Selasa, 20 November 2012

Yang Paling Hindu atau HIndu yang Paling?

Kode Iklan anda yang ingin ada di sebelah kiri disini
Kode Iklan anda yang ingin ada di sebelah kanan disini


Pernahkah anda kepikiran bahwa kalimat yang tersusun dari 3 kata itu ternyata memiliki arti yang jauh berbeda jika tata letaknya di acak (YANG  PALING  HINDU berarti seseorang yang memang benar-benar telah mengamalkan ajaran kehinduan dalam kehidupannya sehingga orang lainpun tak kan ragu akan status keyakinan agama yang dianutnya) tetapi (HINDU  YANG  PALING sekurang-kurangnya berarti seorang yang mengakunya beragama hindu tetapi tidak tahu apa dan bagaimana ajaran agamanya sendiri namun bertindak seolah-olah dia adalah orang yang paling tahu. Dari 2 kalimat ini tentu yang sangat diharapkan adalah point pertama yakni seseorang yang paling hindu sehingga generasi seperti ini tidak akan goyah ketika menghadapi gempuran para misionaris dari agama lain ketika ia diiming-imingi untuk berpindah agama. Dan lagi orang yang memang benar-benar Hindu akan mempunyai wawasan yang luas sehingga bisa bertindak bijaksana dalam menelaah setiap persoalan yang berkaitan dengan keyakinan seseorang, karena mereka yang paling hindu, setidaknya sudah mau belajar dari banyak hal sehingga tidak kaku (Kekeh) dalam menerima suatu dogma tanpa mengkajinya melalui nalar atau akal budhi yang diberikan Tuhan padanya. Mereka tidak akan mau menjadi korban masa lalu yang disebut anak mule keto. 

Beda halnya dengan point kedua yang menyatakan Hindu yang paling. Ini akan sangat berbahaya bagi generasi selanjutnya karena mereka yang masih paling atau bingung tentu belum memiliki pegangan yang cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kaum misionaris umat lain untuk melemahkan keyakinan kita agar mau masuk kedalam kelompok baru dan meninggalkan keyakinan agama yang selama ini kita pegang.
Sebagaimana diketahui, dua agama besar yakni islam dan Kristen adalah merupakan agama Missi yang beranggapan bahwa keyakinannya itulah yang paling benar sehingga mereka yang berseberangan dengannya akan diusahakan untuk direkrut kedalam kelompoknya untuk mendapatkan siar kebenaran versi mereka.  Karenanya adalah merupakan kewajiban setiap orang untuk mempelajari dan mengerti agamanya masing-masing sehingga orang-orang yang begitu pongah menawarkan “keyakinan mereka” kepada orang yang telah memiliki keyakinan tersendiri, bisa lebih bijaksana berfikir bahwasannya esensi dari semua agama itu sama walaupun terkemas dengan tata cara dan nama yang berbeda. Beberapa risalah beserta jawaban yang biasa dipakai kaum misionaris untuk menyerang keyakinan hindu sudah saya postkan dlm tulisan berjudul “Menepis Keraguan”. FaQ di bawah boleh dikatakan hanya menjadi sambungan atau bagian lain dari tulisan sebelumnya :
FaQ :


Kenapa cara sembahyang di kelompok spiritual seperti kebaktian di gereja dengan bernyanyi bahkan ada yang seperti kesurupan berjingkrak-jingkrak ?

Untuk dapat mendirikan sebuah bangunan yang baik, tentu dasar atau fondasinya harus dikuatkan dulu. Sebab bagaimanapun indah dan megahnya sebuah bangunan tetapi jika fondasinya rapuh tentu bangunan itu juga akan ambruk, namun fondasi yang kuat jika tidak diisi bangunan juga tidak akan mempunyai keindahan apa-apa oleh karena itu kedua hal ini tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.
 Bhajan / Kirtan atau menyanyikan kidung-kidung suci yang sarat dengan nama dan kemulian suci Tuhan merupakan fondasi atau dasar bagi para sadhaka dalam mendirikan spiritual yang lebih mantap karena dengan melatih lidah dan pikiran guna menyuarakan keindahan nama Tuhan, ia akan dapat digiring untuk menghindari beberapa jenis kesalahan besar yang seringkali dilakukan oleh lidah seperti misalnya kebiasaan berbohong, berbicara kasar dan  berlebihan, membicarakan kejelekan orang lain (gossip) serta melakukan fitnah. Dengan bhajan, pikiran akan lebih dapat diarahkan kepada objek yang benar daripada menjadi pelayan bagi kesepuluh inderanya yang seringkali justru membikin kehancuran diri sendiri. Puji-pujian terhadap Leela dan nama suci Tuhan sengaja dikemas dalam bentuk nyanyian karena nyanyian merupakan ungkapan perasaan seseorang. Dan seringkali dipakai untuk mewakili perasaan itu kepada yang lain. Selain itu, nyanyian juga bisa dilagukan oleh siapa saja, baik orang tua, remaja, bahkan anak kecil sekalipun. Ia tidak terpengaruh oleh gender, status sosial, agama, dll. Semua orang menyukai musik atau nyanyian bahkan kita tahu sendiri bahwa beberapa atribut yang dibawa oleh dewa dewi hindu juga berupa alat musik seperti misalnya Tuhan Sri Krishna yang membawa seruling, Dewi Sarasvati membawa Vina, Dewa Shiva yang membawa Mrdangga, begitu halnya Dewarsi Narada.
 Bhajan atau nyanyian ketuhanan yang ada di kelompok spiritual hampir sama dengan kekidungan atau kekawin di bali bedanya hanya pada canda lagu dan isi kidung suci itu sendiri. Kalau kekawin di bali lebih banyak mengungkapkan situasi atau penggambaran dari keadaan sesuatu dengan aneka pesannya yang kadang tersembunyi, tetapi pada lagu bhajan sengaja dibuat dengan menyebut nama-nama suci Tuhan secara utuh dan kadang bukan merupakan rangkaian kata-kata untuk menyampaikan pesan atau petuah dalam bentuk kalimat maupun dialog. Atas dasar hal itu pula kidung-kidung suci dikemas dalam bentuk nyanyian agar semua orang bisa menikmati sari keindahan dari keagungan nama Tuhan tersebut. Jadi manfaat sembahyang bisa dirasakan bersama-sama karena semua yang hadir bisa mengungkapkan perasaannya langsung kepada yang dipuja dan bukan lagi melalui perantara. Semua orang akan diliputi suka cita karena tahu dan mengerti apa yang dilagukannya.
“ Tidak ada praktek spiritual yang lebih berharga daripada pengulang-ulangan nama suci Tuhan pada jaman ini. Siapapun juga baik yang kaya atau miskin, golongan terpelajar atau bahkan mereka yang buta huruf akan mampu melakukannya. Ingatlah selalu nama Rama sampai saat menjelang kematianmu. Nyanyikanlah kemuliaan Tuhan dan perolehlah rahmat keselamatan darinya (Bhagavan Sathya Narayana dalam Sanatana sarathi.1995. Bhajan / kirtan yang merupakan dasar atau fondasi spiritual pada akhinya memang kurang kelihatan tapi tetap berfungsi sebagai pilar utama yang menopang bangunan. Seperti halnya fondasi rumah yang akhirnya ditimbun tanah dan tidak kelihatan saat bangunannya mulai didirikan. Demikian halnya para sadhaka tidak boleh berhenti pada tingkat bhajan atau mekekidung saja tapi harus bergerak maju pada prakteknya di masyarakat, yakni bagaimana melihat Tuhan di semua aspek sehingga spiritual kita bisa dirasakan oleh orang-orang disekeliling kita. Pelayanan kepada orang lain terlebih kepada orang-orang yang kurang mampu adalah bukti bahwa ritual sedang bertumbuh ke arah spiritual. Sikap bernyanyi sambil bertepuk tangan ataupun berjingkrak-jingkrak hanyalah merupakan ungkapan kegembiraan yang meluap-luap. Bukankah kita sering melihat orang yang diliputi dengan keadaan bahagia akan sering mengungkapkannya dengan hal-hal yang mungkin bagi kita terkesan lucu. Seperti seorang pemain sepakbola ketika dapat mencetak gol dia akan berjoged atau salto untuk mengungkapkan kegembiraannya.

JIKA KELOMPOK SPIRITUAL BISA DIUMPAMAKAN SEPERTI KELAS TAMBAHAN, LALU APA NILAI PLES YANG BISA MENJADI KEISTIMEWAANNYA DIBANDINGKAN  KELAS REGULER (UMAT YANG HANYA MENGANUT AGAMA FORMAL ) APAKAH DENGAN IKUT KELOMPOK SPIRITUAL SUDAH BISA MENJAMIN BAHWA UMAT ATAU PARA PENGIKUTNYA AKAN MENJADI LEBIH PINTAR DAN LEBIH BAIK ?

Selain bisa dianalogikan seperti kelas tambahan, agama formal dengan kelompok spiritual (bedakan dengan kelompok atau aliran yang mempelajari kesaktian tenaga dalam atau kesidhian lain) juga bisa diumpamakan seperti system pelajaran pada sekolah umum dan sekolah kejuruan. Walaupun levelnya hampir sama, tapi sekolah kejuruan memiliki subjek pelajaran yang lebih mengkhusus dibanding sekolah umum yang hanya mempelajari hal-hal umum. Demikian halnya dalam kelompok spiritual, ajaran yang diberikan oleh guru kerohanian akan lebih mengkhusus dan mendetail daripada pengetahuan yang pernah didapatkan dari agama formal. Ambillah contoh dalam hal objek pemujaan, umat hindu di bali banyak membuat pelinggih (tempat  stana Ida bhatara) tapi jarang sekali ada Arca didalamnya dan biasanya hanya disimbulkan dengan Daksina Pelinggih, di beberapa tempat yang berisi Arca, penggambarannya juga kurang jelas sehingga umat  yang masih awam sulit untuk mengkosentrasikan pikirannya pada objek persembahyangan sebab banyak pelinggih yang hampir sama sedangkan pelinggih itu sendiri hanya merupakan stana / tempat singgasana, bukan objek utamanya. Tetapi di kelompok spiritual, penggambaran objek yang dipuja jelas seperti ciri-ciri yang dilukiskan dalam kesusastraan dan bukan merupakan hasil imaginasi manusia biasa misalnya pemujaan Linggam sebagai salah satu wujud Shiva, pemujaan kepada Ganesha yang berkepala gajah,dll. Mantra yang digunakan juga berlainan untuk masing-masing Murti beliau. Jika memuja Ganesha, tentu mantra yang dipakai adalah segala mantra yang berkaitan dengan dewa Ganesha, begitu halnya pemujaan kepada dewa Shiva atau Sri Vishnu. Semua memiliki mantramnya tersendiri. Sedangkan hindu etnis Bali, sementara masih memakai mantram panca sembah sebagai mantram wajib di hampir semua tempat sembahyang baik itu pemujaan di Paibon selama penghormatan kepada para leluhur, Di pura Jagatnatha selama pemujaan kepada Tuhan, bahkan di Pecaruan atau sanggah tegalan yang kadang tidak diketahui siapa yang menempatinya. Di lain sisi, dalam beberapa kegiatan persembahyangan, mantram Gayatri sebagai Ibu dari segala mantra serta puji-pujian lain yang terangkum dalam bait Trisandya sering ditiadakan dan langsung kepada kramaning sembah padahal justru Gayatri mantram itulah hal pokok dari sebuah persembahyangan umat hindu.
Hal lain yang bisa dipakai tolak ukur nilai ples dari kelompok spiritual untuk beberapa  keistimewaannya adalah tempat duduk laki-laki dan perempuan dipisahkan, tidak ada yang boleh merokok karena di tempat sembahyang sebenarnya hanya boleh ada asap dupa, bukan asap rokok dan juga tidak ada diperkenankan segala macam judian berada dekat dengan tempat sembahyang. Karena selama ini umat hindu di bali sudah cukup mendapat sorotan aneh sebagai satu-satunya tempat ibadah dimana orang boleh merokok selama kegiatan persembahyangan, aneh karena justru pemimpin upacaranya (pemangku) yang merokok mencontohi umat padahal rokok jelas-jelas dilarang oleh pemerintah dan agama karena asapnya membahayakan diri sendiri dan juga orang lain yang menghirupnya. Lebih aneh lagi saat ada permainan bola adil dan dadu yang diikuti oleh mereka yang berpakaian sembahyang. Padahal di umat agama lain hal ini sama sekali dilarang bahkan diharamkan
Tentang apakah orang yang mengikuti kelompok spiritual ini akhirnya bisa terjamin menjadi umat yang lebih pintar atau lebih baik, sangat tergantung dari sadhaka itu sendiri. Seorang murid dari sekolah umum bukan tidak mungkin bisa tampil menjadi Profesor jika ia benar menjalani proses belajar, memiliki kemauan kuat untuk maju, dan tidak cepat berpuas diri terhadap pengetahuan yang telah didapatkannya. Demikian halnya umat yang mungkin hanya mengenal agama formal, jika ia mempraktekkan ajaran agamanya dengan benar ( agama tidak hanya dijadikan tanda pengenal ) tentu bisa sukses. Tetapi seseorang yang telah mendapatkan pengetahuan lebih di kelompok spiritual tetapi tidak melaksanakan ajaran yang didapatnya itu, juga tidak akan berarti apa-apa.

BENARKAH ADA JALAN PEMBEBASAN LEBIH BAIK DALAM KELOMPOK SPIRITUAL
       Tujuan yang seharusnya dicapai oleh seluruh manusia, umat hindu pada khususnya adalah mencapai Moksa / Mukti / Bebas dari proses lahir mati. Dan hal ini juga disebutkan dalam semua kitab suci agama. Beberapa umat yang karena kecintaannya pada  jalan yang ditempuhnya atau mungkin karena tidak mau melakukan penyelidikan di tempat lain terkadang mengklaim bahwa THE ONLY ONE WAY atau satu-satunya jalan pembebasan adalah menurut cara mereka entah itu dengan proses pembukaan mata kebijaksanaan, pembukaan cakra, atau inisiasi. Bahkan hanya dengan masuk dan mengakui nama Tuhan keyakinan mereka. Padahal tidak ada kitab suci yang menyebutkan bahwa kerajaan Tuhan hanya diperuntukkan dan disediakan bagi mereka yang telah mengikuti proses tertentu atau hanya kepada mereka yang telah ikut keyakinan dan agama tertentu saja. Semua mahluk hidup memiliki hak yang sama dihadapan Tuhan. ibarat sinar matahari yang jatuh ke bhumi tanpa unsur diskriminasi. Semua mendapat hak yang sama, matahari tidak pernah memilih apakah sinarnya akan jatuh pada kotoran, lumpur, atap kuil, bunga yang indah atau bahkan air keruh. Sinar matahari akan tetap memberikan kehangatan kasihnya kepada semua.

Jadi tidak benar bahwa jalan pembebasan itu bisa dimonopoli dan sorga bisa dikavling hanya oleh kelompok atau agama tertentu dan hanya dengan cara tertentu pula. Kelompok spiritual hanya menunjukkan cara aman dan praktis dan lebih mendetail untuk mencapai tujuan hidup yang dalam agama formal terkadang hanya diungkap secara umum saja. Pembebasan jiwa lebih banyak berasal dari usaha pribadi kita guna mengetahui rahasia hidup ini, tentu jika mendapat karunia dipertemukan dengan seorang Guru spiritual yang mampu memberikan kita tuntunan untuk lebih maju. Namun bagaimanapun, kemajuan dan tingkat pendidikan seseorang tidak bisa dilihat dari jenis sekolah yang dimasukinya, siapa gurunya, atau lamanya ia menempuh pendidikan. Rsi Valmiki dulunya adalah seorang penjahat tetapi kesungguhannya menanamkan nama suci Rama dalam hatinya telah membuatnya menjadi seseorang yang besar dan tersucikan. Ekalawya juga tidak berguru secara formal kepada drona, tapi kemajuan dan kepintarannya bahkan melebihi Arjuna. Jadi transformasi / perubahan diri kearah yang lebih baik atau lebih maju, tergantung dari seberapa serius seorang murid mempelajari, menghayati, lalu mengamalkan ajaran gurunya. Ajaran Guru ibarat benih bhakti yang ditebarkan dari langit. Benih itu bisa jatuh dimana saja. Jika ia jatuh di tanah yang subur (hati seorang sadhaka yang dipenuhi dengan cinta bhakti yang murni) maka benih itu akan tumbuh dengan baik dan rasa buah yang dihasilkannyapun akan baik sebagaimana cermin dari kesuburan tanahnya. Tetapi jika benih itu jatuh di tanah yang tandus, ia tidak akan tumbuh dengan baik, dan hasilnyapun tidak akan maksimal, bahkan bukan tidak mungkin jika benih yang sempat tumbuh itu akhirnya layu dan mati karena kekurangan nutrisi dan perawatan yang baik. Begitu pula jika benih itu jatuh di bebatuan, ia bahkan mungkin tidak sempat berkecambah karena sudah mengering di kerasnya bebatuan. Hati bhakta seperti itu ibarat batu kali yang direbus, walaupun sudah dipanaskan berhari-hari tapi tetap tidak mau lunak, demikian pula dengan sadhaka yang hatinya seperti bebatuan atau tanah yang tandus, walaupun sudah diberikan informasi / ajaran begitu banyak tapi tetap tidak bisa membuat sebuah transformasi / perubahan ke arah yang lebih baik dalam dirinya. Jadi jelas bahwa yang salah bukan benih ajarannya tetapi proses penerimaan dan penerimanya itu sendiri yang mesti diselidiki.

Tidak ada komentar: