Senin, 04 Maret 2013

Kewajiban hidup

Kode Iklan anda yang ingin ada di sebelah kiri disini
Kode Iklan anda yang ingin ada di sebelah kanan disini


Noda-noda batin harus dibersihkan dengan kehidupan yang bersusila dan dengan memenuhi kewajiban hidup kita sebaik-baiknya. Akan tiba waktunya ketika orang merasa lelah dan lemah. Itulah saatnya ia harus berdoa, "Tuhan, hal-hal berlangsung di luar kemampuanku. Aku merasa tidak sanggup lagi mengerahkan tenaga. Berilah aku kekuatan, oh Tuhan!"

Mula-mula Tuhan berdiri di kejauhan mengawasi usaha manusia, seperti guru yang menjauh bila para siswa sedang menulis jawaban pertanyaan-pertanyaannya. Kemudian, bila manusia melepaskan kelekatannya pada kesenangan duniawi dan melakukan berbagai perbuatan yang bajik serta bhakti sosial, Tuhan mendekat dan memberi dorongan. Karena Ia seperti sang surya yang berdiri menanti di depan pintu yang tertutup, bagaikan pelayan yang mengetahui hak majikannya dan keterbatasannya sendiri. Ia tidak mengumumkan kedatangan-Nya atau menggedor pintu. Ia hanya menunggu. Bila sang tuan membuka pintu sedikit saja, surya menyerbu masuk dan segera mengusir kegelapan keluar. Bila pertolongan Tuhan kita mohon, Ia hadir di sisi kita dengan tangan terjulur siap memberikan bantuan. Jadi, yang kita perlukan hanyalah wiweka untuk berdoa kepada-Nya, kebijaksanaan untuk selalu mengingat Tuhan

Jnana atau pengetahuan berarti pengertian, tetapi bukannya sekedar prestasi kecerdasan. "Makan" bukanlah sekedar meletakkan makanan di atas lidah. Kegiatan makan hanya bermanfaat bila makanan itu dikunyah, ditelan, dicernakan, diserap ke dalam darah, kemudian diubah menjadi otot dan tulang, tenaga serta kekuatan. Demikian pula pengetahuan tentang Tuhan harus meresapi, menguatkan, dan menyegarkan seluruh kehidupan kita. Hal itu harus diekspresikan melalui semua indera dan seluruh kegiatanmu. Inilah tingkat yang harus diraih manusia.
Sekedar mengumpulkan pengetahuan tidaklah membuat manusia menjadi arif. Hanya orang yang mempunyai sifat-sifat baik (sadguna) yang dapat disebut arif bijaksana.
Agar dapat bertahan hidup di dunia, kita harus memenuhi kebutuhan indera dalam batas-batas tertentu. Tetapi kita dapat melakukan kegiatan ini sebagai pengurbanan (yagna). Agar mesin badan ini dapat bekerja, diperlukan bahan bakar yang berupa makanan. Makanan itu sendiri bukanlah pengurbanan, tetapi makanan memungkinkan manusia melakukan pengurbanan. Karena itu, kegiatan makan tidak boleh dipandang rendah seolah-olah hanya memenuhi selera rakus. Kegiatan makan merupakan suatu bagian dari pemujaan kita kepada Tuhan.
Puja bukanlah sekedar memetik bunga dan meletakkannya di atas altar. Tukang kebun yang bekerja keras memelihara tanaman yang menghasilkan bunga-bunga itu juga pemuja Tuhan. Badan hanya dapat berfungsi bila diberi makanan. Bahkan sarana untuk suatu pengurbanan itu pun merupakan pengurbanan.
Sesungguhnya semua kegiatan merupakan pengurbanan bagi Tuhan bila perbuatan itu termasuk dalam ketiga golongan di bawah ini:
  1. bila engkau menggunakan dunia untuk memuja Tuhan,
  2. bila engkau bekerja untuk membina kedamaian dan keadilan dalam masyarakat,
  3. bila engkau mengendalikan dan menyelaraskan fungsi-fungsi tubuhmu.
Kegiatan dalam golongan pertama sama dengan upacara pengurbanan (yajna). Kegiatan dalam golongan kedua merupakan amal, dan kegiatan dalam golongan ketiga merupakan olah tapa. Semua perbuatan manusia harus disalurkan ke arah tujuan ini

Tidak ada komentar: