Tampilkan postingan dengan label spiritualitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label spiritualitas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Agustus 2015

Tuhan Sri Krishna adalah Sakshi.



Sejak masa kanak-kanaknya, Uddhava selalu bersama Sri Krishna, Mengemudikan kereta untuk- Nya dan melayani-Nya dalam berbagai macam cara. Ia tidak pernah menginginkan ataupun meminta karunia apapun dari Sri Krishna.
Ketika Sri Krishna telah berada pada akhir dari saat-saat penyelesaian misi dalam masa kemunculan-Nya,Ia memanggil Uddhava dan berkata,: “ Uddhava yang baik, dalam masa kemunculan-Ku ini, banyak orang yang telah meminta dan mendapat karunia dari-Ku; tapi kamu tidak pernah memohon apapun pada-Ku. Kenapa kamu tidak meminta sesuatu sekarang?
Aku akan mengabulkannya. Biarkan Aku menyelesaikan kemunculan ini dengan rasa puas karena telah melakukan sesuatu yang baik buat kamu juga.”
Meskipun Uddhava tidak pernah memohon apapun untuk dirinya sendiri, ia telah selalu mengamati Krishna sejak dari masa kanak-kanakNya. Ia selalu heran akan betapa jelasnya ketidaksinkronan antara ajaran Sri Krishna dengan kegiatan-kegiatan-Nya, dan ia ingin memahami alasan-alasan dari hal itu. Ia bertanya kepada Sri Krishna,
“ Tuhanku, Engkau mengajarkan kami untuk hidup dengan suatu cara tertentu, namun Engkau sendiri hidup dengan cara lain. Dalam drama Mahabharata, di dalam peran yang Engkau mainkan, di dalam kegiatan-kegiatan-Mu, sangat banyak hal yang tidak aku pahami. Aku sangat ingin mengerti alasan-alasan untuk setiap tindakanMu. Berkenankah Engkau memenuhi rasa ingin tahuku?
Krishna berkata : “ Uddhava, apa yang aku wejangkan pada Arjuna selama perang Kurukshetra adalah Bhagavad Gita. Hari ini, jawaban-jawaban-Ku atas pertanyaanmu pada-Ku akan dikenal sebagai ‘Uddhava Gita’. Itulah sebabnya Aku memberikan kesempatan ini kepadamu. Silakan bertanya tanpa ada rasa ragu.”     
Uddhava mulai bertanya        
– ‘Krishna, pertama-tama, siapakah yang disebut sebagai teman sejati?’
- Krishna menjawab, ‘Teman sejati adalah seseorang yang datang menolong temannya yang sedang membutuhkan pertolongan tanpa dipanggil terlebih dahulu.’
Uddhava :‘Sri Krishna, Engkau adalah teman yang sangat dekat bagi para Pandava. Mereka mempercayai-Mu sepenuhnya sebagai Apadhbhandava (pelindung dari segala kesulitan).
Sri Krishna, Engkau tidak saja hanya mengetahui apa yang sedang terjadi, namun Engkau juga mengetahui apa yang akan terjadi. Engkau adalah Jnani yang agung. Saat ini, Engkau baru saja memberikan definisi dari teman yang sejati. Lalu mengapa Engkau tidak bertindak sebagaimana yang Engkau jelaskan dalam definisi tersebut. Mengapa Engkau tidak menghentikan Dharmaraja (Yudhistira) dari permainan judi?. Atau baiklah, jika Engkau tidak melakukan hal itu; tapi mengapa Engkau tidak mengatur agar keberuntungan berada di sisi Dharmaraja,
dengan mana Engkau akan memastikan bahwa dharma akan menang. Engkau tidak melakukan hal itu juga. Paling tidak Engkau dapat menyelamatkan Dharmaraja dengan menghentikan permainan sesudah ia kehilangan seluruh kekayaannya, negaranya dan dirinya sendiri. Engkau dapat membebaskannya dari hukuman akibat bermain judi. Atau, Engkau dapat masuk ke ruang pertemuan tersebut saat ia akan mulai mempertaruhkan saudara-saudaranya. Namun Engkau tetap tidak melakukan hal itu juga. Paling tidak, saat Duryodhana membujuk
Dharmaraja dengan menawarkan untuk mengembalikan semua kekalahannya bila ia mau mempertaruhkan Draupadi (yang selalu membawa keberuntungan bagi para Pandava),
Engkau dapat ikut turun tangan dan dengan kekuatan illahi- Mu Engkau dapat membuat dadu-dadu itu berguling sedemikian rupa sehingga menguntungkan Dharmaraja.
Sebaliknya, Engkau hanya turun tangan saat Draupadi hampir kehilangan kehormatannya dan sekarang Engkau menyatakan bahwa Engkau telah memberinya baju dan menyelamatkan kehormatannya; bagaimana Engkau bisa menyatakan hal seperti itu – sesudah ia diseret ke ruang pertemuan oleh seorang pria dan dilucuti pakaiannya di depan begitu banyak orang, kehormatan bagaimana yang tersisa bagi seorang wanita? Apa yang telah Engkau selamatkan?
Hanya pada saat engkau menolong orang pada saat kritislah, pantaskah Engkau disebut ‘Apadhbhandava’, jika Engkau tidak menyelamatkannya di saat kritis, apa gunanya?
Inikah yang disebut Dharma?’


( Sambil menyampaikan pertanyaaan-pertanyaan tersebut, air mata mulai mengalir deras dari mata Uddhava.Ini bukanlah pertanyaan-pertanyaan dari Uddhava sendiri saja. Semua dari kita yang telah membaca Mahabharata memiliki pertanyaan-pertanyaan ini. Atas nama kitalah, Uddhava telah mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini kepada Sri Krishna)
Bhagavan Sri Krishna tertawa. ‘Uddhava yang baik, hukum dari dunia ini adalah : ‘hanya orang yang memiliki Viveka (kecerdasan melalui pembedaan/pemilihan) yang menang’ .
Duryodhana saat itu memiliki Viveka, sedangkan Dharmaraja hanya memiliki sedikit saja. Itulah sebabnya Dharmaraja kalah.’ (Uddhava limbung dan bingung. Krishna melanjutkan)
‘Waktu Duryodhana memiliki banyak uang dan kekayaan untuk bermain judi, ia tidak tahu caranya main dadu. Itu sebabnya ia menggunakan pamannya Shakuni untuk bermain ketika ia bertaruh. Itulah Viveka. Sebenarnya, Dharmaraja juga bisa berpikir seperti itu dan meminta-Ku, sepupunya, untuk bermain atas namanya.      
Jika Shakuni dan Aku bermain dadu, menurutmu siapakah yang akan menang?
Dapatkah ia memunculkan angka yang aku sebut atau akankah Aku memunculkan angka yang ia minta? Lupakan ini. Aku bisa memaafkan kenyataan bahwa Dharmaraja lupa melibatkan-Ku dalam permainan dadu ini. Namun, tanpa Viveka, ia melakukan kesalahan lagi.
Ia berdoa agar Aku tidak datang ke ruang pertemuan karena ia tidak ingin Aku tahu bahwa nasib buruknya telah membuatnya dipaksa untuk main dadu. Ia mengikat-Ku dengan doanya dan tidak mengijinkan Aku untuk masuk ke ruang pertemuan; padahal Aku sedang berada di sisi luar ruang tersebut, menunggu seseorang memanggilku melalui doa mereka.
Bahkan ketika Bheema, Arjuna, Nakula dan Sahadeva telah kalah dipertaruhkan, mereka hanya mengutuk Duryodhana dan merenungkan nasib mereka saja; mereka lupa memanggil-Ku.
Bahkan Draupadi tidak memanggil-Ku saat Dusshasana menjambak rambutnya dan menyeretnya untuk memenuhi perintah kakaknya. Draupadi juga berdebat di dalam ruang pertemuan sebatas kemampuannya. Ia tidak pernah memanggil-Ku. Sampai pada akhirnya akal sehat muncul; saat Dusshasana mulai melucuti pakaiannya, ia berhenti bertahan melalui kekuatannya sendiri dan mulai berseru ….‘Hari, Hari, Abhayam Krishna, Abhayam’ dan mulai berseru memanggil-Ku. Hanya pada saat itulah aku punya kesempatan untuk menyelamatkan kehormatannya.
Aku menuju padanya sesegera mungkin setelah Aku dipanggil.
Aku menyelamatkan kehormatannya. Apa kesalahanKu dalam situasi seperti itu?
‘Penjelasan yang luar biasa Kanha (Krishna), Aku terkesan sekali. Namun bagaimanapun aku tidak bisa diperdaya. Bolehkah aku mengajukan pertanyaan lain’, kata Uddhava.
Krishna memberinya ijin untuk melanjutkan pertanyaannya.
‘Apakah itu berarti Engkau hanya akan datang bila dipanggil? Apakah Engkau tidak akan datang atas kehendak-Mu sendiri untuk menolong orang di saat kritis, untuk menegakkan keadilan? tanya Uddhava.
Krishna tersenyum, ‘Uddhava, dalam hidup ini kehidupan semua orang berlangsung berdasarkan atas Karma mereka masing-masing. Aku tidak melakukan itu; Aku juga tidak ikut campur dalam hal itu. Aku hanyalah seorang ‘saksi’. Aku berdiri di sebelahmu dan mengamati apapun yang sedang terjadi. Itulah Dharma Tuhan.’
‘Wow, bagus sekali Sri Krishna. Dalam hal ini, Engkau akan berdiri dekat kami, mengamati semua tindakan jahat kami; pada saat kami terus menerus melakukan kegiatan dosa, Engkau akan terus mengamati kami. Engkau ingin kami melakukan lebih banyak kesalahan, mengumpulkan dosa dan penderitaan,’ kata Uddhava.         
Sri Krishna berkata, ‘Uddhava, mohon sadarilah arti sebenarnya dari ucapanmu. Jika kamu memahami dan menyadari bahwa ketika Aku berdiri sebagai saksi di sebelahmu, bagaimana mungkin kamu akan melakukan kegiatan yang salah atau buruk. Kamu melupakan hal ini dan menganggap dirimu mampu melakukan hal-hal tersebut tanpa sepengetahuan-Ku. Itulah yang terjadi saat kamu masuk dalam suatu masalah. Kebodohan Dharmaraja adalah bahwa ia menganggap ia dapat bermain judi tanpa sepengetahuan-Ku. Jika saja saat itu Dharmaraja menyadari bahwa Aku selalu hadir bersama setiap orang sebagai ‘Sakshi’ (saksi), tentunya permainannya akan berakhir lain, kan?’
Uddhava sangat terpesona dan diliputi oleh rasa bhakti yang melimpah. Ia berkata,
’ Sungguh suatu filsafat yang sangat luar biasa. Alangkah benarnya! Bahkan berdoa dan melakukan puja pada Tuhan serta memanggil-Nya untuk mohon pertolongan semuanya bukanlah apa-apa dan tidak lain dan tidak bukan adalah rasa serta keyakinan kita.
Begitu kita mulai yakin bahwa tiada sesuatu apapun bergerak tanpa-Nya, bagaimana kita bisa tidak merasakan kehadiranNya sebagai saksi? Bagaimana kita bisa melupakan kenyataan ini dan bertindak tanpa-Nya?
Melalui Bhagavad Gita, inilah filsafat yang Sri Krishna tanamkan pada Arjuna.
Ia adalah kusir kereta dan juga pemandu jalan bagi Arjuna, namun Ia sendiri tidak ikut berperang.”
– Sadarilah Saksi Yang Utama yang ada di dalam dirimu dan sekaligus meliputi dirimu di luar!
Dan leburlah dalam kesadaran Ketuhanan itu!
Temukanlah Dirimu yang sejati – Kesadaran Murni Utama yang penuh Cinta Kasih dan Kebahagiaan!
Jangan pernah melupakan Tuhan Sri Krishna !
Jay Radhe – Krishna. Hari Om Tat Sat


Selasa, 14 Juli 2015

MUSNAHNYA BANGSA YADAVA KRISHNA OLEH KUTUKAN GANDHARI



SRI KRISHNA meninggalkan dunia material ini di usia 125 tahun, 7 Bulan, 6 hari, pada jam 14:27:30 tanggal 18 Februari 3102 SM, di tepi sungai Hiran, Prabahs Patan (Gujarat). Perhitungan ini dinyatakan berdasarkan petunjuk dari kitab-kitab kuno dengan perincian: Visnu Purana dan Bhagavad Gita menyatakan Ia "meninggalkan" Dwaraka 36 tahun setelah perangMahabharata. Matsya Purana menyatakan ketika perang Mahabharata, Ia berusia 89 tahun
Vishnu Purana 4.24 dan 5.38 juga Srimad Bhagavata/Bhagavata Purana 1.18.6 menyatakan bahwa era Kaliyuga mulai bertepatan dengan wafatnya Krisna.
Usia Krisna saat perang kurusetra adalah 89 tahun [Yudistira yang saat Perang di kurustra berusia 91 tahun dan Krishna lebih muda 2 tahun dari Yudistira]
Stri Parva 11.25: Gandhari, di saat prosesi upacara penyelesaian kematian bangsa kuru setelah perang di kurusetra, menyampaikan kutukan pada Krisna bahwa 36 tahun kemudian bangsa Yadawa akan musnah, tahun ini juga yang akan menjadi akhir kehidupan Krisna.
Srimad Bhagavata 11.6.25: Brahma mengatakan telah 125 musim gugur berlalu sejak krisna lahir yang diucapkan di menjelang hancurnya bangsa Yadawa.

Bagaimana wafatnya Krisna dan apa pesan terakhirnya?
