Kamis, 06 Desember 2012

BHAGAVATAM Part 10 : MISTERI DAN LEELA SRI KRISHNA



Bhima berhasil mengumpulkan keberanian. Katanya, “Kakanda, berilah saya izin, maka saya akan segera pergi ke Dwaraka lalu kembali lagi dengan cepat. Saya akan membawa informasi selengkapnya tentang segala yang telah terjadi untuk melenyapkan rasa takut Kakanda.” Pada waktu Bhima berlutut memohon izin, matahari terbenam dan pelita mulai berkelip kelip di berbagai tempat memancarkan cahayanya yang temaram.

Sementara itu seorang pengawal di gerbang utama berlari masuk memberitahukan bahwa Arjuna telah datang dan sedang menuju tempat kediaman raja. Setiap orang bangkit seakan-akan hidup lagi secara mendadak; mereka bergegas menemui Arjuna ingin sekali mendengar kabar dari Dwaraka. Arjuna masuk, muram, amat sedih dan putus asa, sedikitpun tiada kegembiraan yang tersirat pada roman mukanya. Tanpa menatap wajah saudara-saudaranya, ia bersujud di kaki Dharmaraja.      


Dharmaraja melihat tanda-tanda yang menguatkan kekhawatirannya dan ingin sekali minta keterangan lebih lanjut. Ia menanyakan kesejahteraan teman-teman dan sanak keluarga di Dwaraka. Arjuna tidak mampu mengangkat kepalanya ataupun menggerakkan kepalanya. Saudara-saudaranya melihat kaki Dharmaraja dialiri air mata Arjuna dan mereka begitu terkejut hingga diam terpaku. Dharmaraja tidak dapat mengendalikan pikirannya lagi. Ia berusaha mengangkat Arjuna, mengguncang-guncang bahunya, dan berseru dengan amat sedih di telinganya, “Adinda! Apa yang telah terjadi? Apa yang telah terjadi pada kaum Yadawa? Beritahukan hal itu kepada kami. Hati kami sudah hampir meledak. Selamatkan kami dari kesedihan yang tidak terhingga ini.”  

Arjuna tidak menjawab. Ia tidak mampu bangkit atau mengucapkan sepatah kata pun. Meskipun begitu Dharmaraja terus menghujaninya dengan pertanyaan, menanyakan tentang kesejahteraan kaum Yadawa dan lain-lainnya, menyebutkan nama-nama mereka, dan menanyakan setiap orang dari mereka secara khusus. Terhadap berondongan pertanyaan yang diajukan dengan putus asa ini pun Arjuna tidak beraksi. Ia tidak memberi tanggapan. Ia tidak mengangkat wajahnya untuk menatap kakaknya.       

“Dinda tidak perlu memberitahukan semuanya kepada kami, tetapi ini harus Dinda ketakan, Waasudewa menyuruh Dinda mengatakan apa kepada kami, apakah pesan Beliau bagi kami; beritahukan itu kepada kami,” Dharmaraja memohon. Arjuna tidak dapat menanggungnya lebih lama lagi. Kesedihan yang selama ini ditahannya membanjir keluar sepenuhnya. “Kita sudah tidak memiliki Waasudewa lagi. Oh, kita menjadi yatim piatu. Kita tidak dapat menahan Beliau, kita tidak punya nasib baik lagi,” katanya, lalu terseungkur di lantai terisak-isak. 

Sahadewa memahami situasi itu dan segala kemungkinannya lalu menutup semua pintu yang menuju ke balairung istana; ia berusaha meredakan kesedihan kakaknya.       

 
“Aduh, alangkah malangnya tetap hidup untuk mendengar berita ini! Oh nasib, mengapa dunia kau perlakukan sekejam ini?” ratap Pandawa bersaudara. “Bhagawan, mengapa Paduka tinggalkan Pandawa seperti ini? Mengapa Paduka putuskan ikatan ini? Kami masih hidup untuk mendengar berita ini; ini merupakan akibat kumpulan dosa selama banyak generasi.” Mereka bertanya dan menegaskan. Setiap orang tenggelam dalam kesedihan dan keputusasaannya sendiri. Balairung itu diliputi kesunyian yang mendekam.   

Dharmarajalah yang pertama dapat mengatasinya. Sambil manghapus air matanya yang merebak, ia bertanya kepada Arjuna dengan nada memelas, “Apakah Dinda mengetahui keadaan orang tua Beliau, Nanda dan Yasoda, serta kaum Yadawa yang lain? Ceritakan kepada kami tentang mereka. Pastilah mereka amat sedih karena berpisah dengan Krishna. Bila kita pun sesedih ini, bagaimana pula dengan mereka? Pastilah mereka tenggelam dalam keputusasaan yang tidak terhingga. Bagaimana mereka dapat bertahan hidup? Mengapa menyebutkan orang-orang tertentu? Pastilah seluruh kota Dwaraka telah tenggelam dalam lautan kesedihan yang tidak terhiburkan.”        

Dharmaraja terisak-isak sedih ketika membayangkan aneka kejadian yang diperkirakannya. Melihat kakaknya dalam keadaan ini, Arjuna berkata, “Kakanda, penduduk Dwaraka jauh lebih mujur daripada kita. Kitalah yang paling sial. Hanya kitalah makhluk-makhluk tegar yang tetap bertahan menghadapi goncangan berita kepergian Waasudewa dari dunia ini. Lain-lainnya bahkan telah meninggalkan alam ini sebelum berita tentang kepergian Beliau tiba.”Mendengar ini Dharmaraja berseru. “Hari, Hari, oh Tuhan! Apa yang Dinda katakan tadi? Bencana apakah ini? Saya sama sekali tidak mengerti…Apakah laut pasang dan menelan Dwaraka? Atau adakah gerombolan bangsa barbar liar yang menyerbu, menaklukkan kota itu, dan membantai warganya? Arjuna, katakan kepada kami apa yang terjadi. Akhirilah dugaan-dugaan menakutkan yang menimbulkan bayangan mengerikan dalam benak kami,” Dharmaraja memegang tangan Arjuna dan menengadahkan wajahnya, berusaha agar Arjuna menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

Arjuna berkata, “Tidak. Tidak ada laut yang mengganas dan menelan Dwaraka; tidak ada penguasa yang memimpin pasukannya menyerang kota itu. Kejahatan dan kekejian tumbuh liar dan menggila di antara kaum Yadawa sendiri, menimbulkan pertengkaran serta kebencian sedemikian rupa sehingga mereka saling menghabisi dengan senjata mereka sendiri.” Dharmaraja bertanya kepadanya, “Arjuna, pastilah ada suatu kekuatan dahsyat yang mendorong suku bangsa Yadawa, muda dan tua, untuk mengorbankan diri mereka dalam pembasmian besar-besaran ini. Tidak ada akibat yang dapat terjadi tanpa sebab, bukan?”, dan ia menunggu untuk mendengar Arjuna memaparkan secara rinci apa yang sebenarnya telah menyebabkan pembantaian itu.       

Arjuna diam sejenak untuk mengatasi kesedihan yang menggelora dalam dirinya, kemudian mulai menceritakan kejadian-kejadian tersebut. Ketiga saudaranya yang lain mendekat dan mendengarkan kisah tragis itu. “Pada hari itu saya mendapat pelajaran bahwa peristiwa yang paling kecil pun tidak dapat terjadi jika tidak dikehendaki oleh Waasudewa. Saya menjadi yakin sepenuhnya akan hal ini. Beliaulah sutraadhari, dalang yang menggerakkan wayang-wayang dan membuat mereka memainkan perannya, tetapi Beliau ikut duduk di antara penonton dan berpura-pura tidak mengetahui jalan cerita, kisah, ataupun para pelakunya. Para pemain tidak dapat menyimpang sedikitpun dari perintah Beliau. Kehendak Beliau memimpin dan menentukan setiap gerakan dan sikap. Aneka emosi dan kejadian di panggung (dunia) tempat drama itu dimainkan, mempengaruhi hati para pemirsanya, tetapi hal itu sama sekali tidak mempengaruhi hati sang sutraadhari.”

“Beliaulah yang menentukan apa yang harus dikatakan oleh orang ini atau apa yang harus dilakukan oleh orang itu dan Beliaulah yang menggerakkan mereka sehingga mengucapkan perkataan dan melakukan perbuatan yang sesuai. Dan akibat-akibat karma yang dilakukan serta diwarisi setiap individu dari berbagai kehidupannya yang lampau juga ikut menyumbangkan bagiannya pada nasib ini. kaum Yadawa yang merupakan sanak keluarga kita sendiri adalah pribadi-pribadi yang bersifat spiritual dan penuh bakti kepada Tuhan, kalian semua tahu betul mengenai hal ini. Mungkin dahulu ada beberapa resi yang pernah mengutuk mereka; atau barangkali dahulu mereka pernah melakukan suatu dosa yuang mengerikan…Jika tidak demikian, bagaimana kita dapat menjelaskan kekacauan yang mendadak dalam sejarah mereka, tragedi yang tidak terduga ini?”

 
“Mereka menyelenggarakan upacara pengurbanan yang indah dan mulia di Prabhasakshetra selama tujuh hari penuh. Yajna itu dirayakan dengan cara dan kemegahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Persembahan terakhir pada api suci dituangkan dengan kemuliaan upacara Weda yang sejati dalam kehadiran Bhagawan Sri Krishna sendiri, kemudian para pendeta dan peserta Yajna melakukan upacara mandi dalam air suci. Setalah itu para brahmin menerima persembahan Yajna yang merupakan bagian mereka dan mereka juga membagikannya kepada kaum Yadawa. Segala sesuatu berlangsung dalam suasana sangat tenang, penuh kegembiraan dan kepuasan batin.”    

Menjelang tengah hari, makanan dihindangkan kepada para brahmin; setelah itu kaum Yadawa duduk dalam barisan yang panjang untuk ikut menyantap hidangan pesta. Dalam pesta, karena nasib buruk, ada beberapa Yadawa yang terlalu banyak minum minuman keras. Mereka menjadi demikian mabuk sehingga keliru menganggap kaum kerabatnya sendiri sebagai musuh. Mereka mulai bertengkar dan menjadi makin ganas hingga berkelahi dengan amat ganasnya. Kejadian ini pasti sudah ditakdirkan Tuhan karena betapapun keji dan tegarnya seseorang, ia tidak akan membantai anak-anak dan orang tuanya dengan tangannya sendiri. Oh, alangkah mengerikan! Dalam perkelahian massal yang terjadi, anak laki-laki menghabisi ayahnya, ayah menghabisi putranya, saudara laki-laki membantai saudara laki-laki, menantu laki-laki membunuh ayah mertua, ayah mertua membunuh menantu laki-laki dalam suatu kegilaan yang penuh kebencian membabi buta hingga tiada seorang pun yang masih hidup!” Arjuna tidak mampu lagi melanjutkan bicaranya; ia bersandar di dinding dan menekan kepalanya dengan kedua tangannya karena terasa hampir meledak, terlalu penuh dengan penderitaan dan kesedihan.

Dharmaraja mendengarkan kisah ini dengan kesedihan yang mendalam dan rasa heran. Diletakkannya tangannya pada punggung Arjua sambil berkata, “Apa yang Dinda tuturkan ini? Cerita yang sulit dipercaya. Karena lidah Adinda tidak akan pernah mengucapkan hal yang tidak benar, saya terpaksa mempercayai kebenarannya; atau kalau tidak, bagaimana kita dapat membayangkan perubahan karakter yang mendadak dan pembunuhan massa secepat itu? Dimanapun juga belum pernah saya melihat atau mendengar persahabatan yang demikian karib seperti yang tampak pada kaum Yadawa. Selain itu, mereka tidak menyimpang sedikitpun dari jalan yang ditunjukkan bagi mereka oleh Sri Krishna. Mereka tidak akan meninggalkan jalan itu walau dalam kemarahan yang luar biasa. Bahwa orang-orang semacam itu, dalam kehadiran Sri Krishna, bisa mengabaikan segala kaidah tingkah laku yang baik dan saling menyerang sampai mati, sungguh aneh sekali; kejadian semacam itu hanya dapat berlangsung bila dunia sudah akan kiamat.”

“Arjuna, tidak dapatkah Krishna menghentikan perkelahian itu dan menasehati mereka agar tidak meneruskannya? Apakah Beliau berusaha mendamaikan pihak-pihak yang bertikai dan mengirim mereka pulang kembali? Bukankah Krishna adalah pakar terbesar dalam seni perang dan damai? Bahwa Beliau tidak berusaha mencegah tragedi ini membuat saya makin heran mendengar kisah kebinasaan yang mengerikan itu.”  

Dharmaraja tenggelam dalam kesedihan; ia duduk bertopang dagu dengan tangan ditumpangkan pada lututnya, pandangannya dikaburkan oleh air mata yang terus menerus meleleh di pipinya. Arjuna berusaha menghiburnya, “Maharaja! Kakanda mengetahui kemuliaan dan rahmat Krishna, tetapi Kakanda mengajukan berbagai pertanyaan dan merasa ragu apakah Beliau melakukan hal ini atau hal itu; Jawaban apa yang dapat saya berikan? Nasib kaum Yadawa sama dengan nasib suku kita sendiri. Tidakkah kita dan Kaurawa merupakan saudara? Pada kedua belah pihak kita mempunyai kerabat yang merupakan teman baik, dan kita memiliki Shyamasundara (Krishna) ini juga di antara kita, meskipun demikian kita harus mengalami perang Kurukshetra. Tidak dapatkah kita memahami bahwa peperangan ini tidak akan terjadi jika Beliau memang berkehendak demikian? Seandainya demikian, empat juta prajurit yang gugur di medang pertempuran tidak akan tewas, bukan? Apakah kita pernah mempunyai keinginan untuk menguasai negeri ini setelah menumpas mereka semuanya? Tidak ada apapun yang dapat terjadi tanpa pernyataan perintah Beliau. Tidak seorang pun dapat menentang kehendak Beliau atau bertindak melawan perintah Beliau.”      

 
“Dunia ini merupakan pentas dan di situ setiap orang memainkan peran yang telah diberikan Tuhan kepadanya, di situ setiap orang berjalan kian kemari dengan congkak selama waktu yang Beliau tetapkan dan setiap orang pasti harus menaati perintah Beliau tanpa ragu. Mungkin kita berpikir dengan bangga bahwa kita telah menaklukan ini atau itu, tetapi sebenarnya segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendak Beliau.”

Ketika Arjuna mengakhiri bicaranya, Dharmaraja berpikir keras-keras, “Arjuna, banyak alasan yang menyeret kita ke kancah perang Mahabharata. Kita telah berusaha sedapat dapatnya, melakukan diplomasi dan cara-cara damai untuk memperoleh kembali kerajaan kita, status kita, dan apa yang menurut hukum merupakan hak kita. Kita sering dihina dan dipermalukan, tetapi kita tanggung semuanya dengan sabar. Kita harus mengembara di hutan sebagai orang buangan. Dengan rahmat Tuhan kita selamat dan dapat lolos dari berbagai persekongkolan untuk membunuh kita. Mereka mencoba meracuni kita dan membakar tempat tinggal kita. Mereka melecehkan permaisuri kita di depan umum. Mereka menghancurkan hati kita dengan perlakuan-perlakuan buruk yang sudah diatur dan direncanakan dengan baik.”

“Sekalipun demikian, hanya ada tiga alasan yang menyebabkan terjadinya pertempuran akhir di mana pun juga yaitu : harta, kekuasaan, dan wanita. Tetapi ambilah contoh kaum Yadawa. Mereka tidak mempunyai alasan semacam itu untuk bertengkar dan saling menghabisi. Tampaknya takdirlah satu-satunya penyebab utama hingga terjadi kekalutan dan bencana mengerikan yang mendadak itu.”

Kaum Yadawa hidup dalam kemewahan. Mereka tidak kekurangan pangan atau harta. Dan istri-istrinya? Mereka merupakan teladan kebajikan, kesetiaan dan kebaktian. Mereka tidak pernah menentang keinginan atau perintah suaminya. Mereka tidak dapat mendatangkan aib atau rasa malu kepada suaminya dari segi manapun juga. Jadi bagaimana mungkin pertikaian dan perkelahian yang memusnahkan kedua belah pihak timbul secara mendadak di antara mereka?”

Arjuna menjawab, “Kakanda terkasih. Kita melihat keadaan luarnya saja, proses yang mengakibatkan terjadinya peristiwa terakhir, dan dalam kekaburan batin kita mengira bahwa kumpulan sebab itulah yang menimbulkan akibat-akibat tersebut. Kita menduga jenjis emosi dan perasaan dari perkiraan kita mengenai aneka peristiwa. Tetapi keadaan, kejadian, emosi, dan perasaan, semuanya hanyalah alat dalam tangan Beliau untuk memenuhi kehendak dan tujuan Beliau. Bila saatnya tiba, Beliau menggunakan semua itu untuk rencana Beliau dan menumbulkan perkelahian yang Beliau kehendaki. Beliau adalah pengejawantahan kala atau waktu.”      

“Beliau datang sebagai penguasa waktu dan dengan menyelesaikan ceritanya, Beliau mengakhiri drama itu. Yang mendatangkan kelahiran juga mendatangkan kematian. Beliau menemukan alasan bagi keduanya dalam intensitas yang sama. Apakah kita berusaha mengetahui mengapa ada kelahiran? Jadi, kenapa berusaha mengetahui kenapa ada kematian? Kematian terjadi; cukuplah itu. Usaha untuk mengetahui sebabnya merupakan pekerjaan yang mubazir.”      

“Beliau menyebabkan makhluk menciptakan makhluk dan Beliau menyebabkan makhluk menghabisi makhluk. Tubuh lahir, tubuh mati; tidak ada yang lebih serius terjadi pada kelahiran dan kematian. Hal ini telah sering diajarkan kepada kita oleh Waasudewa. Jadi mengapa kita merasa ragu atau kehilangan keberanian mantap yang selama ini telah Beliau berikan kepada kita?”   

“Mungkin Kanda berkata bahwa tidak adillah jika Beliau yang menyebabkan kita lahir akan menjadi orang yang menghabisi kita. Diantara kelahiran dan kematian, manusia juga mempunyai kemampuan untuk memperoleh punya dan papa ‘pahala’ serta ‘dosa’, dan ini ada pengaruhnya pada berbagai jalan serta arah peristiwa. Dalam batas-batas ini Tuhan memainkan permainan sepak bola dengan kelahiran, kematian, dan kehidupan.”    

“Kelahiran dan kematian adalah dua tebing yang terjal dan diantaranya mengalirlah sungai kehidupan. Kekuatan keyakinan pada atma (atmashakti) merupakan jembatan yang menghubungkan kedua tebing itu. Mereka yang telah mengembangkan kekuatan dan keyakinan itu tidak akan mencemaskan datangnya banjir. Dengan atmashakti sebagai penopang yang aman, mereka dapat menghadapi segala bahaya dan mencapai seberang. Oh Maharaja, semua ini hanyalah pertunjukan wayang akbar yang dimainkan oleh Dalang Agung. Suku Yadawa hari ini, seperti kaum Kaurawa kemarin, tidak mempunyai individualitas sendiri; tidak ada gunanya menyalahkan keduanya.”        

 
“Dapatkah tubuh material yang terbentuk dari lima anasir ini – tanah, air, api, udara dan eter – bergerak atau bertindak tanpa dorongan Beliau? Tidak. Permainan Beliaulah membuat yang satu lahir dari yang lain menyebabkan yang satu mati karena yang lain. Jika tidak demikian, bagaimana Kanda dapat menjelaskan fakta tentang ular yang bertelur dan mengeraminya agar menetas, tetapi kemudian memakan anak-anaknya yang baru lahir itu. Meskipun demikian, induk ular hanya memangsa mereka yang waktunya telah berakhir, dengan kata lain, ia tidak menelan semua bayi ular. Ikan yang hidup di air terjerat dalam jala bila masa hidup mereka telah berakhir; bahkan ikan kecil dimakan oleh ikan besar dan mereka, pada gilirannya, dimangsa oleh ikan yang lebih besar lagi. Ini adalah hukum Beliau. Ular memakan katak, burung merak memangsa ular itu, ini permainan Beliau. Siapa yang dapat menyelidiki sebabnya? Sebenarnya setiap pertistiwa yang terjadi merupakan keputusan Balagopala ini” (Balagopala ‘bocah angon’ adalah julukan Sri Krishna pada masa kanak-kanak Beliau).   

“Kita tidak mengerti misteri permainan Beliau. Kita tidak mampu memahaminya. Tidak ada gunanya mencemaskan ketidaktahuan itu sekarang. Dengan mengenakan tubuh manusia yang membuat kita terkelabui itu Beliau bergerak dengan kita, bergaul dengan kita, bersantap bersama kita, dan berperilaku seakan-akan Beliau adalah kerabat atau teman karib yang mengharapkan kebaikan kita, sahabat serta pembimbing, dan Beliau telah menyelamatkan kita dari berbagai ancaman berncana yang akan tertimpa. Beliau melimpahkan anugerah-Nya kepada kita dan membantu kita menyelesaikan masalah paling sulit yang tidak terpecahkan dengan cara amat sederhana.” 

“Selama ini, ketika Beliau dekat dan mengasihi kita, kita merasa sombong karena merasa mendapat rahmat Beliau. Kita tidak berusaha mengisi diri dengan kebahagiaan tertinggi itu dan menyelami aliran rahmat Beliau sedalam-dalamnya. Kita hanya meminta bantuan Beliau untuk memperoleh kemenangan duniawi dan keuntungan yang fana. Kita mengabaikan harta tak terhingga yang seharusnya kita isikan penuh-penuh ke dalam hati kita. Kita tidak pernah merenungkan kenyataan Beliau yang sesungguhnya.”      

“Beliau menjaga kita seakan-akan kita adalah kelima daya hayati (pancaprana) Beliau. Beliau tampil untuk menolong dan membimbing kita dalam segala usaha, betapapun remehnya, dan Beliau menyelesaikannya bagi kita. Kakanda, apa yang akan saya katakan? Mungkin kita akan lahir lagi berkali-kali tetapi tidak akan dapat lagi memperoleh sahabat dan kerabat seperti Beliau. Dari Beliau saya telah menerima kasih yang jauh lebih mendalam daripada kasih Ibu, kasih yang tidak dapat diberikan oleh ibu mana pun juga.”    

“Pada berbagai kesempatan Beliau menanggung beban Pandawa bagaikan beban Beliau sendiri, dan untuk meringankan kita dari kesulitan itu, Beliau biasa merencanakan berbagai tindakan dalam sekejap, kemudian melaksanakannya hingga akhirnya sukses. Karena rahmat Beliaulah, maka kita Pandawa dapat bertahan hidup di dunia hingga sat ini.”        

“Mengapa mengulang seribu hal secara terpisah? Setiap titik darah yang mengalir dalam nadi ini tidak lain adalah tetesan hujan rahmat Beliau. Setiap otot adalah gumpalan kasih Beliau; setiap tulan dan tulan rawan adalah bagian dari belas kasih Beliau. Karena tidak mampu memahami rahasia ini, kita berjalan kian kemari dengan pongah dan membual dengan bangga, saya telah mencapai ini dan menyelesaikan pekerjaan itu. Sekarang jelaslah bagi kita bahwa tanpa Beliau kita ini hanyalah kantong-kantong kulit.”      

“Tentu saja nasib semua manusia sama. Mereka lupa bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Tahu, dan Maha Besar bermain dengan mereka seperti dalang yang memainkan wayang. Mereka mengira bahwa merekalah pelaku sejati atau merekalah yang benar-benar menikmati. Seperti saya, mereka tenggelam dalam kekaburan batin karena tidak mengetahui kebenaran yang mendasari segalanya. Bila kita, para perwira dan pahlawan kenamaan, berada dalam keadaan yang menyedihkan ini, bagaimana pula halnya dengan rakyat jelata yang tidak memiliki kesempatan untuk menyadari jnana pengetahuan kesunyataan ini?” 

“Ini terbukti dalam peristiwa sedih yang saya alami di jalan,” kata Arjuna. Ia terkulai lemas lalu bersandar pada kursi di belakangnya karena tidak mampu menanggung pedihnya perpisahan dengan Sri Krishna, pembela dan pembimbingnya seumur hidup. 

Bersambung kebagian ..."Amanat Sri Krishna untuk Arjuna"

Tidak ada komentar: