Kamis, 21 Maret 2013

Menggali Makna Spiritual Hari Raya Galungan

Kode Iklan anda yang ingin ada di sebelah kiri disini
Kode Iklan anda yang ingin ada di sebelah kanan disini


Ada yang menggelitik keinginan saya untuk menulis tentang pesan tersembunyi di balik setiap perayaan hari suci keagamaan yang berlangsung di Bali khususnya dan bhumi Nusantara Indonesia ini pada umumnya yakni sebuah kebanggaan mengimani keyakinan Sanathana Dharma dalam tataran agama yang disebut Hindu karena dalam pengamalan ajaran agamanya, Hindu sangat dekat dengan alam. Berbagai ritual keagamaan dilaksanakan untuk tetap menjaga keharmonisan dengan alam lingkungan, demikian juga dengan media persembahyangannya, hanya penganut agama timur yang menyertakan atau menggunakan hasil alam untuk mewujudkan rasa terima kasih dan puji syukur kepada Tuhan yang telah memberikan hidup serta kekayaan alam untuk menunjang kehidupan itu sendiri. Tumpek uduh dalam kaitannya dengan perayaan Hari raya Galungan adalah satu dari sekian banyaknya ritual hindu yang bisa dipakai cerminan bahwa ajaran agama ini sangat memperhatikan keharmonisan hidup antara manusia dengan alam lingkungannya sebagaimana tersurat dalam ajaran Tri Hita Karana. Namun begitu ternyata masih banyak sekali pesan atau makna di balik hari raya keagamaan ini yang belum tergali maknanya secara benar sehingga hanya dijadikan sebagai sebuah rangkaian upacara yang segera lewat begitu saja tanpa memberikan sebuah transformasi nyata dalam kehidupan sehari-hari sebagai umat yang beragama. Saya teringat kejadian beberapa puluh tahun yang lalu ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saat saya menanyakan makna dari perayaan sugian jawa dan sugian bali kepada guru sekolah saya waktu itu. Sebab dalam pemahaman saya yang masih sangat terbatas, kata Sugian yang berasal dari kata dasar Sugi lalu mendapat awalan me- menjadi Mesugi (bahasa bali) yang berarti membersihkan wajah dengan air agar dapat melihat dengan lebih jelas atau sadar, lebih saya maknai dalam kata dasarnya Sugih yang artinya kaya, sedangkan kata sugi dan sugih jika mendapat akhiran –an menjadi sugian atau sugihan, walaupun bunyinya hampir sama tetapi mengandung makna berbeda. Begitulah karena salah menafsirkan akhirnya berakibat salah dalam memahami. Oleh karena itulah akhirnya saya memberanikan diri bertanya tentang latar belakang istilah Sugian Jawa dan Bali ini dan apa makna sebenarnya, apakah kalo kata sugihan yang berarti lebih kaya, dikaitkan dengan nama tempat yakni Jawa atau Bali bisa diartikan sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur atas kelimpahan materi yang didapat orang-orang di pulau jawa dan Bali? Walaupun waktu itu saya masih kecil dengan wawasan yang sangat minim, pikiran saya belum bisa menerima pemahaman seperti itu yang sangat tidak masuk akal. Namun ketika sang Guru memberikan jawaban bahwa Sugian adalah ritual penghormatan kepada Leluhur/Kawitan. (Kawitan berasal dari urat kata “Wit” berarti asal). Artinya orang yang “Wit”nya berasal dari Jawa seperti dari Blambangan, Majapahit, dll. ya pasti akan merayakan Sugian Jawa, demikian halnya dengan Sugian Bali yang dirayakan oleh mereka yang “Wit”nya memang berasal dari Bali asli. Itulah sebabnya tidak semua orang merayakan sugian ini secara bersamaan. Sepintas jawaban demikian cukup untuk menjawab keragu-raguan saya waktu masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun seiring berlalunya waktu, akhirnya saya dapati bahwa penafsiran seperti itu masih terlalu dangkal untuk bisa dipakai pemahaman umat guna mengetahui pesan yang terselip di dalam ritual itu. Oleh sebab itu, hari ini saya mencoba membagi hasil kajian saya dengan beberapa rekan muda hindu lainnya agar bisa dipakai sebagai gambaran dalam mempersiapkan diri menyongsong hari raya Galungan.


Sejarah singkat Hari Raya Galungan.
Berdasarkan Lontar Purana Bali Dvipa, Galungan pertama kali dirayakan di Bali pada saat Purnama kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun caka 804. Dalam lontar ini disebutkan “Punang aci Galungan ika ngawit Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15 isaka 804, Bangun Indria Buwana ikang Balirajya” artinya : Perayaan (Upacara) hari raya Galungan itu dimulai pada hari Rabu Kliwon (wuku) Dungulan, sasih Kapat, tanggal 15 tahun 804 Caka atau tahun 882 M. keadaan pulau Bali pada waktu itu diibaratkan seperti kediaman dewa Indra. Sejak itu Galungan dirayakan secara meriah sampai bertahan selama kurang lebih tiga abad. Akan tetapi pada tahun 1103 Caka (1181M) yaitu pada zaman pemerintahan Raja Sri Ekajaya, secara serta merta perayaan Galungan ditiadakan. Kekosongan perayaan ini berlangsung kurang lebih selama 23 tahun, yaitu sampai pemerintahan Raja Sri Dhanadi. Selama kurun waktu itu, musibah terus menerus melanda pulau Bali dan konon umur para pejabat menjadi relative pendek. Untuk mengungkap tabir itu, Sri Jaya Kesunu, yang naik tahta menggantikan Sri Dhanadi, mengadakan “Dewasraya” di Pura Dalem Puri Besakih. Dari Ida Bethari Durga yang dipuja disana, akhirnya sang raja mendapat pawisik  bahwa musibah yang melanda pulau Bali disebabkan karena kealfaan pemimpin dan masyarakat dalam melaksanakan Galungan. Sejak mendapat pawisik tersebut, akhirnya Galungan kembali dirayakan di Pulau Bali seperti sekarang.

Hari raya Galungan selama ini sering dimaknai sebagai Hari raya untuk merayakan kemenangan Dharma (Kebaikan ) melawan Adharma (Kejahatan) yang mana hal ini dikaitkan dengan cerita kemenangan Dewa Indra melawan Raksasa Maya Denava. Di India, ada upacara yang hampir mirip dengan perayaan Galungan ini yakni Hari raya Vijaya Dasami yaitu hari raya suci untuk memperingati kemenangan Sri Rama sebagai simbul kebenaran dengan Rahwana sebagai simbul kejahatan. Upacara ini juga dirayakan selama 10 hari. Rentang waktu yang sama antara Galungan dengan Kuningan yang dilaksanakan di Bali dan Indonesia pada umumnya. Selain itu PHDI juga memberikan arti tambahan atas hari raya Galungan ini yang disebutkan sebagai “Hari Pawedalan Jagat” atau “Otonan Gumi”. Namun ini bukan berarti bahwa Gumi atau Jagat semesta raya ini muncul pada hari Budha Kliwon Dungulan. Melainkan hanya sebagai momentum yang dianggap paling tepat digunakan umat hindu untuk menghaturkan puji syukur kepada Tuhan atas ketersediaannya kekayaan alam dalam memelihara kehidupan manusia.
Rangkaian hari raya Galungan beserta makna simboliknya.
Agar mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang makna atau pesan yang diselipkan para pendahulu kita dalam hari raya Galungan ini bagi transformasi umat dalam mengubah pola pikir dan tingkah lakunya agar bersesuaian dengan simbolik yang dipakai dalam rerahinan tersebut, maka kita akan mencoba membahasnya satu-persatu.

1.   Tumpek Pengatag. (Tumpek pengarah, Tumpek pengunduh,atau Tumpek unduh)
Beberapa sumber menyatakan bahwa persiapan perayaan Galungan ini telah dimulai dari hari tumpek pengatag (Hari yang diartikan sebagai otonan tumbuh-tumbuhan-bukan berarti bahwa tumbuh-tumbuhan diciptakan Tuhan pada hari ini, tetapi lebih dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan dalam aspeknya sebagai Sankara yang telah menyediakan keperluan hidup manusia dalam kaitannya dengan tumbuh-tumbuhan). Hari raya ini dilaksanakan pada hari sabtu Kliwon wuku Wariga. Menurut Lontar Sundari Bungkah, Wariga mengandung makna “Wewarah ring Raga”. Selanjutnya tumbuh-tumbuhan atau pohon (Kayu – dalam bahasa bali) merupakan symbol “Kayun” atau pikiran. Dengan demikian, di balik prosesi “ngatag” atau memberitahukan tumbuh-tumbuhan bahwa perayaan Galungan sudah dekat sehingga memerlukan banyak buah untuk dipakai persembahan, hari raya ini semestinya juga dimaknai sebagai langkah awal untuk mengingatkan diri perang antara Dharma dan Adharma dalam diri sedang berlangsung dan terus akan berlanjut sampai kita manusia tutup usia. Karenanya sangat dibutuhkan rasa mawas diri dan introspeksi agar musuh utama berupa Sad Ripu (Kemarahan,Ketamakan,Kebingungan,nafsu indria, kemabukan materi, dan juga iri hati kebencian) tidak sampai mengalahkan kata hati dan memperbudak pikiran. Jadi perayaan hari tumpek pengatag ini bukan hanya prosesi yang harus dijalani tanpa pemahaman yang jelas. Ngatagin pepohonan agar berbuah yang banyak tetapi di hari H buah mereka justru terkesampingkan karena kalah bersaing dengan buah impor yang pohonnya bahkan tidak mendapatkan arah-arah atau pemberitahuan. Adalah salah satu bentuk ketidak mengertian umat dalam memahami makna hari raya yang dilakukannya walaupun masih dalam tataran symbuliknya saja.

2.   Sugian (Sugian Jawa dan Sugian Bali)
Jika kata sugian ini diartikan sebagai “Penyucian” seperti kata dasarnya Sugi, maka Sugian sebagaimana disebutkan dalam Lontar Sundarigama, adalah suatu prosesi pembersihan Bhuana Agung / alam semesta yang dilambangkan dengan nama tempat diluar Bali yakni Jawa dan juga pembersihan Bhuana alit yang terdiri dari unsur badan jasmani dan rohani, yang mana ia dilambangkan dengan nama tempat di dalam yakni Bali. dalam lontar ini disebutkan bahwa Sugian Jawa merupakan pasucian Dewa Kalinggania pamrastista Bhatara Kabeh. Dan Sugian Bali disebutkan “Kalinggania amrestista raga tawulan”.
Lalu bagaimana caranya ? Dari aspek upacara, penyucian Bhuana Agung dilakukan dengan mengadakan yajna yang bertujuan menyeimbangkan kembali unsure-unsur alam misalnya dengan melantunkan nama-nama suci Tuhan / bhajan atau dengan melakukan Sankirtan Mahayajna. Wujud nyatanya tentu saja dengan berbuat yang tidak menyebabkan bhumi ini semakin menderita, tidak melakukan Illegal Lodging, tidak mengotori air sungai atau kali dengan sampah, tidak melakukan eksploitasi alam dan juga pencemaran lingkungan dengan aneka polusi dan limbah. Kemudian mengenai penyucian Bhuana Alit, Manava dharma sastra V.109 menyebutkan
Adbhir Gatrani Sudhyanti // Manah Satyena Sudhyanti
Widyatapobhyam Sudhyanti //Budhir Jnanena Sudyanti
bahwa tubuh dibersihkan dengan air, Pikiran disucikan dengan kejujuran, Jiwa disucikan dengan pengetahuan suci dan tapa brata, dan terakhir, Akal dibersihkan dengan kebijaksanaan. Wujud nyatanya adalah dengan menerapkan Tri Kaya Parisudha yakni menjaga agar pikiran,perkataan,dan perbuatan kita tetap baik sesuai ajaran Dharma. Dengan demikian makna dari hari raya Sugian ini adalah proses penyucian diri (Mikrocosmos) dan juga alam (Makrocosmos) karena keduanya sangat terkait satu dengan lainnya ibarat janin dalam rahim. (jika ada kebajikan dalam hati,akan ada keindahan dalam watak. Jika ada keindahan dalam watak, akan ada harmoni dalam rumah tangga. Jika ada harmoni dalam rumah tangga, maka akan ada ketertiban dalam Negara. Dan jika sudah ada ketertiban dalam Negara maka sudah pasti akan ada kedamaian dalam dunia.) jadi segala sesuatu harus dimulai dari diri sendiri. First to be, second to do, third to tell.

3.   Penyekeban atau Penapean
Hari minggu pahing wuku Dungulan disebut dengan hari raya penyekeban atau penapean karena pada hari ini umat hindu melakukan kegiatan “Nyekeb” buah, atau tape sehingga ia juga sering disebut hari Penapean atau hari membuat makanan yang di ragi – tape. Proses “Nyekeb” atau menjaga agar tidak keluar masih bisa disinonimkan dengan kata tape – tapa yang artinya pengendalian diri. Maka pada hari ini selain membuat tape sebagai symbol, umat hindu seyogyanya semakin mawas diri dalam pengendalian indera guna mencapai ketenangan. Ia harus sedapat mungkin memelihara kesucian bhatin dengan terus menerus mendekatkan diri dengan Tuhan entah dengan melakukan Sath sang, Sadhu Sanga, Kirtan, Chanting Veda, dll karena pada saat manusia telah bisa mengendalikan hawa nafsunya maka ia bisa dibedakan dari binatang. Binatang mempunyai kebebasan memenuhi hawa nafsunya sesuai dengan tingkatannya sebagai binatang, tetapi jika manusia ingin mendapatkan kebebasan yang sama seperti kebebasan yang di dapat para binatang itu, bagaimana ia bisa menyebut dirinya sebagai manusia yang lebih beradab dan lebih tinggi tingkatannya dari mahluk yang lain sedangkan tingkah polah yang ditunjukkannya justru meniru pola hidup binatang.
Keampuhan kekuatan tapa dapat dianalogikan dengan proses metamorphosis yang dialami oleh kepompong. Sebelumnya ia adalah ulat yang ditakuti karena rupanya yang menakutkan dan menyebabkan kesusahan (menimbulkan rasa gatal dan juga dikelompokkan sebagai hama pengganggu tanaman). Tetapi dengan menyadari kekurangan itu akhirnya ia mau melakukan tapa berat dalam masa krisis hanya agar mendapatkan rupa yang lebih cantik, dikagumi manusia dan menjadi penolong bagi tumbuh-tumbuhan. Suatu perubahan yang sangat drastis yang memerlukan kesabaran dan total surrender kepada Sang pemberi hidup. Jika seekor ulat saja mau dan mampu melakukan perubahan demikian besar dalam hidupnya, tidakkah manusia yang mengklaim diri sebagai yang lebih tinggi tingkatannya dari mahluk seperti mereka harusnya bisa melakukan hal yang sama, bukan dalam artian menjadi kupu-kupu atau sosok yang bisa terbang, tetapi meningkatkan kwalitas hidup dari Nara (Manusia) untuk mendekati Narayana (Tuhan) bukan malah sebaliknya mengambil langkah mundur menjadi Vanara (Kera atau manusia hutan).

4.   Penyajaan
Pada hari ini Soma Pon Dungulan, umat merayakan Penyajaan berasal dari kata “Saja” Sungguh, Sajaan = sungguh-sungguh atau kesungguhan hati dalam menyongsong kemenangan Dharma ini. namun dalam tafsir lain, kata penyajaan juga diartikan sebagai kata “Jaja” yang mendapat awalan Pe- dan akhiran –an sehingga menjadi penyajaan. Oleh sebab itu, pada hari ini umat hindu melakukan proses membuat jajanan untuk persembahan.
Dalam kaitannya dengan penyajaan Galungan, Lontar Sundari Gama menyebutkan : Pengastawaning sang ngamong yoga semadhi. Yoga menyangkut komunikasi personal antara individu dengan Tuhan atau dengan dirinya sendiri. Komunikasi Atman dengan diri sendiri dalam hidup keseharian kita dikenal dengan istilah “Mendengar bisikan hati” oleh karena itu dalam segala aktivitas hendaknya manusia tidak pernah menentang kata hati yang menyuarakan kebenaran, jangan sampai ia diperbudak pikiran yang kadang telah ditunggangi kepentingan indera. Kesungguhan hati harus dipraktekkan secara perlahan berbarengan dengan jalur evolusi spiritual yang dilalui oleh pelakunya walaupun sedemikian sulit untuk melaksanakannya. Jadi pelaksanaan penyajaan ini baru dikatakan berhasil jika dalam tahapan ini manusia semakin dikuatkan dengan kesungguhan hati yang dimilikinya untuk menahan segala godaan Adharma yang berusaha disusupkan oleh sang kala tiganing dungulan.

5.   Penampahan
Selanjutnya pada hari Selasa Wage wuku Dungulan, umat melakukan Penampahan. Kata penampahan ini berasal dari kata Tampah yang artinya bunuh. Jadi penampahan berarti membunuh. Lalu membunuh siapa? Selama ini umat dengan penafsiran lahiriahnya, lebih mencari kambing hitam keluar dengan mengorbankan binatang untuk disembelih atau dibunuh dengan alasan yajna. Lalu melupakan sifat kebinatangan dalam diri yang juga semakin liar dan lebih mendesak untuk dibunuh. (bukankah sifat anjing yang tidak tahu malu dalam memadu kasih adalah gambaran nyata sifat hewan ini dalam diri manusia, demikian pula prilaku suka ribut dengan saudara sendiri adalah merupakan gambaran prilaku ayam kampung di Bali yang selalu menghalau temannya sesama ayam kampung ketika diberi makan tetapi paling toleran kepada ayam boiler yang bukan rasnya, prilaku hidup konsumtif dan pemalas yang ada pada babi adalah gambaran lain bagaimana sifat dan prilaku binatang itu telah diadopsi oleh manusia dan yang seharusnya segera dieleminir agar ia bisa lebih dibedakan dari binatang). Dalam riwayatnya, Prahlad Maharaja pernah menyindir kebiasaan bentuk pemujaan pada jamannya. Ia berkata :”Karena membinasakan egoisme sangatlah sulit, maka manusia memilih jalan yang lebih mudah, yakni membunuh hewan dungu yang tidak punya salah apa-apa kepadanya sebagai pengganti”.  Maka demikianlah bahwa apa yang terjadi pada saat jamannya Prahlada Maharaj beberapa ribu tahun yang lalu dan juga situasi yang dihadapi Budha Gautama di India, dimana sebagian besar orang telah membenarkan pembunuhan binatang dengan alasan yajna sekarang sedang terjadi di Bali. Babi sesungguhnya adalah symbolik untuk menggambarkan sifat Tamas yang dilukiskan dengan gaya hidup pemalas, lembam, dan bodoh sehingga mereka harus dibunuh. Hanya sayang bahwasannya pengertian ini kemudian lebih ditujukan kepada faktor ekstern manusia yakni dengan menyembelih babi itu sendiri. Demikian halnya dengan Ayam yang mewakili sifat Rajas dengan kecenderungannya yang agresif, suka bertengkar, pemarah, dan lain lain harus merelakan diri menjadi korban salah tafsir manusia yang lebih mementingkan tuntutan lidahnya atas kenikmatan daging mereka. 