Striparva
Ketika dilangsungkan upacara pembakaran mayat, semua anak menantu Gandari telah menjadi janda dan menangis sedih di hadapan mayat-mayat suami yang telah tewas. Gandari juga ada di tempat itu. Para Pandawa dengan ditemani oleh Kunti dan Sri Krisna juga hadir di iringi oleh rakyat yang merasa sangat sedih karena kehilangan sanak saudara mereka. krisna menghibur Gandari, dan berkara, ‘ Mengapa Ibunda menangis? Inilah dunia Ibupun pada suatu ketika akan meninggalkan dunia ini. lalu mengapa menangis?’. Gandari menjawab, ‘Kalau saja anda tidak merencanakan hal ini maka semua anak-anak-ku akan hidup, tidak terbunuh seperti ini. Krisna menjawab, ‘Perang untuk menegakan Dharma tidak dapat dicegah. Apa yang dapat kuperbuat, aku hanya suatu alat’. Lalu Gandari berkata, ‘Paduka ini Taraka Brahma. Apabila paduka menghendaki, paduka bisa mengubah pikiran mereka tanpa perlu melakukan pertempuran’.Biarlah seluruh dunia melihat dan menarik pelajaran.
Selanjutnya Gandari mengucapkan sumpah, ‘Seperti halnya anggota keluargaku mengalami kehancuran dihadapan mataku sendiri demikianlah hendaknya anggota keluarga paduka mengalami kehancuran dihadapan mata paduka sendiri’
Krisna tersenyum dan menjawab, ‘Semoga demikian’. ”Sebelum kau mengatakannya, aku sudah tahu apa yang akan terjadi padaku dan bangsaku, tiga puluh enam tahun sejak sekarang.
Aku tahu dengan cara apa aku akan pergi meninggalkan dunia ini.”
Sri Krishna menerima sumpah itu. Ia ingin menunjukkan bahwa kekuatan moral itu mempunyai nilai dalam kehidupan dan kekuatan itu harus diakui adanya.
Kutukan Gandhari menurut terjemahan dari Kisari Mohan Ganguli, tr (Striparva, Bab ke-25):          
..."Gandhari berkata, O Krishna, baik ‘Pandawa dan Dhartarashtra, keduanya telah terbakar. keduanya terbasmi, O Janardana, mengapa engkau abaikan mereka? Engkau sangat kompenten mencegah pembantaian ini, Engkau punya sejumlah besar pengikut dan berkekuatan besar. Engkau sangat fasih berbicara, dan engkau punya kekuatan (untuk mewujudkan perdamaian). Karena dengan sengaja, O pembunuh dari Madhu, engkau acuh tak acuh terhadap pembantaian massal ini, oleh karenanya, O Senjata yang paling perkasa, engkau seharusnya menuai buah tindakan ini. Dengan kebaikan kecil yang telah aku dapatkan dari kepatuhanku melaksanakan kewajiban pada suamiku, dengan pahala itu yang begitu sulit diperoleh, aku akan mengutuk engkau, O pemilik cakram dan gada! Karena engkau telah mengabaikan para Kuru dan Pandawa sehingga saling membunuh satu sama lainnya, oleh karenanya, O Govinda, engkau akan menjadi pembunuh sanak-Mu sendiri! Pada tahun ke 36 sejak sekarang, O pembunuh dari Madhu, engkau, setelah menyebabkan pembantaian kerabatMu, teman-temanMu dan anak-anakMu, binasa dengan cara menjijikkan di padang gurun. Para wanita dari ras-Mu, kehilangan anak, sanak saudara, dan teman-teman, akan meratap dan menangis seperti para wanita dari ras Bharata ini!'"
Vaishampayana melanjutkan, "Mendengar kata-kata ini, Vasudeva Sang Jiwa utama, kepada Gandhari, mengatakan kepadanya kata-kata ini, dengan senyum tipis,"Tidak ada di dunia, yang menyelamatkan diri, yang mampu membasmi bangsa Vrishni. Aku tau ini dengan pasti. Aku akan wujudkan. Dalam mengucapkan kutukan ini, O ini kaulmu yang sangat baik, Engkau telah membantu aku menyelesaikannya. Bangsa Vrishni tidak mampu dibunuh oleh yang lainnya, baik itu para manusia atau dewa atau Danava. Bangsa Yadawa, karenanya akan musnah oleh tangan mereka sendiri." Setelah Ia dari ras Dasharha mengatakan ini, Pandawa menjadi terheran-heran. Dipenuhi dengan kecemasan, mereka semua menjadi hidup tersia-sia!
Mosalaparwa
Mosalaparwa atau Mausalaparwa mengisahkan musnahnya para Wresni, Andhaka dan Yadawa, sebuah kaum di Mathura-Dwaraka (Dwarawati) tempat Sri Krishna memerintah. Kisah ini juga menceritakan wafatnya Raja Krishna dan saudaranya, Raja Baladewa.
Diceritakan bahwa pada saat Yudistira naik tahta, dunia telah memasuki zaman Kali Yuga atau zaman kegelapan. Beliau telah melihat tanda-tanda alam yang mengerikan, yang seolah-olah memberitahu bahwa sesuatu yang mengenaskan akan terjadi. Hal yang sama dirasakan oleh Kresna. Ia merasa bahwa kejayaan bangsanya akan berakhir, sebab ia melihat bahwa banyak pemuda Wresni, Yadawa, dan Andhaka yang telah menjadi sombong, takabur, dan senang minum minuman keras sampai mabuk.
Pada suatu hari, Narada beserta beberapa resi berkunjung ke Dwaraka. Beberapa pemuda yang jahil merencanakan sesuatu untuk mempermainkan para resi. Mereka mendandani Samba (putera Kresna dan Jembawati) dengan busana wanita dan diarak keliling kota lalu dihadapkan kepada para resi yang mengunjungi Dwaraka. Kemudian salah satu dari mereka berkata, "Orang ini adalah permaisuri Sang Babhru yang terkenal dengan kesaktiannya. Kalian adalah para resi yang pintar dan memiliki pengetahuan tinggi. Dapatkah kalian mengetahui, apa yang akan dilahirkannya? Bayi laki-laki atau perempuan?". Para resi yang tahu sedang dipermainkan menjadi marah dan berkata, "Orang ini adalah Sang Samba, keturunan Basudewa. Ia tidak akan melahirkan bayi laki-laki ataupun perempuan, melainkan senjata mosala yang akan memusnahkan kamu semua!" (mosala = gada)
Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Sang Samba melahirkan gada besi dari dalam perutnya. Atas perintah Raja Ugrasena, senjata itu kemudian dihancurkan sampai menjadi serbuk. Beberapa bagian dari senjata tersebut sulit dihancurkan sehingga menyisakan sepotong besi kecil. Setelah senjata tersebut dihancurkan, serbuk dan serpihannya dibuang ke laut. Lalu Sang Baladewa dan Sang Kresna melarang orang minum arak. Legenda mengatakan bahwa serbuk-serbuk tersebut kembali ke pantai, dan dari serbuk tersebut tumbuhlah tanaman seperti rumput namun memiliki daun yang amat tajam bagaikan pedang. Potongan kecil yang sukar dihancurkan akhirnya ditelan oleh seekor ikan. Ikan tersebut ditangkap oleh nelayan lalu dijual kepada seorang pemburu. Pemburu yang membeli ikan itu menemukan potongan besi kecil dari dalam perut ikan yang dibelinya. Potongan besi itu lalu ditempa menjadi anak panah.
Setelah senjata yang dilahirkan oleh Sang Samba dihancurkan, datanglah Batara Kala, Dewa Maut, dan ini adalah pertanda buruk. Atas saran Kresna, para Wresni, Yadawa dan Andhaka melakukan perjalanan suci menuju Prabhastirtha, dan mereka melangsungkan upacara di pinggir pantai. Di pantai, para Wresni, Andhaka dan Yadawa tidak bisa menghilangkan kebiasaan buruk mereka, yaitu minum arak sampai mabuk. Dalam keadaan mabuk, Satyaki berkata, "Kertawarma, kesatria macam apa kau ini? Dalam Bharatayuddha dahulu, engkau telah membunuh para putera Dropadi, termasuk Drestadyumna dan Srikandi dalam keadaan tidur. Perbuatan macam apa yang kau lakukan?". Ucapan tersebut disambut oleh tepuk tangan dari Pradyumna, yang artinya bahwa ia mendukung pendapat Satyaki. Kertawarma marah dan berkata, "Kau juga kejam, membunuh Burisrawa yang tak bersenjata, yang sedang meninggalkan medan laga untuk memulihkan tenaga".
Setelah saling melontarkan ejekan, mereka bertengkar ramai. Satyaki mengambil pedang lalu memenggal kepala Kertawarma di hadapan Krishna. Melihat hal itu, para Wresni marah lalu menyerang Satyaki. Putera Rukmini menjadi garang, kemudian membantu Satyaki. Setelah beberapa lama, kedua kesatria perkasa tersebut tewas di hadapan Krishna. Kemudian setiap orang berkelahi satu sama lain, dengan menggunakan apapun sebagai senjata, termasuk tanaman eruka yang tumbuh di sekitar tempat tersebut. Ketika dicabut, daun tanaman tersebut berubah menjadi senjata setajam pedang. Dengan memakai senjata tersebut, para keturunan Wresni, Andhaka, dan Yadu saling membunuh sesama. Tidak peduli kawan atau lawan, bahkan ayah dan anak saling bunuh. Anehnya, tak seorang pun yang berniat untuk meninggalkan tempat itu. Dengan mata kepalanya sendiri, Krishna memperhatikan dan menyaksikan rakyatnya digerakkan oleh takdir kehancuran mereka. Dengan menahan kepedihan, ia mencabut segenggam rumput eraka dan mengubahnya menjadi senjata yang dapat meledak kapan saja. Setelah putera dan kerabat-kerabatnya tewas, ia melemparkan senjata di tangannya ke arah para Wresni dan Yadawa yang sedang berkelahi. Senjata tersebut meledak dan mengakhiri riwayat mereka semua.
Akhirnya para keturunan Wresni, Andhaka dan Yadu tewas semua di Prabhasatirtha, dan disaksikan oleh Krishna. Hanya para wanita dan beberapa kesatria yang masih hidup, seperti misalnya Babhru dan Bajra. Krishna mampu menyingkirkan kutukan brahmana yang mengakibatkan bangsanya hancur, namun ia tidak mau mengubah kutukan Gandari, Ia mengetahui bahwa tidak ada yang mampu mengalahkan bangsa Wresni, Yadawa dan Andhaka kecuali diri mereka sendiri. Bangsa itu mulai senang bermabuk-mabukan sehingga berpotensi besar mengacaukan Bharatavarsa yang sudah berdiri kokoh. Setelah menyaksikan kehancuran bangsa Wresni, Yadawa, dan Andhaka dengan mata kepalanya sendiri. Kemudian Balarama pergi ke hutan, sedangkan Krishna mengirim utusan ke kota para Kuru, untuk menempatkan wanita dan kota Dwaraka di bawah perlindungan Pandawa; Babhru disuruh untuk melindungi para wanita yang masih hidup sedangkan Daruka disuruh untuk memberi tahu para keturunan Kuru bahwa Wangsa Wresni, Andhaka, dan Yadawa telah hancur. ke hadapan Raja Yudistira di Hastinapura.
Sri Krishna kemudian pergi ke hutan tempat dimana Balarama menunggunya. Krishna menemukan kakaknya duduk di bawah pohon besar di tepi hutan; ia duduk seperti seorang yogi. Kemudian ia melihat seekor ular besar keluar dari mulut kakaknya, yaitu naga berkepala seribu bernama Ananta, dan melayang menuju lautan yang di mana naga dan para Dewa datang berkumpul untuk bertemu dengannya.
Dalam Bhagawatapurana dikisahkan setelah Baladewa ambil bagian dalam pertempuran yang menyebabkan kehancuran Dinasti Yadu Setelah itu Ia duduk bermeditasi di bawah pohon dan meninggalkan dunia dengan mengeluarkan ular putih besar dari mulutnya, kemudian diangkut oleh ular tersebut, yaitu Sesa.
Setelah menyaksikan kepergian kakaknya, Sri Krishna kemudian duduk disebuah batu dibawah pohon di Prabhasa Tirta, mengenang segala peristiwa Ia tahu bahwa sudah saatnya ia ‘kembali’. Kemudian ia memulai menutup panca indrianya melakukan yoga dengan sikap Lalita Mudra. Bagian dibawah kakinya berwarna kemerah-merahan.
Saat itu ada seorang Vyadha (pemburu) bernama Jara, setelah seharian tidak mendapat buruan, melihat sesuatu berwarna kerah-merahan, Ia pikir, ‘Ah, akhirnya kutemukan juga buruanku’, Ia memanahnya dengan panah yang berasal dari sepotong besi yang berasal dari senjata mosala yang telah dihancurkan kemudian panah itu diberi racun. Ia memanah dan panah itu tepat mengenai benda kemerah-merahan itu. Jara, sang Pemburu segera berlari ketempat itu untuk menangkap mangsanya dan dilihatnya Sri Krishna yang berjubah kuning sedang melakukan Yoga namun dengan tubuh kebiru-biruan akibat menyebarnya racun panah itu. Jara kemudian meminta ma'af atas kesalahannya itu. Sri Krishna tersenyum dan berkata, ‘Kesalahan-kesalahan sedemikian ini jamak dilakukan manusia. Seandainya aku adalah engkau tentu akupun melakukan kesalahan itu. Kamu tidak dengan sengaja melakukannya. Jangan di pikir. Kamu tidak tahu sebelumnya aku berada di tempat ini. Kamu tidak dapat dihukum secara hukum maupun moral, Aku mengampunimu. Aku sudah menyelesaikan hidupku’. Ini adalah hukum sebab akibat bahwa Sri Rama pada zaman Dwapara Yuga menitis sebagai Sri Krishna. Sedangkan Sita disebutkan karena tidak suka dibakar oleh Sri Rama yang meragukan kesuciannya kala disandera Rahwana, menitis sebagai Subadra, saudari Sri Krishna dan menjadi istri Arjuna. Karena Subali sudah memaafkan tindakan Sri Rama, maka dia tidak perlu lahir kembali untuk membalas memanah Sri Krishna, Seorang pemburu bernama Jara yang memanah Sri Krishna hingga Sri Krishna menemui pralaya…..
Ketika Daruka tiba di Hastinapura, ia segera memberitahu para keturunan Kuru bahwa keturunan Yadu di Kerajaan Dwaraka telah binasa karena perang saudara. Beberapa di antaranya masih bertahan hidup. Setelah mendengar kabar sedih tersebut, Arjuna mohon pamit demi menjenguk Basudewa (Sri Krishna). Dengan diantar oleh Daruka, ia pergi menuju Dwaraka.
Setibanya di Dwaraka, Arjuna mengamati bahwa kota tersebut telah sepi. Ia juga berjumpa dengan Orang-orang tua, anak-anak, janda-janda yang ditinggalkan mati oleh para suaminya di dalam peperangan, Arjuna bersama para ksatria yang tersisa kemudian membawa pergi para Brahmana, Ksatria, waisya, sudra, wanita dan anak-anak Wangsa Wresni, untuk menyebarkannya di sekitar Kurukshetra.
Kemudian Arjuna bertemu dengan Basudewa yang sedang lunglai. Setelah menceritakan beberapa pesan kepada Arjuna, Basudewa mangkat.
Sesuai dengan amanat yang diberikan kepadanya, Arjuna mengajak para wanita dan beberapa kesatria untuk mengungsi ke Kurukshetra. Sebab menurut pesan terakhir dari Sri Krishna, kota Dwaraka akan disapu oleh gelombang samudra, tujuh hari setelah ia wafat.
Dalam perjalanan menuju Kurukshetra, rombongan Arjuna dihadang oleh sekawanan perampok. Anehnya, kekuatan Arjuna seoleh-oleh lenyap ketika berhadapan dengan perampok tersebut. Ia sadar bahwa takdir kemusnahan sedang bergerak. Akhirnya beberapa orang berhasil diselamatkan namun banyak harta dan wanita yang hilang. Di Kurukshetra, para Yadawa dipimpin oleh Bajra.   
Setelah menyesali peristiwa yang menimpa dirinya, Arjuna menemui kakeknya, yaitu Resi Byasa. Atas nasihat beliau, para Pandawa serta Dropadi memutuskan untuk melakukan perjelanan suci untuk meninggalkan kehidupan duniawi.

Sabtu, 06 Juni 2015

SISA PENINGGALAN HINDU DI IRAQ



Sisa peninggalan peradaban Hindu di Iraq         
6000 year old Lord Rama and Hanuman carvings in Silemania, Iraq.

Nama-nama Irak dan Iran diturunkan dari Sanskrit. Akar katanya yang umum adalah “Ir”, seperti yang ditemukan dalam kata Sungai Irawati di Myanmar (Burma). Nama “Iranam” dalam Sanskrit, darimana nama Iran diturunkan, dipakai untuk menunjukkan daerah bergaram dan tandus. Ini adalah nama wilayah yang diberikan oleh para penguasa atau administratur yang berbicara Sanskrit. Ibukota Irak, Baghdad, juga memiliki sebuah nama yang didasarkan atas Sanskrit, Bhagwad atau Bhagwan Nagar, yaitu merujuk pada Nagar (sebuah kota) yang dipersembahkan kepada Bhagwan (Tuhan). Itu kemudian disingkat menjadi Bhagdad, yang berarti “Kota Tuhan”.
Satu hal yang menarik adalah bahwa kelurga kerajaan Iran, Pehlavi, memiliki akarnya dalam tradisi Kshatriya. Sebutan gelar “Shah” juga adalah nama Vedic dan juga adalah nama belakang yang umum untuk orang Hindu. Raja Hindu Nepal juga memiliki gelar “Shah”. Raja Kshatriya dari Gwalior yang dipecat oleh Muslim adalah Ram Shah. Seorang patriot kaya-raya yang menyumbangkan seluruh hartanya kepada Rana Pratap untuk membantu mempertahankan India adalah Bhama Shah. Oleh sebab itu, gelar “Shah” di Iran hanya mengingatkan kita kepada tradisi para Kshatriya India yang pernah memerintah wilayah Iran. Kenyataannya, ketika Iran mulai diserang oleh invasi tentara Islam, banyak orang-orang biasa melarikan diri ke India. Sejarah juga mencatat bahwa keluarga kerajaan pada waktu itu juga diperkirakan melarikan diri meninggalkan Iran untuk mencari perlindungan di India. Jadi dengan adanya bukti bahwa orang-orang umum dan penguasa Iran berpikir untuk datang ke India selama masa penaklukan oleh tentara Islam membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang Hindu, bagian dari peradaban Veda.
Rig-veda, karena merupakan pustaka suci yang paling tua, dan bahasanya adalah Sanskrit, menyediakan bukti bahwa Sanskrit adalah nenek moyang dari semua bahasa yang diketahui. Bahasa Persia juga, karenanya merupakan sebuah dialek turunan Sanskrit. Sebagai contoh, banyak kota di Iran memiliki nama Sanskrit. Tempat kelahiran Omar Khayam, sastrawan Persia terkenal, adalah Nishapur, yang adalah murni sebuah nama Sanskrit. Tentara India yang ditugaskan di Asia Barat selama Perang Dunia I dan II melaporkan telah melihat kuil-kuil deity India seperti Ganesha dan Shankar (Shiva) dalam kondisi rusak di suatu daerah terpencil di Iran, Afghanistan, dan negara-negara lain. Mytologi penduduk Iran juga memiliki kaitan dengan cerita-cerita Veda.
Satu hal yang lebih menarik adalah bahwa penduduk Iran juga mengetahui tentang Lord Rama, sebagaimana disebutkan oleh Koenraad Elst dalam bukunya, Indigenous Indians: Agastya to Ambedkar (Voice of India, New Delhi, 1993). Ia menulis bahwa menurut Ghosh, nama Rama muncul pada bagian paling awal Avesta sebagai dewa perdamaian, ditemani oleh Vayu, dewa angin. Penyebutan tentang Vayu ini sepertinya yang dimaksud adalah Hanuman, pemuja dan kawan terdekat Rama, putra dewa Vayu. Vasistha, gurunya Rama, juga disebut sebagai Vahista, yang memiliki Gatha-nya sendiri yang dipersembahkan untuknya, Vahishte-Ishti-Gatha. Ini adalah sebelum revolusi Zoroastrian. Juga, banyak ritual penduduk Iran mirip dengan tata cara Veda, seperti pemakaian benang suci. Jadi ini mencerminkan migrasi penduduk Iran permulaan keluar India sejak jaman dahulu, pada sekitar 1900 atau 1800 B.C.
Bukti lebih jauh lagi adalah bahwa demon utama dalam Avesta adalah Angra Mainyu, yang adalah Angira dan Manyu dari Rigvedic. Keluarga Angira adalah salah satu keluarga besar rishi dalam Rig-veda, sementara Manyu adalah Indra dalam wujud sebagai perusak di dalam Rig-veda (10.83 & 10.84). Nama-nama dewa penduduk Iran mirip dengan di Veda:
IRANIAN——— —–VEDIC
Ahura —————–Asura
Mithra———– ——Mitra
Naonhaithya (demon)—Nasatya
Thrita & Athvya——–Trita/Aptya
Aspina—————–Ashvina
Yima——————-Yama
Vivanhant————–Vivasvat
Indra (demon)———-Indra (demigod)
Yashna—————–Yajna (diucapkan Yagya, ritual)
Athravan (pendeta)—–Atharvan
Haoma—————–Soma

Senin, 25 Mei 2015

KISAH RADHEYA KARNA, SANG KSATRYA



Karna adalah salah satu tokoh penting dalam Mahabharata. Ia adalah putra tertua Kunti, sehingga merupakan saudara seibu Pandava dan merupakan yang tertua dari keenam saudara tersebut. Walaupun Duryodhana menunjuknya sebagai raja Angga, perannya dalam kisah Mahabharata jauh melebihi peran seorang raja. Karna bertarung di pihak Kaurava dalam perang di Kurukshetra.
Semasa mudanya, Kunti merawat resi Durvasa selama satu tahun. Sang resi sangat senang dengan pengabdian yang diberikan olehnya sehingga memberikan anugerah untuk memanggil salah satu dari para dewa dan dewa yang dipilihnya tersebut akan memberiknya seorang putra yang mempunyai sifat baik menyamai dewa tersebut. Karena ragu-ragu apakah anugerah tersebut benar, Kunti―selagi masih belum menikah―memutuskan untuk mencoba mantra tersebut dan memanggil dewa matahari, Bathara Surya. Ketika Surya menampakkan diri di depannya, Kunti terpesona. Karena terikat mantra Durvasa, Surya memberinya seorang anak secemerlang dan sekuat dirinya, walaupun Kunti sendiri tidak menginginkan anak. Dengan kesaktian Surya, Kunti tetap tidak ternodai keperawanannya. Sang bayi adalah Karna, lahir dengan baju besi (kavacha) dan anting-anting (kundala) untuk melindunginya.
Kunti kini berada dalam posisi yang memalukan sebagai seorang ibu seorang anak tanpa ayah. Karena tidak mau menanggung malu ini, ia meletakkan Karna ke dalam keranjang dan menghanyutkannya bersama dengan perhiasannya, berdoa agar bayi tersebut selamat.
Bayi Karna terhanyut di Sungai Gangga dan ditemukan oleh seorang pengemudi kereta bernama Adhiratha, seorang Suta (campuran antara Brahmin dengan Khsatriya). Adhiratha dan istrinya Radha membesarkan Karna sebagai anak mereka dan memberinya nama Vasusena karena baju besi dan antingnya. Mereka mengetahui latar belakang Karna dari perhiasan yang ditemukan bersamanya, dan tidak pernah menyembunyikan kenyataan bahwa mereka bukan orang tua Karna yang sebenarnya. Karna juga disebut Radheya karena nama ibunya Radha. Adiknya, Shon, lahir dari Adhiratha dan Radha setelah kedatangan Karna.
Ikatan antara Radheya dan keluarga angkatnya merupakan hubungan berdasarkan cinta dan rasa hormat yang murni. Radheya menghormati Adhiratha di depan teman-teman khsatriya-nya, dan dengan penuh rasa cinta tetap melaksanakan tugasnya sebagai seorang anak dalam keluarga angkatnya meskipun ia telah menjadi raja Angga dan mengetahui asal-usul kelahirannya.
Radheya ingin menjadi seorang prajurit besar. Maka ia mengembara ke Hastinapura bersama dengan ayah dan adik angkatnya. Di sana menguasai ilmu kanuragan dengan belajar kepada Drona, walaupun ia belajar tidak bersama dengan para pangeran (Pandava dan Kaurava) karena dipandang berasal dari kasta yang rendah. Radheya menguasai semua ilmu yang diajarkan, terutama ilmu memanah. Ketika Pandava diusir ke hutan selama 14 tahun, Duryodhana meminta Radheya untuk menguasai Brahmastra, salah satu senjata terkuat yang ada. Hanya beberapa orang yang mengetahui hal ini termasuk Drona, Arjuna, Bhisma dan Ashwathama (anak Drona). Ia pertama-tama mendekati Drona, guru Pandava dan Kaurava, tetapi Drona menolak untuk mengajarinya karena kastanya yang rendah. Ia kemudian meminta Parashurama, guru besar yang lain, untuk mengajarinya seni berperang terutama untuk menguasai Bhramashtra. Parashurama tidak akan mengajari seorang khsatriya karena rasa bencinya pada kaum khsatriya yang telah membunuh orangtuanya. Maka untuk mendapatkan ilmu, Radheya berbohong tentang asal usulnya dan mengaku sebagai seorang Brahmin.
Suatu saat, ketika Parashurama sedang tidur dengan kepala di pangkuan Radheya, seekor serangga menggigit pahanya. Ini menyebabkan paha Radheya berdarah dan ia pun merasakan kesakitan yang amat sangat. Namun Radheya bertahan untuk tidak bergerak agar gurunya tidak terbangun. Darah yang menetes dari paha Radheya memercik ke muka Parashurama dan membuatnya terbangun. Melihat apa yang terjadi Parashurama mengetahui bahwa Radheya bukanlah seorang Brahmin karena hanya seorang khsatriya yang dapat menahan sakit seperti itu. Radheya mengaku bahwa ia telah berbohong, dan Parashurama yang marah mengutuk Karna: ia tidak akan bisa mengeluarkan ilmunya pada saat di mana ia paling membutuhkannya. Sebelum Parashurama, seorang brahmin yang lain pernah mengutuk Radheya bahwa Radheya akan dibunuh ketika ia dalam keadaan tak berdaya, hal ini disebabkan karena Radheya telah membunuh sapi kesayangan brahmin tersebut.
Suatu saat sebuah turnamen diadakan untuk menentukan perajurit yang terkuat setelah ‘lulus’ dari pendidikan Drona. Dalam perlombaan itu Arjuna keluar sebagai yang terbaik dan Duryodhana takut padanya. Kemudian Radheya muncul dan menantang Arjuna. Dalam pertanding yang berlangsung kemudian, Radheya dapat mengimbangi semua keahlian Arjuna. Untuk menentukan pemenang yang sesungguhnya, Radheya menantang Arjuna untuk bertempur satu lawan satu di mana kemenangan salah satu pihak ditentukan dengan kematian lawannya. Dengan alasan bahwa Radheya berasal dari kasta yang lebih rendah dari Arjuna, Drona menolak usul Radheya tersebut. Duryodhana yang memang menyimpan rasa iri dan takut kepada Pandava seketika memberikan tahta kerajaan Angga kepada Radheya, sehingga Radheya menjadi seorang raja dan dengan demikian pantas untuk menantang Arjuna berduel sampai mati. Tindakan Duryodhana ini menanamkan benih kesetiaan Radheya kepadanya. Tetapi akhirnya duel tersebut tetap tidak terwujud.
Ketika Pandava mengasingkan diri, Radheya membebankan kepada dirinya sendiri tugas untuk menjadikan Duryodhana penguasa dunia. Radheya memimpin pasukan ke negara-negara sekitar untuk menaklukkan raja-rajanya di bawah kekuasaan Duryodhana. Radheya berhasil menang dalam semua pertempuran yang dilaluinya, walaupun kepatuhan raja-raja tersebut tidak semuanya berlangsung lama (sebagian tetap memihak kepada Pandava dalam perang Bharatayudha).
Tragedi Dalam Hidup Radheya
Pertemuan dengan Kunti       
Sebelum perang Bharatayudha Kunti mendekati Radheya dan memintanya untuk bergabung dengan Pandava dan menyatakan bahwa Karna adalah pewaris sebenarnya tahta Hastinapura (sebagai sulung dari Pandava). Radheya menolak tawaran ini karena Kunti membuangnya waktu kecil dan juga setelah ia dewasa. Radheya berkata bahwa karena Duryodhana selalu setia kepadanya sebagai seorang sahabat, ia akan membela pihak Kaurava. Kunti lalu meminta Radheya untuk berjanji untuk tidak membunuh kelima anaknya. Radheya berjanji bahwa setelah perang Bharatayudha, lima anak Kunti akan tetap hidup, Kunti lega mendengar janji Radheya ini. Yang tersembunyi dari janji ini adalah bahwa sebenarnya Kunti memiliki enam orang anak (termasuk Radheya sendiri), maka bila Radheya bertemu dengan para Pandava ia akan melepaskan mereka kecuali satu orang: Arjuna. Karena Radheya adalah salah satu dari sedikit yang sanggup menghadapi Arjuna dan di antara mereka telah terjadi persaingan yang sengit.
Pertemuan dengan Indra       
Dewa Indra, raja para dewa dan ayah Arjuna, menyadari bahwa kavachadan kundala Radheya tidak dapat ditembus oleh senjata apapun, dengan demikian menjadikan Radheya tidak terkalahkan. Ia memutuskan untuk menyamar sebagai seorang brahmana miskin tepat sebelum Radheya mandi. Krihsna mengetahui keutamaan moral Radheya dan bahwa Radheya tidak akan menolak permintaan apapun baik dari seorang brahmana maupun seorang pengemis pada saat tersebut (setelah pemujaan terhadap Surya). Surya, dewa matahari dan ayah Radheya , mengingatkan Radheya dalam mimpi bahwa Indra akan menyamar sebagai seorang brahmana dan meminta baju besi serta antingnya. Karna tidak mengetahui bahwa Surya adalah ayahnya. Seperti yang telah diduga oleh Surya, atas nasihat dari Krishna, Indra yang menyamar mendekati Radheya dan meminta sedekah berupa baju kavacha dan kundala-nya. Radheya tahu bahwa dengan memberikan kedua hal tersebut, ia tidak lagi tak terkalahkan. Tetapi karena telah menjadi komitmennya maka ia tetap memberikan kedua benda tersebut. Indra kagum akan kebaikan hati Radheya, sehingga menawarkan Radheya untuk memakai senjatanya (Shakti) tetapi hanya untuk satu kali saja.
Percakapan dengan Krishna  
Krishna pernah berusaha membujuk Radheya untuk membela Pandava. Percakapan ini, yang terjadi ketika Krishna meninggalkan Hastinapura setelah misi perdamaian yang gagal (lakon Kresna Duta dalam wayang purwa), berpusat kepada kebenaran moral yang mendasari alasan Pandava berperang. Walaupun Krishna menyadari kebaikan Duryodhana kepada Radheya, ia berargumen bahwa Radheya memiliki kewajiban yang lebih tinggi, mengikutinya dalam jalan kebenaran. Ketika Radheya mengatakan bahwa beralih pihak kepada Pandava adalah tindakan yang tidak terhormat, Krishna mengingatkan Radheya akan kisah Ramayana,Vibheesena, saudara Ravana memilih untuk berpihak kepada Rama setelah tidak berhasil membujuk kakaknya itu untuk merubah tindakan jahatnya.
Di sinilah rasa setia kawan Radheya ditunjukkan. Radheya memberitahu Krishna, ia mengetahui bahwa Duryodhana tidak mengikuti kebenaran, dengan mendukungnya berarti ia juga tidak mengikuti kebenaran, dan pada akhirnya ia akan menghadapi kekalahan dan kematian karenanya. Tapi ia tetap memutuskan untuk membela Duryodhana. Ia berkata kepada Krishna, “Sepanjang hidupku orang menganggapku anak seorang tukang kuda dahulu, baru kemudian sebagai seorang prajurit dan raja. Duryodhana adalah satu-satunya orang yang tidak hanya memandangku sebagai seorang prajurit dan raja, tetapi juga sebagai seorang yang setara dengan dirinya. Tidak pernah ia memandangku sebagai seorang anak tukang kuda. Ketika temanku ini membutuhkan dukungan, masihkah engkau mengharapkanku untuk meninggalkannya?”
Keutamaan dan Ketercelaan Radheya dalam Perang Bharatayudha
Pada saat perang, Radheya bertemu dengan masing-masing Pandava (kecuali Arjuna), mengalahkan mereka, dan bahkan mampu untuk membunuh mereka. Tetapi Karna menepati janjinya kepada Kunti untuk tidak membunuh mereka.
Pada perang hari ke-13, Drona mengatur formasi pasukan yang disebut Chakravyuha. Hanya Krishna dan Arjuna di pihak Pandava yang mengetahui cara membuyarkan formasi ini; tetapi Krishna dan Arjuna dengan sengaja dialihkan perhatiannya oleh pihak Kaurava ke bagian lain dari pertempuran. Abhimanyu, anak Arjuna, memiliki sebagian pengetahuan tentang formasi ini. Ia mendengarnya ketika masih dalam kandungan saat Krishna menjelaskan tentang formasi ini kepada ibunya (ibu Abhimanyu adalah Subhadra, adik Khrisna). Tetapi saat itu Khrisna tidak menjelaskan sampai selesai. Sehingga Abhimanyu mengetahui cara memasuki formasi tersebut, tetapi tidak mengetahui cara keluar darinya. Pada hari itu tidak seorang pun sanggup mengalahkan Abhimanyu yang telah berada di dalam formasi Chakravyuha. Sendirian ia menandingi jendral-jendral pihak Kaurava termasuk Radheya, Drona, dan Duryodhana. Atas perintah Drona, Duryodhana dan Radheya mengeroyok Abhimanyu (Radheya memanah busur Abhimanyu dan melumpuhkan keretanya, kemudian para Kaurava membunuh Abhimanyu. Jadi bukan Radheya sendiri yang membunuh Abhimanyu).
Pada perang hari ke-14, perang berlangsung sampai malam. Ghatotkacha, putra Bhima yang setengah raksasa, makin memporak porandakan barisan Kaurava (golongan Asura, termasuk raksasa, makin kuat di malam hari). Radheya terpaksa memakai senjata Shakti yang dipinjamnya dari Indra untuk membunuh Ghatotkacha. Karena Indra hanya memperbolehkan Radheya memakai senjata Shakti sekali saja, maka Radheya kini tanpa senjata pamungkas dan baju besi serta antingnya yang tak tertembus senjata. Radheya hanya bisa mengandalkan kesaktiannya sendiri dalam melawan Arjuna nanti.
Pada perang hari ke-15, Drona terbunuh dan Radheya menjadi senapati pasukan Kaurava.
Pada hari ke-17, Radheya akhirnya bertemu dengan Arjuna dalam pertempuran yang seru dan setanding. Karena telah kehilangan senjata pamungkas dan baju besinya, Radheya hanya mengandalkan keahlian dan kesaktiannya sendiri. Dalam suatu kesempatan, Radheya melakukan trik cerdik dengan keahliannya. Ia membuat Arjuna lumpuh sejenak dengan memanah dada Arjuna. Ketika Arjuna belum pulih dari pukulan pertama tadi, Radheya melepaskan panah ke arah kepala Arjuna untuk membunuhnya. Krishna menyelamatkan Arjuna dengan menekan kereta mereka sampai amblas ke tanah beberapa senti, sehingga panah Radheya meleset dari kepala Arjuna. Banyak orang menganggap kejadian ini sebagai bukti superioritas Radheya dari adiknya itu, paling tidak dari sisi keahlian dan kesaktian.
Saat pertempuran berlangsung, salah satu roda kereta Radheya selip di tanah berlumpur. Ini diakibatkan oleh kutukan Brahmana yang telah disebutkan di atas. Shalya yang menjadi kusir kereta Radheya tidak bisa membantu karena telah dilumpuhkan oleh Arjuna. Radheya meminta Arjuna untuk menghentikan pertempuran untuk menunggunya mengeluarkan roda kereta dari tanah berlumpur tadi. Arjuna setuju. Tetapi Krishna menyuruh Arjuna melanggar kode keprajuritan dan membunuh Radheya yang sedang tidak berdaya. Roda kereta Radheya tidak bisa digerakkan dan kutukan Parashurama membuatnya tidak bisa membela diri. Krishna mengingatkan Arjuna kekejaman Radheya ketika ikut mengeroyok Abhimanyu yang sampai mati bertarung tanpa kereta dan senjata.
Dengan penuh kemarahan dan kesedihan Arjuna melepaskan panah Anjalika ke arah Radheya. Radheya jatuh ke tanah dengan luka yang mematikan. Tetapi ujian untuknya belumlah berakhir. Krishna menyamar sebagai seorang pertapa dan meminta sedekah kepadanya. Karna yang terluka parah tidak memiliki apapun untuk diberikan, kemudian ia ingat masih memiliki satu gigi emas. Dengan penuh kesakitan Radheya melepaskan gigi emasnya, membersihkannya kemudian memberikannya kepada Krishna. Dengan demikian Radheya menjadi satu-satunya manusia yang telah memberikan sedekah kepada Vishnu sendiri. Terharu dengan kemurahan hati Radheya, Krishna memberikan kesempatan kepada Radheya untuk mengajukan satu permintaan kepadanya. Radheya meminta agar jenasahnya diperabukan di tempat yang paling suci di dunia. Sebagai Vishnu, Krishna kemudian memperabukan jenasah Radheya ditelapak tangannya.
Setelah kematian Radheya, Kunti memberitahu Pandava bahwa Radheya adalah putranya dan saudara tertua mereka. Para Pandava kemudian berkabung untuk Radheya. Yudhistira, terutama, begitu terpukul mengetahui ibunya merahasiakan kenyataan bahwa Radheya adalah saudara tertua mereka yang seharusnya mereka hormati dan patuhi. Ia kemudian mengeluarkan sabda, agar sejak saat itu semua perempuan tidak lagi bisa menyimpan rahasia apapun untuk diri mereka sendiri. Pada hari ke-18, Kaurava tertumpas. Perang Bharatayudha berakhir, dan Yudhistira menjadi raja Hastinapura.
Perbedaan dengan Arjuna      
Banyak persamaan antara Arjuna dan Radheya. Keduanya adalah ahli memanah, dan saling bersaing untuk mendapatkan Draupadi. Keduanya juga mempunyai ikatan yang erat dengan Kaurava, baik karena pertalian darah maupun karena persahabatan. Percakapan Radheya dengan Krishna sangat mirip dengan Bhagavad Gita yang terkenal itu, dalam mana Krishna menjelaskan kepada Arjuna tentang kewajibannya sebagai seorang Khsatriya. Perbedaan mereka terletak pada keputusan yang diambil oleh masing-masing, Arjuna mengutamakan tugasnya sebagai seorang Khsatriya yang harus membela kebenaran apapun yang terjadi dan Karna mengutamakan persahabatanya dengan Duryodhana.
Beberapa Pendapat yang mendukung Superioritas Karna atas Arjuna
Banyak pendapat bahwa alasan Bhisma untuk tidak memperbolehkan Radheya bertempur bersamanya ketika ia menjadi senopati adalah rasa cintanya kepada Pandava. Jika Bhisma dan Radheya muncul bersamaan di medan perang, Pandava tidak akan mampu memenangkan Bharatayudha. Saat itu Bhisma berdalih bahwa karena Radheya berasal dari kasta yang lebih rendah. Dalam suatu kejadian saat pertempuran Radheya dan Arjuna, kereta Arjuna terpental ke belakang beberapa meter oleh panah Radheya. Krishna memuji kehebatan Radheya karena hal ini. Arjuna, yang panahnya mementalkan kereta Radheya berpuluh-puluh meter, heran atas pujian Krishna ini dan meminta penjelasan kepadanya. Krishna menjawab,“Arjuna, aku sendiri yang memiliki berat seluruh alam semesta duduk di kereta ini dan kereta ini juga dilindungi oleh Hanuman (kereta Arjuna memakai bendera Hanuman). Bila hanya engkau sendiri yang ada di kereta ini, kereta ini akan terlempar mengelilingi bumi.”