Jumat, 06 Juni 2014

Sarana dan Prosesi Agni Hotra I



Dewasa ini, Upacara agni hotra atau Homa yajna sudah semakin dikenal dan digemari oleh masyarakat bali. Terbukti dengan semakin banyaknya permintaan untuk melakukan yajna ini. Bahkan dalam sehari, seorang Hotri/ hotraka atau Pandita yang memimpin upacara agni hotra ini bisa mendapat permintaan lebih dari sekali dalam sehari. Hal ini tidak terlepas dari efesiensi dan juga manfaat nyata yang bisa didapat dari upacara dimaksud. Sebab upacara Agni Hotra selalu bisa dikaitkan atau dirangkaikan dengan beberapa upacara keagamaan lainnya seperti Agni Hotra untuk megedong-gedongan, untuk merayakan tiga bulanan, pawiwahan, membersihkan pekarangan (secara niskala) dan juga untuk menyempurnakan upacara pitra yajna.

Mengingat prosesi, kelengkapan, penyediaan tempat dan juga biayanya yang relative murah telah menjadikan upacara Agni hotra sebagai pilihan bijak bagi mereka yang kesehariannya selalu sibuk dengan pekerjaan dan juga bagi mereka yang menginginkan  sebuah formula praktis, simple, dan juga ekonomis namun tetap tidak kehilangan makna  dalam beragama. Sebab dalam ritual agni hotra, semua kelengkapannya merupakan bahan-bahan yang amat mudah dicari dengan harga yang cukup terjangkau. Seperti misalnya biji-bijian, beras, kayu bakar, minyak goreng, susu, dan lain-lain. Waktu untuk menyiapkan sekaligus melaksanakannyapun  relative sangat singkat sekitar 3 sampai 4 jam saja.
Keberhasilan suatu yajna memang tidak bisa diukur dari seberapa besar biaya yang dikeluarkan ataupun dari seberapa banyak dan meriahnya bebantenan yang dipakai namun lebih kepada efek atau dampak yang ditimbulkannya kepada sang Yajamana. (apakah setelah melakukan suatu upacara, orang yang bersangkutan bisa lebih mendapatkan ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan ataukah sebaliknya) sebab seringkali terjadi di masyarakat bahwa ketika upacara yang dibuatnya selesai, hidupnya tidak semakin membaik karena terus dikejar oleh kewajiban membayar hutang karena meminjam uang demi lengkapnya sebuah upacara atau bahkan mengalami keretakan keluarga karena biaya upacara diambil dari hasil pembagian warisan orang tua. Hal ini tentu tidak sejalan dengan prinsip dan cita-cita dari agama itu sendiri. Sebab agama mengajarkan bahwa manusia hendaknya hidup secara rukun untuk mencapai artha dan kama yang dilandasi Dharma sehingga kebahagiaan jagadhita dan moksa sebagai tujuan akhir bisa tercapai.

Hal ini tentu sangat terkait dengan masing-masing individu untuk memulainya, terutama untuk menyadari dan mengetahui bahwa yajna atau pelaksanaan korban suci itu adalah sebuah keharusan bagi semua orang sebagaimana ujar Bhagavad Gita bahwasannya jika kita lalai akan sebuah kewajiban lalu bagaimana seseorang bisa mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya kini maupun dalam penjelmaannya yang akan datang. Oleh karena itu segala bentuk dan kegiatan yajna untuk menyenangkan para dewa tetap harus dijalankan yang mana hal itu tentu harus didasarkan pada keikhlasan, keyakinan, serta niat dan usaha sendiri. Sebab jika kita melakukan upacara yajna tanpa dilandasi oleh pengetahuan tentang makna, tata cara maupun tujuan upacara dimaksud, tanpa dilandasi keikhlasan dan jerih payah sendiri, hal itu sama saja dengan membuang-buang waktu karena hanya akan mengantarkan kita pada moha atau kebingungan. Oleh karena itu, sangat penting bagi sang Yajamana (orang yang akan melakukan yajna) untuk membuat atau mendapatkan kelengkapan ritual itu sendiri sebagai tanda keikhlasan dan niat sungguh-sungguh untuk mempersembahkan hasil kegiatan kita kepada para dewa. Sebab jika Yajamana hanya menyerahkan segala sesuatunya kepada orang lain atau Hotri untuk melengkapinya, sehingga ia hanya perlu mengeluarkan uang lalu duduk manis menunggu selesainya upacara, ini bukanlah tanda kebajikan dalam beragama sebab yang terpenting dari setiap ritual agama bukanlah pada bagaimana upacara itu bisa selesai dengan lancar saja tetapi lebih kepada bagaimana setiap orang terdidik untuk belajar mengetahui proses kegiatan upacara dimaksud sehingga bisa menumbuhkan sradha serta kecintaan terhadap nilai agamanya sehingga generasi Hindu kedepannya bisa lebih percaya diri dalam menjawab segala pertanyaan umat lain yang sering terkesan menyudutkan karena ketidak berdayaan kita menjelaskan makna dan tujuan upacara agama secara logis sehingga menimbulkan kesan bahwa sebagian besar umat hindu beragama hanya karena warisan, dan ikut-ikutan dengan dalil ‘Anak mule keto”

Senin, 05 Mei 2014

Pentingnya sebuah Nama "Rohani"



Walaupun ada pepatah yang berbunyi “Apalah arti sebuah nama” yg maksudnya ini disampaikan oleh orang yang rendah hati bahwasannya segala kehormatan dan pujian yg diberikaataupun sanjungan yg mungkin berhubungan dgn namanya bukan merupakan factor penting baginya dalam meningkatkan kehidupan spiritualnya. Walaupun rumus ini tidak berlaku bagi mereka yang telinganya begitu menyukai kata-kata pujian dan rayuan

Namun walaupun demikian, keberadaan sebuah nama juga sangat penting nilainya baik bagi kehidupan material duniawi maupun dalam hubungannya dengan proses bertumbuhnya nilai spiritualitas dalam diri. Oleh karena itulah maka Nama memiliki prioritas penting di dalamnya. Misalkan saja jika dalam pengurusan passport kita salah menulis satu huruf saja dalam rangkaian nama yang kita miliki, itu sudah cukup membuat kita mendapat masalah belum lagi untuk urusan birokrasi lainnya yang berhubungan dengan property seperti sertifikat tanah ataupun surat-surat berharga lainnya.
Selain itu dari sebuah nama, kita bisa menebak karakteristik seseorang, sejarah kelahiran, ataupun pesan dan harapan dari orang yang memberikan  nama dimaksud. Misalnya pada jaman dahulu orang-orang tua sering menamai anaknya sesuai dengan moment atau hal-hal  yang  sedang menjadi Trend pada saat itu. Sebagai contoh jika pada saat kelahiran seorang bayi terjadi gempa bhumi, maka anaknya biasanya dinamai I Gempa atau I Guntur. Lalu jika ada anak yang hidupnya agak susah serta tidak mempunyai orang tua, maka ia dipanggil dengan nama I Lara

Jumat, 04 April 2014

Surat dari Bhagavan Baba


Saat kau terbangun di pagi hari, Aku memandangimu dan berharap engkau akan berbicara kepada-Ku walaupun hanya sepatah kata meminta pendapat-Ku atau bersyukur kepada-Ku atas semua hal indah yang terjadi dalam hidupmu dihari ini ataupun kemaren.

Tetapi Aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja. Aku kembali menanti saat engkau sedang bersiap, Aku tahu aka nada sedikit waktu bagimu untuk berhenti lalu menyapaKu. Tetapi… rupanya engkau terlalu sibuk.
Di suatu tempat engkau duduk di sebuah kursi selama 15 menit tanpa melakukan apapun. Kemudian Aku melihat engkau menggerakkan kakimu. Aku berpikir bahwa engkau mungkin akan berbicara pada-Ku saat itu. Tetapi engkau hanya mengambil Handphonemu untuk melihat status dan gossip terbaru. Aku melihatmu saat engkau pergi bekerja dan Aku menanti dengan sabar sepanjang hari…
Dengan semua kegiatanmu itu, Aku berpikir mungkin engkau terlalu sibuk untuk mengucapkan sesuatu kepada-Ku. Sebelum makan siang, Aku melihatmu memandang ke sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepada-Ku, itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu. Engkau memandang tiga atau empat meja disekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut nama-Ku dengan lembut sebelum mereka menyantap rizki yang kuberikan. Tetapi engkau tidak melakukannya.

Yah tidak apa-apa. Masih ada waktu yang tersisa dan Aku berharap engkau akan berbicara kepada-Ku meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus engkau kerjakan.