Jika manusia terus mencari pembenaran keluar dengan mengesampingkan diri sendiri yang harus dibenahi terlebih dahulu, maka saya yakin bahwa jikalaupun seluruh babi ayam atau kerbau di dunia ini dikorbankan atas nama yajna, ia tidak akan mampu memberikan perubahan sikap dan prilaku yang lebih beradab kepada manusia, bahkan sebaliknya itu akan menyuburkan sifat-sifat kebinatangan dan kemunafikan dalam diri.  Jadi pelaksanaan penampahan sebagai rangkaian hari raya Galungan baru bisa dibilang sukses, jika kita telah berhasil membunuh atau meminimalisir sifat-sifat kebinatangan dalam diri. Sebagaimana hukum I Newton mengatakan semua benda termasuk manusia bersifat lembam, sehingga dengan demikian memang begitu sulit untuk mengubah diri apalagi untuk meninggalkan kebiasaan yang selama ini dipandang mengenakkan. Tetapi beranjak dari kisah ulat yang mau dan mampu menjadi kupu-kupu itu, maka seharusnya manusia justru harus malu kepada binatang jika ia tidak punya kemauan untuk merubah dirinya.


6.   Puncak Hari Raya Galungan.
Setelah melalui beberapa rangkaian, akhirnya pada Budha Kliwon wuku Dungulan, masyarakat hindu berada pada puncak perayaan.  Pada hari ini bahkan dari pagi-pagi sekali, umat sudah disibukkan dengan kegiatan mebanten (Menghaturkan persembahan). Ritual persembahyangan ini bahkan bisa berlangsung sampai malam hari. Dalam lontar Sundari Gama disebutkan  : Budha Kliwon Dungulan ngaran Galungan patitis ikang jnana Samadhi, galang apadang, maryakena sarva byaparaning idep. Artinya : Rabo Kliwon Dungulan, namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang sebagai wujud Dharma dalam diri, serta menghilangkan kekacau balauan pikiran yang merupakan bentuk dari Adharma. Dari sinilah dapat kita simpulkan bahwasannya hakekat Galungan adalah perayaan kemenangan Dharma atas Adharma. Lalu apa sesungguhnya yang dimaksud dengan Dharma?. Dalam Mahabharata, Rsi Bhisma menyatakan kepada Yudistira bahwa segala sesuatu yang mengembangkan cinta kasih Tuhan adalah Dharma, sebaliknya yang dapat menimbulkan ketidak selarasan dan kebencian adalah Adharma. Dharmalah yang akan menyebabkan manusia memiliki sifat ketuhanan, karena Dharma adalah Tuhan itu sendiri. Jadi perayaan Galungan bisa dikatakan berhasil dan layak untuk dirayakan adalah jika kita semakin bisa menunjukkan bahwa kita mahluk yang penuh cinta kasih dan punya kontribusi positive terhadap upaya pelestarian lingkungan dalam upaya membangun keharmonisan dengan alam, masyarakat, dan utamanya kepada Tuhan. Namun jika kita masih dalam tataran orang yang menafsirkan symbol agama secara sambil lalu saja, membeo tanpa mengerti apa yang kita kerjakan maka sebenarnya kita hanyalah orang yang ikut memeriahkan kemenangan Dharma dan bukan sebagai orang yang pantas menikmati kemenangan. Bukankah saat ini rangkaian hari raya ini sudah sangat bergeser dari tatanan sebelumnya. Tumpek pengatag bukan lagi menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu karena sebagian masyarakat bali yang beragama Hindu kini telah berpindah dari kehidupan agraris sehingga tidak banyak yang memiliki pohon buah yang perlu diupacarai, penapean dan penyajaanpun bukan merupakan sebuah keharusan karena semua kebutuhan itu telah di supply oleh pasar tradisional sampai Supermarket. Sehingga segala keperluan upacara  dari buah impor, jajanan, bahkan canang untuk persembahyangan tidak perlu dipersiapkan dengan tahapan seperti dulu sebab jika mau Praktis, dan Gelis, kita hanya perlu mengeluarkan Pipis-uang. Sungguh sebuah cara beragama yang semakin maju tetapi telah menghilangkan dan mengubur pesan luhur yang ingin disampaikan para leluhur kita. Sebuah harapan transformasi spiritual yang telah terperangkap dalam tradisi berupa informasi tak pasti.

Tidak ada komentar: