Tampilkan postingan dengan label Understanding. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Understanding. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Agustus 2014

Permohonan Sri Vishnu kepada Mahadeva.



Beliau adalah Deva yang paling agung sehingga nama lainnya adalah Mahadewa. Tetapi penampilannya sungguh tidak mencerminkan keagunganNya. Dewa Siva mengolesi seluruh tubuhnya dengan abu mayat, berpakaian kulit binatang, berkalung dan bergelang ular cobra, menghias tubuhnya dengan tulang belulang dan kadang kala untaian tengkorak manusia melingkar dileher Beliau. Dengan kata lain, Dewa Siva berpenampilan sungguh nyentrik. Mengapa demikian? Padma Purana Uttara-Khanda Bab 235-236 menjawab dengan penuturan cerita dialog antara Dewa Siva sendiri dengan istrinya, Dewi Parwati.

Dewi Parwati berkata, Junjunganku, anda pernah memberitahu saya agar seseorang menghindar bicara dengan pasandi, orang asurik yang atheistic. Jika bicara dengannya, maka itu akan lebih buruk daripada berbicara dengan orang candala, orang buangan amat kotor dan hina. Mohon beritahu hamba, bagaimana tanda-tanda orang pasandi dan ciri-ciri fisik yang nampak pada dirinya.
Dewa Siva menjawab, orang-orang yang diliputi kebodohan menyatakan Deva lain siapapun lebih tinggi kedudukannya dari Visnu, Sang Penguasa Jagat, mereka inilah disebut pasandi, orang orang brahmana yang tidak mengenakan tanda dan simbul seperti sanka, cakra dan tilaka pada dahinya, mereka inilah disebut pasandi. Orang brahmana yang tidak menuruti Sastra, tidak memiliki bakti kepada Tuhan, orang yang berperilaku menurut kemauannya sendiri, dan menghaturkan persembahan ke dalam api korban suci (yajna) untuk memuja dewa-dewa selain Tuhan Yang Maha Agung, Sri Visnu, juga disebut pasandi. Sebab Sri Visnu-lah penikmat segala persembahan yajna dan pujaan para brahmana. Mereka yang menganggap Sri Visnu setingkat dengan dewa-dewa lain seperti Brahma dan saya sendiri Rudra, harus selamanya dianggap pasandi.

Jumat, 25 Juli 2014

SERIAL MAHADEVA , TAYANGAN SYIRIK ?

Serial Mahadeva yang menempatkan Dewa Shiva sebagai Tuhan, jelas-jelas bertentangan dengan hukum qur’an yang tidak memperbolehkan penganutnya untuk menyembah sosok lain sebagai yang Maha besar, atau dengan istilah lain bahwa penganut qur’an tidak dibolehkan sama sekali untuk mempersamakan Allah dengan apapun juga yang diciptakan-Nya, apalagi sampai memberikan doa pujian atau persembahan yang sama seperti apa yang diberikan kepada Tuhan dalam nama Allah, sebab itu bisa dikatagorikan sebagai perbuatan “Syirik” yang bisa berakibat hilangnya pahala dari semua kebaikan sebagaimana  Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala. "yang artinya : Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi"[Az-Zumar: 65]



Jumat, 21 Maret 2014

Ogoh-ogoh bukan Pornografi apalagi pelecehan terhadap simbul Hindu.




Entah apa yang menjadi misteri atau Taksu apa yang menjiwai sehingga pembuatan boneka raksasa yang di Bali dikenal dengan nama Ogoh-Ogoh itu begitu menenggelamkan pikiran banyak orang untuk menekuninya sampai-sampai mereka rela mengesampingkan hal lainnya hanya demi sebuah kreatifitas seni dalam wujud pembuatan Ogoh-Ogoh. Memang hal serupa tidak hanya ada di Bali saja. Di daerah lain seperti Betawi juga ada gambaran yang sama yang dikenal dengan nama Ondel-Ondel. Dan di India, tradisi membuat serta mengarak boneka raksasa ini juga ada dan sangat meriah pada saat perayaan Ganesha Caturiti. Namun ritual Ogoh-Ogoh dengan ritual pada Ganesha Caturiti jelas menjadi sesuatu yang berbeda sebab dalam pembuatan Ogoh-Ogoh yang dikaitkan dengan Upacara tawur kesanga untuk perayaan Hari raya Nyepi, boneka raksasa itu dibuat dengan penggambaran Bhuta kala (Asura) dengan ciri khas wajah yang seram, kuku panjang, rambut terurai serta hal lain yang menjadi pembeda dengan peradaban manusia. Sedangkan untuk Ganesha Caturiti, boneka raksasa yang dibuat pada saat itu hanyalah dalam wujud Dewata Sri Ganesha, sebagaimana sejarah dari hari raya itu yang dimaksudkan sebagai hari kemunculan Sri Maha Ganesh (Putra dari Dewa Shiva dengan Saktinya Gauri Dewi).

Sampai saat ini belum ada kepastian sejarah tentang awal mulanya kegiatan pembuatan ogoh-ogoh ini, apakah ada kaitannya dengan perayaan Ganesha Caturiti di India ataukah tidak, namun beberapa sumber mengatakan bahwa besar kemungkinan tradisi ogoh-ogoh ini berkaitan dengan beberapa tradisi lama masyarakat Hindu Bali semisal Tradisi Barong Landung yang mengisahkan tentang seorang putri Dalem Balingkang, Sri Baduga dan pangeran Raden Datonta yang menikah ke Bali. Yang mana pada saat itu ada tradisi meintar dan mengarak dua boneka yang berwujud laki-laki dan wanita mengelilingi desa tiap sasih keenam sampai kesanga, Tradisi lainnya yang bernama “Ndong Nding” semacam tradisi pengusiran hama di Karangasem, yang  menggunakan lelakut, semacam orang-orangan sawah. Dimana hama yang diibaratkan sebagai sang bhuta kala dengan aspeknya sebagai energi negatif yang mengganggu manusia sehingga perlu diwujudkan untuk kemudian dilebur juga seringkali dikaitkan dengan tradisi ogoh-ogoh sekarang ini

Rabu, 01 Januari 2014

Abhiseka Lingga bagian dari Pallic Worship ?



Bagi sebagian besar masyarakat Hindu utamanya yang menganut paham Shiwaistik, maka pemujaan kepada Lingga yoni sebagai perlambang dari Shiva beserta sakti beliau adalah merupakan hal yang umum. Terlebih jika ada perayaan khusus untuk memuja personifikasi Tuhan dalam aspeknya sebagai pengembali (recycle) semua unsure pembentuk alam semesta ini. Mahashivaratri atau perayaan puncak dari semua malam Shiva (sehari sebelum bulan mati) adalah sebuah kemeriahan puja dimana banyak orang akan melakukan pemandian atau Abhiseka terhadap bentuk Lingga dan yoni ini.

Beberapa orang mengindikasikan bahwa Lingga dan Yoni merupakan miniature dari alat kelamin laki-laki (Purusha) dan alat kelamin perempuan (Prakriti) sehingga dari pertemuan keduanyalah kehidupan bisa terjadi. Sehingga Shiva dan Parvathi juga dikenal sebagai Bapak Ibu Ilahi, asal muasal semua kehidupan di bhumi. Jadi pemujaan kepada simbul ishvara ini bisa jadi merupakan wujud rasa terima kasih kita kepada Tuhan yang telah memberikan kesempatan kepada sang Jiwa untuk mendapatkan badan manusia guna berkarma agar lebih bisa meningkatkan kwalitas kehidupannya dari tingkat Manava kepada tingkatan Madhava. Sebab hanya dalam kelahiran sebagai manusia di Bhumi, sang jiwa memperoleh kesempatan untuk berbenah dan juga merasakan cinta kasih sosok Ilahi yang memunculkan diri-Nya sebagai Avatara. Mengingat di berbagai loka lainnya, kesempatan yg sama untuk mendapatkan Dharsan, Sparsan, ataupun Sambhasan ketika Tuhan hadir adalah sesuatu yang sangat sulit.

Senin, 09 September 2013

Sai Baba adalah Tuhan Sri Rama



Menyingkap Mimpi seorang Jairo Borjas  

“Bilamana Aku muncul dalam mimpi, itu berarti untuk menyampaikan sesuatu pada seseorang dan bukannya sekedar mimpi belaka sebagaimana umumnya dikenal atau diketahui. Jangan berpikir atau beranggapan bahwa kejadian yang engkau alami dalam mimpimu itu, hanyalah khayalanmu semata. Aku memberikan jawaban atas semua keragu-ragauanmu. Benar-benar Aku sendirilah yang datang dan karena kehendak-Ku-lah mimpi itu terjadi. Mimpi yang berhubungan dengan Tuhan adalah asli. Engkau melihat Aku dalam mimpi, Aku mengijinkan engkau ber-Namaskaram, Aku memberkati dirimu, Aku menganugerahimu. Hal ini benar adanya karena terjadi atas kehendak-Ku dan sebagai jawaban atas sadhana yang engkau lakukan selama ini. Jika Tuhan atau Gurumu muncul di dalam mimpi, pastilah hal itu karena hasil dari sankalpa, bukan karena sebab lain yang menyebabkan mimpi itu. Hal ini tidak pernah terjadi karena keinginanmu. Tidak seorangpun bisa bermimipi atau memimpikan AKU, kalau tidak Ku-kehendaki, semut pun bergerak atas kehendak-Ku”.    
Bhagawan Sri Sathya Sai Baba       

Jairo Borjas berasal dari Venezuela dan telah menjadi bakta Sai sejak tahun 1988. Ia sudah menjadi seorang bakta yang aktif di Sai Senter Orlando, Kolombia, Meksiko dan Venezuela, serta memegang jabatan yang berbeda di dalam Organisasi Sai. Ia telah melakukan kunjungan ke Ashram prashanti Nilayam beberapa kali. Tahun 1997-1998, ia menetap di Ashram selama setahun, seperti yang diperintahkan oleh Swami sendiri saat wawancara dengannya. Saat ini, ia tinggal di Bogota, Kolombia.   

Pada tanggal 29 April 2012, ia bermimpi indah bersama Swami- Bhagawan Sri Sathya Sai Baba; dalam pada itu, Swami menginstruksikan Jairo Borjas untuk menyebarluaskan berita penting di kalangan para bakta Sai, bahwa suatu kejadian/peristiwa luar biasa istimewa dalam sejarah umat manusia akan segera terjadi tidak lama lagi! Berikut adalah kutipan dari versi yang diterjemahkan dari narasi aslinya dalam bahasa Spanyol. (terima kasih kepada Sri Ana Diaz-Viana dari San Jose yang telah menerjemahkannya dari narasi aslinya yang berbahasa spanyol ke bahasa Inggris. Ana Diaz adalah teman baik Jairo Borjas dan Sreejith Narayan)    

Tadi malam, sebelum tiba di rumah, aku mulai merasa, suara Swami menyuruhku agar supaya mempersiapkan diri, untuk menyambut suatu peristiwa penting yang akan segera terjadi tidak lama lagi. Suara itu terus bertanya padaku "Apakah engkau siap?", "Apakah engkau sudah bersiap-siap?" Kemudian suara itu, yang awalnya membuatku takut, menjadi semakin kuat dan nyaring. Aku tidak ingin pulang karena aku tidak tahu bagaimana caranya menjawab pertanyaan itu. Jadi, aku mulai melantunkan Mantra Gayatri sambil mengatakan kepada Swami, bahwa aku sebagai anak-Nya, adalah layak untuk mendapatkan semua cinta-Nya dan perlindungan-Nya, dan aku selalu siap sedia untuk-Nya, dan bahwa imanku pada-Nya, seperti Bapaku yang penuh kasih dan Tuhan senantiasa melindungi diriku. Tapi suara itu masih semakin kuat saja, dan kemudian, aku menjadi semakin yakin, bahwa suara itu dimaksudkan untuk mempersiapkan diriku menyambut serta menerima sesuatu yang agung dan luar biasa.    

Setelah aku sampai di rumah, aku mulai bekerja seperti biasanya sebelum berangkat tidur. Karena terlalu lelah, aku tidak bisa melanjutkan pekerjaanku, dan kemudian jatuh tertidur sambil melantunkan Mantra Gayatri. Swami datang dalam mimpiku dengan sangat jelas dan gamblang. Dalam mimpi itu, aku bersama dengan murid-muridku dari Sai Spiritual Education (Pendidikan Spiritual Sai), salah satu dari murid-murid tersebut bernama Narada,yang sesungguhnya merupakan keturunan dari salah seorang Resi agung, demikian Swami menjelaskan. Kemudian Swami,yang tampak sangat anggun dan bak remaja belasan tahun, menghampiri kami sambil melambaikan tangan-Nya. Beliau memberi kami Padnamaskar (menyentuh Kaki padma Tuhan), hebatnya, kejadian itu merupakan suatu pengalaman yang begitu mendalam, sehingga aku merasa, bahwa Beliau benar-benar ada secara fisik di situ. Begitu nyata, sehingga aku percaya sekali, aku sedang mengalami tubuh fisik-Nya. Swami mengatakan kepadaku, bahwa Beliau memang masih hidup dan Beliau belum meninggalkan/melepaskan tubuh-Nya. Air mata sukacita mengalir dari mataku, saat Swami menyentuh dan memelukku.        

Swami, kemudian memegang tanganku dan membawaku ke ruang wawancara. Sesampainya di ruang wawancara, Swami bertanya lagi, “Siapkah ananda?” Dan menjelaskan: "Tibalah saatnya Aku membutuhkanmu. Laksanakanlah apa yang Ku-katakan”. Sesaat setelah itu, aku merasakan kebahagiaan yang amat sangat dalam yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, melampaui semua yang dapat dijelaskan.Aku katakan kepada Swami, "Tubuhku adalah tubuh-Mu, pikiran-ku adalah pikiran-Mu, aku berserah diri pada-Mu, Bhagawan". Kuulurkan tanganku, aku katakan kepada-Nya, bahwa tanganku adalah tangan-Nya, dan demikian juga tubuhku, bahwa Beliau berhak mengaryakan diriku seperti kehendak-Nya. Aku memohon kepada-Nya, agar aku terus berada dalam kesadaran akan kebahagiaan ini, karena aku tahu, bahwa tidak ada perbedaan antara Swami-ku, Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, dan aku sendiri. Aku tidak ingin kembali tidur, jikalau kesadaran ini akan hilang setelahnya. Swami menjelaskan kepadaku: "Aku membutuhkanmu, anakku sayang, untuk melakukan pekerjaan untuk-Ku" . Jadi aku katakan, ya, dan hanya meminta kepada-Nya untuk memberikanku kejelasan tentang apa kehendak-Nya itu. Menanggapi hal itu, Swami mewahyukan padaku sebuah senyuman yang memenuhiku dengan pancaran cahaya terang yang menyelimuti seluruh jiwa ragaku saat itu. 

Setelah itu, Dia membawaku ke kuil adikku yang bernama Coro… ... terdapat karpet di mana Coro biasa bermeditasi ... saat memasuki kuil tersebut, Swami memperwujudkan diri-Nya menjadi Bhagawan SRI RAMA sendiri dan menjelaskan padaku bahwa tempat(kuil) tersebut bergaung penuh dengan nama suciTuhan dan kasih suci Tuhan. Beliau menjelaskan padaku, bahwa Coro adalah seorang bakta agung, seorang pemuja hebat, yang senantiasa menyebut nama-Nya dan merenungkan-Nya. Sambil bergerak mengitari altar, Swami mulai menari tarian Tandava dengan khusyuknya, air mata sukacita mengalir di mata-Nya, dan berkelebat dalam bentuk kilauan cahaya terang yang memancarkan kebahagiaan jiwa. Dan Swami menjelaskan padaku: "Nama Bhagawan Rama meliputi dan meresapi segala sesuatu di sini, Coro adalah seorang pemuja besar, seorang bakta agung, dan dia sangat dicintai dan dikasihi". Dalam keadaan sukacita itu, diakhir tarian, Beliau berubah kembali wujud-Nya menjadi Sathya Sai Baba dan berkata, “Akulah Tuhan, Sang Penguasa Sejati, Penguasa segala wujud dan nama”
.       

Kami kembali berada di ruang wawancara. Baba menjelaskan, bila nama Tuhan yang Maha Suci diucapkan dan dikidungkan dengan segenap jiwa raga oleh bakta yang berhati murni dan suci, sudah barang tentu bakta tersebut mewujudkan Kesadaran Tuhan di dalam dirinya, dan Coro adalah salah satunya, seorang bakta yang selalu tenggelam dalam pemujaan kepada Tuhan, dengan penuh pengabdian, ia terus melantunkan nama-Nya sepanjang waktu. Dengan air mata sukacita di mata-Nya, Swami menjelaskan makna mendalam devosi seperti ini, yang membuatku tersentuh haru ... Swami menegaskan padaku, “sadhana/praktek spiritual seperti inilah yang seharusnya dilakukan para bakta, dimanapun mereka berada dan apapun keadaan mereka”. Kemudian dengan sangat tegas, Bhagawan Sri Sathya Sai Baba mengatakan kepadaku, tidak akan lama lagi, kita semua akan menyaksikan suatu momen/peristiwa yang luar biasa istimewa dalam sejarah umat manusia yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan bahwa kekuasaan dan kemuliaan-Nya akan terwujud dengan cara yang belum pernah kita lihat atau pun bahkan kita bayangkan. Waktunya akan segera tiba ....tidak lama lagi…..     

Swami menjelaskan padaku: "Bakta-bakta-Ku harus bangun, bangkit dari mimpi. AKU-Sai Baba bukan tubuh, ataupun salah satu bentuk wujud Tuhan manapun, tetapi AKU adalah perwujudan apapun, yang bernama maupun berupa. AKU- lah Tuhan penguasa perwujudan dan nama. Bagaimana bisa, bahwa Tuhan Yang Maha Kekal dan tak terbatas itu dibatasi oleh salah satu bentuk? Bagaimana bisa dikatakan, bahwa AKU mencapai keadaan kebahagiaan mutlak atau bahwa AKU berada dalam keaadaan Samadhi atau Mahasamadhi, sementara, AKU-Sai Baba sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa, selalu dan senantiasa berada dalam kebahagiaan abadi, dan sejatinya, AKU- lah perwujudan kebahagiaan mutlak nan abadi itu sendiri? Jika AKU yang engkau cari selama ini, maka, AKU sendirilah sumber dari segala sumber kebahagiaan itu". Aku-lah Sat Chit Ananda –eksistensi, kesadaran, dan kebahagiaan. Akulah Saguna dan Nirguna Brahman itu.        

"Oh, bakta-bakta-Ku, bangun, bangkit, bangkitlah .... waktu yang telah dinanti-nantikan selama ribuan tahun oleh para bijak waskita, para Siddha, para Resi agung... sudah sangat mendekat. Sadarilah siapa AKU sesungguhnya, tentang kenyataan diri-Ku yang sejati sebagai Yang Maha Ada, Yang Maha Agung, Yang Maha Besar, Yang Maha Mulia, dan persiapkan dirimu untuk menyambut suatu peristiwa yang luar biasa hebat nan istimewa, yang akan segera diungkapkan kepadamu sekalian.... BAHWA AKU AKAN DATANG KEMBALI DENGAN CARA YANG TIDAK PERNAH BISA ENGKAU BAYANGKAN. Percayalah pada-Ku, milikilah keyakinan dan kepercayaan penuh dan pasrahkan dirimu secara total pada-Ku. Tidak lama lagi, seluruh umat manusia, (bahkan makhluk yang berasal dari surga yang paling tinggi sekalipun) akan menyadari kemuliaan-KU dan kebesaran-KU dan keagungan-KU". Persiapkan dirimu anak-anak-Ku yang terkasih”.        

"Sekarang, pergilah ke seluruh penjuru dunia dan sebarluaskanlah pesan-pesan suci-KU. Beritahu semuanya untuk bersiap-siap. Inilah saat/jaman yang luar biasa baik dan bertuah,dan juga kesempatan luar biasa yang telah ditunggu-tunggu selama berabad-abad, sesuatu yang luar biasa istimewa dalam sejarah umat manusia akan segera terjadi dan waktunya hampir akan tiba". Tidak lama lagi....tidak lama lagi... Swami mengakhiri firman-Nya dan mengucapkan selamat tinggal padaku; aku mendengarkan dengan berlinang air mata, dan meminta-Nya untuk tidak pergi, untuk tidak membiarkan diriku kembali ke dunia yang penuh ilusi ini. Aku memohon kepada-Nya,agar kesadaranku senantiasa terpusat pada Yang Maha Kekal, pada Sang Purna Avatar, dan mengurus hal-hal keduniaan, karena tanganku akan selalu digunakan untuk melayani-Nya. Oh Swami, Engkau selalu kan menjadi Pelaku Utama, biarkan hamba hidup dalam kebahagiaan ini selamanya. Sambil menjabat tangan-Nya, aku mengucapkan selamat tinggal. Aku bermandikan air mata kasih sayang, sukacita dan kebahagiaan jiwa. Wahai, Tuhanku yang terkasih, betapa aku mencintaimu!

Senin, 04 Maret 2013

Vaishnava Vs Shivaisme



Sebagaimana kita sadari bersama, terdapat 2 mazab besar dalam hindu, dimana yang satu merupakan penganut Shivaisme yang menempatkan Deva Shiva sebagai Tuhan alam semesta, dan yang lainnya adalah penganut Vaishnava yang menempatkan Sri Vishnu / Narayana sebagai Tuhan. Dalam faham Vaishnava dimana Sri Krishna menjadi sumber utama munculnya Sri Vishnu (Garbhodakasayi Vishnu, Ksirodakasayi Vishnu, Karanodakasayi Vishnu), faham yang dianutnya adalah Personal God atau Suguna Brahman sedangkan Shivaisme melalui filsafat mayavadi lebih menekankan pemahaman tentang Tuhan sebagai Brahman (Nirguna atau impersonal God). Prinsip Mayavadi yang dikemukakan oleh Sri Sankaracharya yang merupakan penjelmaan dari deva Shiva sengaja dibuat demikian dengan melihat situasi yang terjadi pada saat itu, dimana faham Budha yang tidak mengakui Veda dan keberadaan Tuhan sedang berkembang pesat, sehingga untuk membawa kembali keyakinan mereka yang telah memudar kepada Veda, maka Sankaracharya mengetengahi masalah tersebut dengan menyatakan bahwa Tuhan itu ada tetapi tidak berwujud.
Menurut teologi Siva, Tuhan, Jiva dan benda-benda di alam semesta ini adalah nyata. Secara terminologis mereka menyebut Tuhan sebagai “Pati”, sedangkan Jiva disebut “Pasu” dan benda-benda di alam material disebut “Pasa”. Dari ketiga ini mereka beranggapan bahwa Pati-lah yang paling tinggi dan dipuja dengan sebutan Siva atau Hara. Siva dianggap sebagai sumber dari Trimurti (Brahma, Visnu dan Rudra)-Shiva purana. Disamping itu Siva juga disebut sebagai Iswara dan Maheswara.  Selain itu, Kesamaan Siva dengan Tuhan Sri Hari diperlihatkan dimana Siva tidak akan pernah mengalami kematian dan kehancuran secara fisik meskipun suatu saat terjadi maha pralaya dimana semua unsur alam material hancur dan terserap kembali kepada pori-pori maha visnu karena Siva berkedudukan di alam rohani Kailasa yang kekal abadi. Oleh karena itulah faham Shiva banyak dianut oleh masyarakat india khususnya didaerah selatan, dan juga dalam penyebarannya ke Indonesia dan Bali pada khususnya. Uraian tentang faham Mayavada yang diajarkan dewa Shiva dalam penjelmaannya sebagai Sri Sankaracharya, dapat kita lihat di dalam Padma Purana – Uttara Kanda 25.7: dimana Dewa Siva berkata;
mayavadam asac chastram // pracchannam baudham ucyate
mayaiva kalpitam devi  // kalau Brahmana rupena”
“Wahai Devi istriku, pada jaman Kali aku akan lahir sebagai seorang Brahmana dan menjelaskan Veda dengan filsafat  palsu mayavada yang mirip dengan filsafat  Buddha”
Tujuan kemunculan Dewa Siva sebagai Sankaracarya tidak lain adalah untuk meneruskan misi Buddha Gautama dalam meluruskan penyimpangan penerapan ajaran-ajaran Veda. Yaitu dengan cara menyusun filsafat baru yang mirip dengan filsafat Buddha tetapi juga tidak sama dengan penafsiran Veda sesungguhnya. Dengan demikian penganut Buddha kembali menjadi penganut Veda dan tentunya tidak melupakan misi yang sebelumnya, yaitu agar penganut Veda tidak menyalahkan artikan korban suci untuk kepentingan nafsu, membunuh binatang dan juga mengembalikan prinsip catur varna. Hal ini dapat kita lihat dalam pernyataan Dewa Siva dalam sloka Padma Purana yang lain;
“Istriku Parvati, dengarlah penjelasan bagaimana aku menyebarkan kebodohan melalui filsafat Mayavada. Hanya dengan mendengarnya saja, bahkan seorang yang sangat maju sekalipun akan jatuh. Dalam filsafat ini, yang sebenarnya sangat menyesatkan bagi orang awam. Aku akan menafsirkan secara keliru makna sejati ajaran-ajaran Weda, dan menganjurkan seseorang untuk meninggalkan segala jenis kegiatan untuk mencapai pembebasan dari karma. Dalam filsafat mayavada itu, aku menyatakan bahwa jivatma (sang roh) dan Paramatma (Tuhan) adalah tunggal dan memiliki sifat-sifat yang sama”
Mayavada berasal dari kata Maya (tenaga material yang mengkhayalkan) dan Vada (paham pemikiran atau filsafat). Jadi mayavada berarti filsafat  tentang maya, tenaga yang mengkhayalkan atau filsafat  tentang khayalan.
Sesuai dengan ajaran Sankaracharya, pondasi ajaran Mayavada adalah sebagai berikut;
1.    Brahma Satyam (hanya Brahman yang sejati)
2.    Jagan Mithya (Alam material beserta isinya tidak nyata / palsu)
3.    Jivo Brahmaiva na aparah (Atman/Jiva identik dan sama dengan Brahman/Tuhan
Ketiga pernyataan filosofis tersebut tercantum dalam kitab Sariraka Bhasya yang ditulis oleh Sankaracarya sendiri dan merupakan penjelasan/komentar  atas kitab Vedanta Sutra (yang juga disebut Sariraka Sutra) karya sang penyusun Veda yaitu Krishna Dvaipayana atau Vyasadeva, atas nasehat Dewarishi Narada, yang sebelumnya telah menulis kitab Bhagavata Purana / Srimad Bhagavatam sebagai penjelasan/komentar Vedanta Sutra yang telah ditulisnya.
Menurut filsafat  mayavada, Brahman adalah Tuhan tanpa wujud (nirakara), tanpa sifat apapun (nirguna) dan tanpa ciri apapun (nirvisesa). Sebab, kata Sankara, jika Tuhan berwujud,maka Ia tidak mungkin menjadi sumber segala sesuatu. Bila sesuatu itu telah menjadi banyak beraneka-ragam, wujudnya itu akan berubah dan tidak ada lagi. Contoh, sebatang kayu tidak akan ada lagi karena telah berubah menjadi rak, meja dan kursi. Berdasarkan logika dan argumen materialistik ini Sankara berani menyatakan bahwa Rishi Vyasa telah secara keliru menjelaskan tentang Tuhan seraya berkesimpulan bahwa Brahman impersonal (tanpa wujud, sifat dan ciri) inilah yang satyam, benar, nyata, dan sejati sebagai sumber segala sesuatu.
Menurut Sankara, jagat (alam dunia) yang terwujud ini adalah sesungguhnya mithya, tidak nyata, tidak sejati alias palsu, sebab ia adalah produk maya, ilusi/khayalan. Menganggap dunia sebagai nyata atau sejati adalah sama saja dengan menganggap seutas tali  sebagai  seekor ular. Atau menganggap kulit kerang yang berkilauan (diterpa cahaya matahari) sebagai sekeping perak.
Menurut filsafat  mayavada, sang jiva (makhluk hidup) adalah sama dan identik dengan Brahman (Tuhan). Fakta  ini  sesuai dengan pernyataan sloka-sloka Veda sebagai berikut. “Aham brahmasmi”, Aku adalah Brahman (Brhad Aranyaka Upanisad 1.4.10). “Ayam atma Brahman”, sang Atma adalah Brahman itu juga (Mandukya Upanisad sloka 2). “So’ ham asmi”, diriku adalah Ia (Brahman) itu (Isa Upanisad sloka 16). Berdasarkan sloka-sloka tersebut,”Atman braman aikyam”, atman adalah sama dengan Brahman. Atau sang makhluk hidup (jiva) adalah sama dengan Tuhan (Brahman).

Oleh karena menganggap sang makhluk hidup (jiva) yang kecil, remeh dan tidak berdaya sama dengan Tuhan (Brahman) yang maha kuasa, maka filsafat  mayavada ini disebut Advaita-Vada, filsafat  non dualistik, yakni filsafat yang tidak mengakui adanya perbedaan antara jiva (makhluk hidup) dengan Tuhan (Brahman).
Namun walaupun filsafat mayavada yang diajarkan Sankaracharya ini kelihatan berbeda dari Vedanta, kita hendaknya menyadari maksud dibalik semua itu, serta mengerti situasi yang melatar belakangi diturunkannya ajaran dimaksud. Sebab walaupun terkesan memiliki konsep yang bertolak belakang, Sri Sankaracharya ketika akan mengakhiri lila-Nya menuliskan satu syair terkenal dengan judul, Bhaja Govindam, yang walaupun masih samar-samar tetapi jelas beliau mengisyaratkan tentang tujuan akhir mahluk hidup untuk dapat mencapai kaki padma Sri Govinda. “Vaisnavanam yatha sambhuh, diantara semua penyembah (bhakta) Visnu, Sambhu (Siva) adalah yang paling utama” (Bhag. 12.1.36). Kepada Sankarsana, Siva juga berdoa sebagai berikut; “Om namo bhagavate maha puruñaya sarva guëa daukhauy anantasya vyaktaya nama iti …. O Tuhanku, saya sujud kepada-Mu dalam perwujudan-Mu sebagai Sankarsana. Anda adalah sumber segala kekuatan rohani. Meskipun Anda memiliki sifat-sifat tak terbatas, Anda tetap tak dikenal oleh mereka yang bukan penyembah-Mu” (Bhag. 5.17.17). Dalam doa-doa pujian yang diajarkan kepada para Praceta (Bhag.4.24.33- 69), Siva menyatakan bahwa Visnu atau Hari adalah pujaannya. Siva antara lain berdoa, “Tuhan maha pengasih, orang-orang bijaksana sadar bahwa jika mereka tidak memuja diri-Mu, maka seluruh hidupnya akan sia-sia. Mereka tahu bahwa Anda adalah parambrahman dan Paramatmä. “Meskipun seluruh jagat takut kepada diriku Rudra yang memusnahkan segala sesuatu pada hari pralaya (kiamat), namun orang bijaksana menjadikan Anda tujuan yang tidak pantas ditakuti”.  Maka beranjak dari pemaparan ini masing-masing kelompok spiritual hendaknya menyadari bahwa semua jalan yang diberikan pada akhirnya akan menuju kepada satu sumber yang sama yakni Govinda Krishna. Sehingga tidak menjadi masalah jika satu kelompok atau agama menganggap bahwa Tuhan itu impersonal, toh pada intinya konsep itu adalah tahapan. Kita tidak bisa memaksa dan mengharuskan semua orang agar langsung bisa menerima faham bahwa Tuhan itu Personal. Selanjutnya sesuai dengan ayat diatas “Vaisnavanam yatha sambhuh, diantara semua penyembah (bhakta) Visnu, Sambhu (Siva) adalah yang paling utama” (Bhag. 12.1.36). jadi sungguh tidak masuk akal jika kelompok spiritual yang telah melabel dirinya sebagai Vaishnava, memandang rendah kelompok spiritual lain yang bernaung dibawah panji-panji identitas Shiva sebab Shiva adalah Vaishnava teragung bahkan ‘mungkin’ lebih agung dari pecinta Krishna yang diberikan gelar ‘Maharaj’ oleh para muridnya. Shiva adalah ibarat 2 sisi mata uang. Ia memiliki berkah material dan juga spiritual. Tergantung kita mau meminta yang mana.  Pemuja Siva yang taat akan diarahkan oleh Siva sendiri untuk memuja Sri Hari karena ekspansi Siva yang berasal dari Govinda adalah perwujudan kepribadian yang bertindak sebagai Bhakta Govinda yang paling agung dan memberikan contoh bagi jiva-jiva yang sedang belajar menekuni bhakti. Namun begitu, jikalaupun ada pemuja Shiva yang lebih mementingkan aspek material duniawinya seperti pemujaan untuk mendapatkan kesidhian, kemakmuran, kemashyuran, dan lain lain, tetap saja sebagai seorang yang melabel diri Vaishnava tidak mempunyai hak untuk menyalahkan mereka. Sebagai saudara sepengembaraan di bhumi kita hanya boleh memberikan saran untuk maju, tetapi bukan mengharuskan mereka untuk mengikuti jalan kita, Karena itu sangat bergantung kepada akumulasi karma dan juga Rahmat dari Tuhan.

       
Memuja Tuhan dalam kekosongan
Perdebatan mengenai apakah Tuhan memiliki wujud atau tidak seakan menjadi sebuah hal yang tidak berkesudahan dimana masing-masing penganutnya memiliki argument kuat yang sulit dibantah. Lalu bagaimanakah Tuhan itu sebenarnya ? Personal apa impersonal ? Saguna atau Nirguna ?
Memuja Tuhan dalam aspek kekosongan atau yang tidak digambarkan seperti paham yang dianut agama Islam, agama Buddha dan juga penganut Shivaisme tidak bisa dikatakan sebagai sesuatu yang salah, demikian sebaliknya penganut kekosongan tidak bisa mengklaim bahwa pemakaian wujud dalam pemujaan sebagai bentuk kemusrikan karena mempersamakan Tuhan dengan manusia. Veda menjelaskan bahwa Tuhan memiliki tiga aspek utama, yaitu Paramatman (Yang ada di mana-mana dan meresapi ciptaannya), Bhagavan (Tuhan yang berwujud pribadi) dan Brahman (Tuhan yang tidak berwujud/Nirguna) sebagaimana disinggung dalam Bhagavad Gita bab 12. Jadi dari segi penggambaran Tuhan, Hindu juga memberikan solusi yang lengkap. Jika anda tertarik dengan aspek Tuhan yang ada di mana-mana dan selalu menyertai diri anda dalam diri anda, maka anda dapat memuja aspek Paramatman. Jika anda tertarik dengan Tuhan yang berwujud pribadi, maka silahkan memuja Avatara-avatara Tuhan, namun jika anda lebih suka kepada kekosongan dan aspek Tuhan yang tidak berwujud, silahkan memuja Tuhan dalam Aspek Brahman. Tuhan adalah ibarat 2 sisi uang logam yang saling melengkapi. Ibarat sinar matahari dengan planetnya. Jika tidak ada planet yang mewujud maka tidak mungkin ada sinar, demikian halnya jika planet atau wujud ada tetapi tidak ada sinar, maka ia tidak dapat dikatakan sebagai matahari. Jadi mari saling menghargai perbedaan yang ada untuk bisa dijadikan pelengkap, sebab tatanan hidup memang harus terbentuk dari 2 hal yang berbeda (hidup-mati, terang-gelap, personal-impersonal, dll)

Jalan Keselamatan



Istilah jalan keselamatan ataupun Juru selamat dalam hubungannya dengan agama maupun berbagai kelompok spiritual yang ada, bukanlah merupakan hal baru sebab hal ini sudah seringkali di perkenalkan khususnya oleh para misionaris agama ataupun penekun spiritual yang hanya meng-Copas (Copy Paste) sebuah ajaran tanpa memproses kesesuaiannya melalui Viveka yang diberikan Tuhan. Sehingga seringkali kebenaran dipaksakan untuk situasi, tempat, maupun kepada orang yang tidak tepat. sehingga perdebatan dan pertentanganpun akhirnya muncul sebagai akibat dari kesalahan menempatkan kebenaran di tempat yang tepat. Sebagai misal, seorang misionaris kriten militan akan bersikukuh dengan penuh keyakinan bahwasannya hanya ada satu juru selamat yang telah dikirim ke bhumi untuk menyelamatkan manusia dari kubangan dosa, yakni Yesus Kristus.Tidak ada satu agama manapun di dunia ini yang sebaik dan semudah Kristen, hanya di Kristenlah kita dapat menemukan kenyataan bahwasanya hanya dengan percaya pada Yesus dan menyerahkan diri kepadanya, maka segera dosa-dosa kita akan di hapuskan. Yesus datang ke dunia ini untuk menghapuskan dosa-dosa manusia yang percaya kepadanya. Tidak terdapat satu manusiapun di dunia ini yang luput dari dosa, karena untuk dapat terbebas serta murni dari dosa sangatlah sulit, sehingga satu-satunya jalan yang mudah dan pasti untuk mencapai kerajaan Tuhan hanyalah dengan percaya pada Yesus Kristus.” Tentu saja pernyataan ini benar jika kita mengimani diri sebagai seorang Kristen, tetapi akan menjadi sesuatu yang tidak benar jika statement yang sama kemudian kita berikan kepada orang lain di luar keyakinan Kristen  sebab diluar Kristen, seperti Islam, juga memiliki hal yang sama dengan kemasan berbeda. “Dalam ajaran Islam, iman mendasar yang harus dimiliki adalah yakin dan percaya bahwa hanya ada satu Tuhan, yaitu Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah. Disamping itu umat muslim juga harus percaya pada adanya kiamat, penghakiman akhir, padang masyar, dan syurga (sorga), keyakinan bahwa Islam adalah agama terakhir yang menyempurnakan agama-agama sebelumnya dan hanya Islam-lah satu-satunya jalan mencapai Tuhan, Allah.” Maka demikian pulalah bagi para penganut Sanathana Dharma-Hindu, yang juga memiliki keyakinan bahwa mereka mempunyai Juru selamat yang dikenal dengan nama Sri Krishna. Satu-satunya kepribadian Tuhan yang tertinggi (Ishvara Parama Krishna) sebagaimana tersirat dalam bait mantram Narayana Upanisad ‘Eko Narayana Na Dwityo ‘sti kascit’ – Hanya ada satu Tuhan, Ia yang disebut Narayana / Krishna. Sama sekali tiada duanya. Pengertian ini hampir bisa disamakan dengan bait ‘La ilahailallah’ – Tiada Tuhan selain Allah. Petunjuk tentang jalan keselamatan ini dalam faham Sanatana Dharma dapat kita lihat dalam Bhagavad Gita Bab 4.36-37; dimana Sri Krishna bersabda  api ced asi päpebhyaù sarvebhyaù päpa-kåt-tamaù sarvaà jïäna-plavenaiva våjinaà santariñyasi yathaidhäàsi samiddho ‘gnir bhasma-sät kurute ‘rjuna jïänägniù sarva-karmäëi bhasma-sät kurute tathä, Walaupun engkau dianggap sebagai orang yang paling berdosa diantara semua orang yang berdosa, namun apabila engkau berada didalam kapal pengetahuan rohani, engkau akan dapat menyeberangi lautan kesengsaraan. Seperti halnya api yang berkobar mengubah kayu bakar menjadi abu, begitu pula api pengetahuan membakar segala reaksi dari kegiatan material sehingga menjadi abu, wahai Arjuna”. jadi dalam sloka ini, setidaknya kita dapat menarik kesimpulan bahwasanya dosa dalam konsep Veda juga dapat dihapuskan. Kegiatan material dan kegiatan berdosa ini dapat segera hilang dan diampuni oleh Tuhan Yang Maha Esa setelah kita insaf dalam pengetahuan rohani dan menyerahkan diri kepada Beliau.
Dengan demikian sangat jelas bahwa dimasing-masing agama ataupun kelompok Spiritual, Tuhan, Rsi, atau Nabi yang merupakan utusan beliau telah memberikan petunjuk tentang jalan keselamatan dan juru selamat bagi pengikutnya masing-masing yang pada dasarnya akan menuju pada satu sumber yang sama walaupun terlabel dan terkemas dengan cara yang berlainan. Jalan keselamatan ataupun juru selamat tidak hanya dimiliki oleh satu agama atau satu kelompok spiritual saja.

Penyembah Vs Karmi



Tulisan ini saya buat sebagai bentuk pernyataan pribadi atas kecemasan saya mendapati sikap dan cara bhakti kepada Tuhan yang dalam penilaian saya telah mengalami pergeseran dari makna kesejatiannya. Tentu saja saya tidak akan mengklaim bahwa cara pandang yang akan saya pakai sebagai parameter merupakan kebenaran mutlak. Sebab kebenaran itu sangat relative dipandang dari sudut mana saja. Walaupun kebenaran absolute yang seharusnya dipakai acuan adalah sebagaimana yang ditunjukkan oleh Sri Krishna kepada Arjuna di medan perang. Kebenaran yang didasarkan pada tempat, waktu, dan kondisi bersangkutan)

Mengacu kepada beberapa statement yang pernah disampaikan para penyembah Sri Krishna, kepada seorang Pecinta Harinam Sankirtan Yajna, yang masih awam dan awal dalam tingkat kwalifikasi bhaktinya, hati saya terketuk untuk membuat suatu tulisan guna mencari jawab sekaligus masukan untuk bisa direnungkan serta dipertimbangkan bagi keberlangsungan ajaran Sanathana Dharma yang kita cintai ini. Adapun beberapa hal yang saya maksudkan disini adalah sebagai berikut:

1.      KEKELIRUAN PENGGUNAAN ISTILAH “PENYEMBAH” DAN “KARMI”
Tidak bisa dipungkiri bahwa beberapa pengikut ajaran Sri Krishna dalam masyarakat ISKCON, masih terjebak pada beberapa istilah yang sebenarnya belum dipahaminya benar. Sebab sering kali mereka yang sudah merasa mengikuti ajaran Vaisnava mengatakan semua orang diluar pengikut ajaran mereka adalah orang-orang Karmi yang posisinya terkesan ‘lebih rendah’ dari mereka. Dan sering juga ada yang beranggapan bahwa orang yang sudah masuk dan tinggal di ashram atau temple adalah penyembah. Sudah tepatkah pengunaan kata “Karmi” dan “Penyembah” di sini? Tidakkah hal ini merupakan dikotomi yang masih perlu dipertanyakan?
Istilah “Penyembah” mulai menjadi trend di Indonesia setidaknya setelah menyebarnya ajaran Srila Prabhupada baik melalui buku-buku beliau maupun preaching center yang didirikan oleh murid-murid beliau.  Istilah Penyembah ini diadopsi dari bahasa Inggris, “devotee”. Di luar negeri, istilah devotee biasa digunakan hampir oleh semua orang untuk menyebutkan mereka yang percaya dan taat pada Tuhan, baik itu dari pihak Kristen, Katolik, Yahudi maupun kelompok Theis lainnya. Sehingga sangatlah lazim jika istilah devotee ini juga digunakan oleh Srila Prabhupada beserta pengikut beliau untuk menyebut sesama mereka. Namun sepertinya beberapa orang di Indonesia menterjemahkan istilah devotee secara lebih sempit sebagai “Penyembah” dalam artian khusus, yaitu mereka yang menjadi murid-murid dan pengikut Srila Prabhupada.
“Karmi”, sebagai lawan dari kata “Penyembah” yang sangat sering ditujukan untuk mereka yang ber-oposisi memang sangat banyak dapat kita temukan dalam buku-buku Srila Prabhupada. Namun benarkah istilah ini ditujukan untuk menunjuk orang-orang yang diluar kelompok barisan perguruan Srila Prabhupada? Istilah Karmi muncul berdasarkan pada pemahaman bahwasanya Catur Yoga adalah empat jalan kerohanian bertingkat (tangga yoga) yang harus dilalui oleh seorang penekun spiritual mulai dari tingkatan Karma, Jnana, Dhyana dan Bhakti Yoga. Dalam pemahaman ini, dikatakan mereka yang baru dalam tingkat Karma Yoga baru melakukan segala petunjuk ajaran Veda sampai pada tingkat sensual dan mental dengan melakukan kerja keras demi mengharapkan hasil dan kepuasan, baik di dunia ini maupun harapan pahala di planet-planet Sorga setelah meninggal. Sementara mereka yang sudah lebih maju, ada pada tingkatan Jnana Yoga. Mereka dikatakan ada pada posisi intelektual, berusaha mengerti kebenaran mutlak dengan berbagai kemampuan diskusi dan debat filsafatnya. Sehingga mereka dikatakan melakukan kegiatan sebagaimana dalam Karma Yoga, namun juga dilengkapi dengan kesadaran akan keberadaan Sang Mutlak. Sedangkan pada tingkatan di atasnya lagi, disebut Dhyana Yoga. Pada tingkatan Dhyana Yoga, dikatakan bahwasanya mereka memiliki semua kualifikasi Karma dan Jnana Yoga. Menyadari hakekatnya sebagai Atman yang kekal abadi, namun masih tersimpan rasa ego. Dan lewat meditasinya kepada Tuhan, mereka bertujuan mencapai siddha (kesaktian) Yoga. Sementara itu pada tingkatan yang terakhir, yaitu pada saat seseorang benar-benar menyerahkan dirinya dalam cinta kasih bhakti kepada Tuhan baik dengan bekerja, berfilsafat maupun meditasi disebut mencapai Bhakti Yoga. Mereka yang baru menapak Karma Yoga disebut Karmi, mereka yang sudah mencapai Jnana Yoga disebut Jnani, mereka yang sudah mencapai Dhyana Yoga disebut Yogi dan mereka yang sudah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan disebut Bhakta. Jadi dengan konsep tangga Yoga ini, istilah Karmi pada dasarnya ditujukan kepada mereka yang seluruh aktifitas kegiatannya hanya diperuntukkan demi kesenangannya sendiri di dunia ini maupun demi pahala di sorga saja tanpa memperdulikan rasa cinta kasih bhakti kepada Tuhan.

1.1  Masuk Ashram, tidak otomatis menjadi “Penyembah”
Istilah Penyembah dalam hubungannya dengan istilah Karmi, tidak dapat ditafsirkan dengan cara sempit. Istilah penyembah di sini berkaitan erat dengan mereka yang sudah mencapai posisi Bhakta, penyembah Tuhan yang telah menyerahkan diri dalam cinta kasih bhakti yang tulus. Srila Prabhupada menjabarkan istilah “Penyembah” sebagai berikut: “Para “penyembah” (Bhakta) sesungguhnya adalah orang-orang suci, atau sadhu. Kualifikasi pertama seorang sadhu adalah ahimsa, atau tidak melakukan kekerasan. Orang yang tertarik pada jalan bhakti, atau pada jalan pulang kembali kepada Tuhan, pertama-tama harus mempraktekan ahimsa, atau tidak melakukan kekerasan. Seorang sadhu dijelaskan sebagai titiksavah karunikah (SB 3.25.21). Seorang penyembah hendaknya penuh toleransi dan hendaknya sangat berbelas kasih kepada orang lain. Sebagai contoh, jika dia sendiri yang menderita luka, ia hendaknya dapat mentoleransinya, namun jika ada orang lain yang menderita luka, penyembah tidak boleh membiarkannya. Seluruh dunia penuh dengan kekerasan, dan urusan pertama seorang penyembah adalah menghentikan kekerasan ini, termasuk penjagalan binatang secara tidak perlu. Seorang penyembah adalah kawan bukan hanya bagi masyarakat manusia melainkan juga bagi semua makhluk hidup, sebab ia melihat semua makhluk hidup sebagai anak-anak dari Personalitas Tuhan Yang Maha Esa. Ia tidak mengklaim dirinya sebagai satu-satunya putra Tuhan dan membiarkan yang lainnya dibantai, dengan menganggap mereka tidak memiliki roh. Filsafat semacam ini tidak pernah dikemukakan oleh seorang penyembah Tuhan yang murni. Suhrdah sarva dehinam: seorang penyembah yang sejati adalah kawan bagi semua makhluk hidup. Krishna menyatakan di dalam Bhagavad-gita sebagai ayah bagi semua jenis makhluk hidup; karena itu penyembah Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna selalu merupakan kawan bagi semuanya. Ini disebut ahimsa. Tindakan tidak melakukan kekerasan seperti itu dapat dipraktikan hanya jika kita mengikuti langkah para acarya agung. Karena itu, menurut filsafat Vaisnava, kita harus mengikuti para acarya agung yang berasal dari salah satu dari empat sampradaya, atau garis perguruan yang diakui Veda.
Dalam posisi sebagai penyembah Tuhan, mereka juga disebut sebagai Vaisnava. Seorang Vaisnava sudah pasti seorang yang berkualifikasi Brahmana, yaitu mereka yang memiliki kedamaian hati (sama), kendali diri (dama), kesederhanaan (täpa), kesucian (saucam), toleransi (ksantir), kejujuran (arjavam), berpengetahuan rohani (jïänam), bijaksana. (vijnänam), agamais (astikyam), berpuas hati (santosah), pengampun (ksanthih), bhakti kepada Tuhan (bhakti), dan kasih sayang (daya) – (Bg. 18.42 dan Bhag.11.17.16).
Jadi, secara singkat dapat dikatakan bahwasanya persyaratan untuk dapat dipanggil sebagai seorang penyembah sangat-sangat berat. Masuk ke asrama, memulai belajar kitab suci Veda, mendekati seorang guru kerohanian dan bergaul dengan para penekun jalan Bhakti barulah langkah yang sangat awal. Masih terdapat jalan yang sangat panjang dengan berbagai rintangannya yang membentang di depan kita yang harus kita hadapi untuk dapat memenuhi kualifikasi seorang penyembah. Sehingga kita yang baru dalam tahap awal dan belum bisa memenuhi semua kualifikasi di atas, baru dapat dikatakan sebagai “orang yang belajar menjadi penyembah”, bukan penyembah atau masih dalam tahap sebagai Krishna Lover atau pecinta Sri Krishna.

1.2 Tidak semua orang yang berada di luar garis perguruan Srila Prabhupada adalah “Karmi”
Sebagaimana disebutkan dalam Bhagavata Purana 6.3.21, ajaran Veda memiliki empat garis perguruan pokok, yaitu dari Brahma Sampradaya, Sri (Laksmi) Sampradaya, Rudra (Siva) Sampradaya dan Catur Kumara (Sanaka) Sampradaya. Dari keempat garis perguruan awal ini, seiring berjalannya waktu akhirnya membentuk cabang-cabang perguruan baru bagaikan sebuah batang pohon dengan ratusan dahan dan ribuan rantingnya. Garis perguruan Srila Prabhupada sendiri yang bernama ISKCON hanyalah salah satu dari ranting-ranting yang sangat banyak itu. Karena itulah kita harus menyadari bahwasanya di luar sana, masih terdapat banyak garis perguruan bonafide dengan guru-guru dan sadhu yang sangat bonafide yang harus kita hormati dan sama sekali tidak dapat dikatakan sebagai “Karmi”.
Bahkan mereka yang dalam hidupnya kurang beruntung karena belum menemukan guru yang bonafide pun tidak serta merta bisa dikatakan sebagai Karmi. Jika orang itu melaksanakan segala kegiatan dengan penuh cinta bhakti yang tulus ikhlas kepada Tuhan, maka Tuhan sendiri dalam aspeknya sebagai Paramatman yang akan menuntun mereka (Bhagavad Gita 18.61-62). Tuhan adalah Gurunya sendiri.
Karena itu, mari kita lebih hati-hati memanggil orang lain dengan sebutan Karmi dan mengatakan diri sebagai Penyembah. Mari kita posisikan hati kita lebih rendah dari rumput di jalanan, lebih toleransi dari sebatang pohon, tidak mengharapkan penghormatan pribadi dan selalu siap memberi hormat kepada orang lain. Semoga dengan sikap seperti ini, kita mampu mengarungi jalan panjang dari Bhakti sehingga suatu saat bisa mencapai kualifikasi Uttama Adikari (Bhakta Tuhan yang utama).