menduga betapa mendalam bakti mereka (kepada Tuhan) dan betapa besar pengabdian mereka pada tugas serta kewajiban," ratapnya.

Direnungkannya lagi kejadian-kejadian yang telah didengarnya dan dinikmatinya keunikannya. Hatinya begitu penuh kebahagiaan yang mendalam sehingga ia tidak dapat mengalihkan pikirannya pada urusan kerajaan. Sesungguhnya ia bahkan dapat menyendiri. Diputuskannya akan pergi berburu ke hutan sebagai pilihan. Diperintahkannya agar dilakukan persiapan-persiapan untuk ekspedisi di hutan.


Segera datanglah pesuruh memberitahukan bahwa segalanya sudah siap; para pemburu dan peserta lain semuanya telah berkumpul. Dengan berat hati Pariikshit menyeret tubuhnya menuju kereta lalu duduk di dalamnya. Para pembantu dengan perlengkapan mereka bergerak maju di depan dan di belakang kereta raja sebagaimana kebiasaan mereka. Karena suatu alasan, raja merasa bahwa ia tidak perlu disertai demikian banyak pengiring, maka disuruhnya beberapa di antara mereka agar kembali.
Ketika telah pergi jauh, rombongan raja melihat beberapa kawanan binatang yang sedang berjalan; pemandangan itu membangkitkan kesigapan raja. Ia turun dari kereta dan mengendap-ngendap mengikuti kawanan binatang tersebut dengan busur terentang. Kawanan binatang itu berlari cerai berai ketakutan sedangkan para pemburu berusaha keras mengejarnya. Raja memilih sekelompok binatang yang sedang berlari sebagai sasaran buruannya lalu bergegas mengejarnya tanpa menyadari bahwa ia sendirian, terpisah dari para pengiringnya yang telah pergi mengikuti buruan lain.

Pariikshit telah berjalan jauh dan tidak berhasil memperoleh binatang apa pun. Rasa haus yang hebat mulai menyiksanya, ia sangat lelah kehabisan tenaga sehingga tidak tertahankan lagi. Dengan kalut ia berusaha mencari-cari air. Mujurlah, dilihatnya sebuah pertapaan, sebuah pondok beratapkan ilalang. Dengan penuh harap ia bergegas menuju ke tempat itu, tetapi tiada seorang pun yang terlihat! Ia berseru memanggil-manggil sekeras mungkin dengan sedih. Dengan tenggorokan yang lemah ia berseru, "Haus, haus," mengibakan. Tidak ada jawaban dari dalam pondok. Ketika Pariikshit masuk, di dalam didapatinya. Resi Shamiika sedang bermeditasi. Didekatinya pertapa itu dan dipanggilnya dengan suara mengibakan, "Tuan, Tuan," tetapi Shamiika sedang tenggelam dalam meditasi yang mendalam sehingga sama sekali tidak bereaksi.

Melihat ini sang raja menjadi jengkel dan dilanda luapan rasa gusar. Setelah tiba di sebuah pertapaan dan melihat sang pertapa, ia tetap tidak berdaya, merasa lapar dan haus. Rasa bangganya terluka karena ia adalah penguasa kawasan itu dan sang pertapa begitu berani memusatkan perhatian ke dalam batinnya sendiri (sehingga tidak mengacuhkannya) ketika ia telah datang di hadapannya dan berseru-seru memanggilnya. Pariikshit menjadi buta pada norma-norma kepatutan karena ia tidak dapat lagi mengendalikan rasa marahnya. Kakinya menginjak seutas tali di lantai; ternyata benda itu seekor bangkai ular. Hal ini menimbulkan suatu gagasan jahat dalam benaknya, benar-benar karena permainan nasib. Dikalungkannya bangkai ular itu pada leher sang pertapa yang duduk bagaikan patung tanpa menyadari kesulitan orang lain. Setelah itu ia meninggalkan pertapa tersebut dan segera pergi menjauh mencari tempat lain untuk memuaskan dahaganya dan mendapatkan makanan.

Beberapa anak laki-laki melihat Pariikshit keluar dari pondok; mereka lalu masuk ke pertapaan karena ingin tahu mengapa ia masuk dan apa yang telah terjadi di situ karena ia tampak sebagai orang asing dan busananya mewah. Mereka melihat seekor ular melingkari leher Resi Shamiika. Mereka datang mendekat untuk memeriksanya dan mendapati bahwa ular itu sudah mati. Mereka heran siapa gerangan yang telah melakukan kekurang ajaran ini. Mereka menduga pastilah itu perbuatan orang yang baru saja meninggalkan pondok pertapaan. Karena itu mereka berlari keluar dan memberitahu Shringii, putra Shamiika, yang sedang bermain dengan teman-temannya. Ia tidak mau mendengarkan kisah mereka karena berpikir tidak seorang pun akan menghina ayahnya seperti itu. Ia menyibukkan diri dengan permainannya, tetapi anak-anak lelaki itu mengulang cerita mereka dan mendesak agar ia memeriksa kebenarannya, menyaksikan sendiri keadaan ayahnya yang menyedihkan.

Shringii merasa heran atas desakan mereka dan ia khawatir peristiwa itu benar-benar telah terjadi! Ia berlari ke pondok dan mendapati bahwa hal yang tidak dapat dipercaya itu benar-benar terjadi! Ia berusaha mencari orang yang telah melakukan kekejian ini terhadap ayah yang dihormatinya. Ia diberitahu bahwa seseorang yang mengenakan jubah kerajaan telah masuk lalu keluar lagi dan sejak pagi tidak ada orang lain di sekitar tempat itu. Anak-anak lelaki itu menyimpulkan pasti orang itulah pelakunya. Mendengar ini ia berlari ke arah yang ditunjukkan oleh teman-temannya untuk mengejar orang tersebut. Tidak lama kemudian dilihatnya orang yang mengenakan pakaian kerajaan itu. Kemarahan Shringii tidak tertahan lagi. Ia berjalan pelan-pelan di belakang raja lalu memercikan segenggam air sambil mengucapkan kutuk, "Semoga ia yang mengalungkan bangkai ular di leher ayah saya, digigit ular tersebut." Anak-anak lelaki di sekelilingnya mohon agar ia tidak melakukan hal itu, meskipun demikian ia tetap melontarkan kutuknya kepada raja. Kemudian ia pulang kembali ke pondoknya, menelungkup di lantai di sudut ruang dengan kepala yang terbakar rasa marah.

"Aduh, mengapa ayah saya harus menderita penghinaan ini pada waktu saya masih hidup dan ada di dekatnya; lebih baik kalau saya sudah mati. Apa gunanya seorang putra hidup, jika ia tidak dapat mencegah seseorang menghina ayahnya?" Ia menyalahkan diri dan meratapi nasibnya dengan amat memilukan. Teman-temannya duduk di sekelilingnya dan berusaha menenangkannya, mereka maki habis-habisan pelaku perbuatan yang tercela itu; mereka berusaha menghibur si bocah yang tidak terhiburkan.
Sementara itu Resi Shamiika meninggalkan alam kebahagiaan batin dan kembali ke alam kesadaran (jaga). Ditanggalkannya bangkai ular itu dari lehernya dan diletakkannya di sampingnya. Dilihatnya putranya menangis di sudut ruang dan dipanggilnya agar mendekat. Ditanyanya mengapa anak itu menangis dan didengarnya kisah mengenai orang asing dan bangkai ular. Shamiika tersenyum dan berkat, "Orang yang malang! Ia melakukannya karena kekaburan batin dan engkau memperlihatkan kebodohanmu karena menangisi hal itu. Ayah tidak memperdulikan penghormatan atau penghinaan. Pengetahuan atma membuat manusia selalu berada dalam keadaan seimbang, tidak merasa bangga bila dipuji atau berkecil hati bila dicela. Pastilah ada orang desa yang telah melakukan gurauan bodoh ini, karena engkau masih anak-anak, engkau membesar-besarkannya seakan-akan hal ini merupakan kejahatan besar; engkau mengalami kesedihan sebesar gunung untuk masalah sepele macam bukit semut. Bangunlah dan pergilah ke tempat bermain," katanya. Didudukkannya Shringii di pangkuannya dan diusap-usapnya kepalanya dengan lembut agar kesedihannya agak mereda.

Shringii berkata kepada ayahnya, "Ini bukan gurauan orang kampung. Ini adalah sakrilegi dahsyat yang dilakukan oleh orang berselubung pakaian raja." Mendengar ini Shamiika bertanya, :Apa yang kau katakan? Seorang berpakaian raja? Apakah engkau melihatnya? Apakah raja melakukan perbuatan bodoh ini? Gagasan pandir semacam ini tidak akan pernah terlintas dalam kepala raja." Teman-teman Shringii menguatkan pernyataannya bahwa mereka juga melihat bangkai ular itu lalu kami berlari ke tempat Shringii dan membawanya ke sini. Shringii menjadi demikian marah sehingga ia meraup air sungai Kaushikii lalu memercikkannya pada orang itu yang sedang berjalan amat cepat. Pada saat itu, dengan mantra dan upacara yang tepat Shringii mengucapkan kutuk agar orang yang mengalungkan bangkai ular itu mati digigit ular tujuh hari sejak hari ini."
Resi Shamiika terperanjat mendengar berita ini; ia heran atas perbuatan putranya. Didorongnya anak yang duduk di pangkuannya itu ke lantai. "Apa! Apakah engkau mengutuk seperti itu? Aduh, dahsyatnya kutuk itu untuk kesalahan seremeh ini! Kesalahanmu tidak akan pernah dapat ditebus; engkau membawa aib pada kelompok anak-anak di sekitarmu karena engkau tidak dapat menanggung dengan sabar gurauan bodoh yang sepele seperti itu! Ayah malu mengatakan bahwa bocah seperti ini adalah putraku. Engkau tidak mempunyai ketabahan untuk menanggung penghinaan kecil semacam itu. Oh, alangkah sayangnya! Aduh, sifat kekanak-kanakanmu membawa nama buruk bagi semua resi dan pertapa; orang-orang akan berkata bahwa kita bahkan belum memiliki kesabaran dan ketabahan yang sederhana. Jangan perlihatkan wajahmu kepada ayah, melihatnya merupakan sakrilegi. Menghukum orang yang bersalah adalah tugas raja, bukan tugas pertapa di hutan. Pertapa yang mengutuk sama sekali bukan pertapa."

"Terdorong rasa rindu untuk memperoleh penampakan dan kehadiran Tuhan, pembimbing serta pelindung alam semesta, pertapa telah melepaskan segala kelekatan; ia menetap di hutan dan hidup dengan makan buah-buahan serta umbi-umbian; ia mencela segala pemuasan indra sebagai hal yang merugikan kemajuan spiritual. Bahwa kutukan mengerikan semacam itu, yang timbul dari ketidaksabaran dan egoisme, dapat timbul di lidah seorang pertapa, merupakan firasat akan datangnya malapetaka, ini menandakan terbitnya Kali Yuga, zaman ketidakbenaran, "kata Resi Shamiika.
"Aduh, alangkah besarnya dosa yang kau tambahkan pada bebanmu hari ini," ujarnya. Diuraikannya kepada Shringii dan kawan-kawannya, betapa kejinya perbuatan yang telah dilakukan anak itu.

Tidak ada komentar: