Senin, 25 Mei 2015

KISAH RADHEYA KARNA, SANG KSATRYA

Kode Iklan anda yang ingin ada di sebelah kiri disini
Kode Iklan anda yang ingin ada di sebelah kanan disini


Karna adalah salah satu tokoh penting dalam Mahabharata. Ia adalah putra tertua Kunti, sehingga merupakan saudara seibu Pandava dan merupakan yang tertua dari keenam saudara tersebut. Walaupun Duryodhana menunjuknya sebagai raja Angga, perannya dalam kisah Mahabharata jauh melebihi peran seorang raja. Karna bertarung di pihak Kaurava dalam perang di Kurukshetra.
Semasa mudanya, Kunti merawat resi Durvasa selama satu tahun. Sang resi sangat senang dengan pengabdian yang diberikan olehnya sehingga memberikan anugerah untuk memanggil salah satu dari para dewa dan dewa yang dipilihnya tersebut akan memberiknya seorang putra yang mempunyai sifat baik menyamai dewa tersebut. Karena ragu-ragu apakah anugerah tersebut benar, Kunti―selagi masih belum menikah―memutuskan untuk mencoba mantra tersebut dan memanggil dewa matahari, Bathara Surya. Ketika Surya menampakkan diri di depannya, Kunti terpesona. Karena terikat mantra Durvasa, Surya memberinya seorang anak secemerlang dan sekuat dirinya, walaupun Kunti sendiri tidak menginginkan anak. Dengan kesaktian Surya, Kunti tetap tidak ternodai keperawanannya. Sang bayi adalah Karna, lahir dengan baju besi (kavacha) dan anting-anting (kundala) untuk melindunginya.
Kunti kini berada dalam posisi yang memalukan sebagai seorang ibu seorang anak tanpa ayah. Karena tidak mau menanggung malu ini, ia meletakkan Karna ke dalam keranjang dan menghanyutkannya bersama dengan perhiasannya, berdoa agar bayi tersebut selamat.
Bayi Karna terhanyut di Sungai Gangga dan ditemukan oleh seorang pengemudi kereta bernama Adhiratha, seorang Suta (campuran antara Brahmin dengan Khsatriya). Adhiratha dan istrinya Radha membesarkan Karna sebagai anak mereka dan memberinya nama Vasusena karena baju besi dan antingnya. Mereka mengetahui latar belakang Karna dari perhiasan yang ditemukan bersamanya, dan tidak pernah menyembunyikan kenyataan bahwa mereka bukan orang tua Karna yang sebenarnya. Karna juga disebut Radheya karena nama ibunya Radha. Adiknya, Shon, lahir dari Adhiratha dan Radha setelah kedatangan Karna.
Ikatan antara Radheya dan keluarga angkatnya merupakan hubungan berdasarkan cinta dan rasa hormat yang murni. Radheya menghormati Adhiratha di depan teman-teman khsatriya-nya, dan dengan penuh rasa cinta tetap melaksanakan tugasnya sebagai seorang anak dalam keluarga angkatnya meskipun ia telah menjadi raja Angga dan mengetahui asal-usul kelahirannya.
Radheya ingin menjadi seorang prajurit besar. Maka ia mengembara ke Hastinapura bersama dengan ayah dan adik angkatnya. Di sana menguasai ilmu kanuragan dengan belajar kepada Drona, walaupun ia belajar tidak bersama dengan para pangeran (Pandava dan Kaurava) karena dipandang berasal dari kasta yang rendah. Radheya menguasai semua ilmu yang diajarkan, terutama ilmu memanah. Ketika Pandava diusir ke hutan selama 14 tahun, Duryodhana meminta Radheya untuk menguasai Brahmastra, salah satu senjata terkuat yang ada. Hanya beberapa orang yang mengetahui hal ini termasuk Drona, Arjuna, Bhisma dan Ashwathama (anak Drona). Ia pertama-tama mendekati Drona, guru Pandava dan Kaurava, tetapi Drona menolak untuk mengajarinya karena kastanya yang rendah. Ia kemudian meminta Parashurama, guru besar yang lain, untuk mengajarinya seni berperang terutama untuk menguasai Bhramashtra. Parashurama tidak akan mengajari seorang khsatriya karena rasa bencinya pada kaum khsatriya yang telah membunuh orangtuanya. Maka untuk mendapatkan ilmu, Radheya berbohong tentang asal usulnya dan mengaku sebagai seorang Brahmin.
Suatu saat, ketika Parashurama sedang tidur dengan kepala di pangkuan Radheya, seekor serangga menggigit pahanya. Ini menyebabkan paha Radheya berdarah dan ia pun merasakan kesakitan yang amat sangat. Namun Radheya bertahan untuk tidak bergerak agar gurunya tidak terbangun. Darah yang menetes dari paha Radheya memercik ke muka Parashurama dan membuatnya terbangun. Melihat apa yang terjadi Parashurama mengetahui bahwa Radheya bukanlah seorang Brahmin karena hanya seorang khsatriya yang dapat menahan sakit seperti itu. Radheya mengaku bahwa ia telah berbohong, dan Parashurama yang marah mengutuk Karna: ia tidak akan bisa mengeluarkan ilmunya pada saat di mana ia paling membutuhkannya. Sebelum Parashurama, seorang brahmin yang lain pernah mengutuk Radheya bahwa Radheya akan dibunuh ketika ia dalam keadaan tak berdaya, hal ini disebabkan karena Radheya telah membunuh sapi kesayangan brahmin tersebut.
Suatu saat sebuah turnamen diadakan untuk menentukan perajurit yang terkuat setelah ‘lulus’ dari pendidikan Drona. Dalam perlombaan itu Arjuna keluar sebagai yang terbaik dan Duryodhana takut padanya. Kemudian Radheya muncul dan menantang Arjuna. Dalam pertanding yang berlangsung kemudian, Radheya dapat mengimbangi semua keahlian Arjuna. Untuk menentukan pemenang yang sesungguhnya, Radheya menantang Arjuna untuk bertempur satu lawan satu di mana kemenangan salah satu pihak ditentukan dengan kematian lawannya. Dengan alasan bahwa Radheya berasal dari kasta yang lebih rendah dari Arjuna, Drona menolak usul Radheya tersebut. Duryodhana yang memang menyimpan rasa iri dan takut kepada Pandava seketika memberikan tahta kerajaan Angga kepada Radheya, sehingga Radheya menjadi seorang raja dan dengan demikian pantas untuk menantang Arjuna berduel sampai mati. Tindakan Duryodhana ini menanamkan benih kesetiaan Radheya kepadanya. Tetapi akhirnya duel tersebut tetap tidak terwujud.
Ketika Pandava mengasingkan diri, Radheya membebankan kepada dirinya sendiri tugas untuk menjadikan Duryodhana penguasa dunia. Radheya memimpin pasukan ke negara-negara sekitar untuk menaklukkan raja-rajanya di bawah kekuasaan Duryodhana. Radheya berhasil menang dalam semua pertempuran yang dilaluinya, walaupun kepatuhan raja-raja tersebut tidak semuanya berlangsung lama (sebagian tetap memihak kepada Pandava dalam perang Bharatayudha).
Tragedi Dalam Hidup Radheya
Pertemuan dengan Kunti       
Sebelum perang Bharatayudha Kunti mendekati Radheya dan memintanya untuk bergabung dengan Pandava dan menyatakan bahwa Karna adalah pewaris sebenarnya tahta Hastinapura (sebagai sulung dari Pandava). Radheya menolak tawaran ini karena Kunti membuangnya waktu kecil dan juga setelah ia dewasa. Radheya berkata bahwa karena Duryodhana selalu setia kepadanya sebagai seorang sahabat, ia akan membela pihak Kaurava. Kunti lalu meminta Radheya untuk berjanji untuk tidak membunuh kelima anaknya. Radheya berjanji bahwa setelah perang Bharatayudha, lima anak Kunti akan tetap hidup, Kunti lega mendengar janji Radheya ini. Yang tersembunyi dari janji ini adalah bahwa sebenarnya Kunti memiliki enam orang anak (termasuk Radheya sendiri), maka bila Radheya bertemu dengan para Pandava ia akan melepaskan mereka kecuali satu orang: Arjuna. Karena Radheya adalah salah satu dari sedikit yang sanggup menghadapi Arjuna dan di antara mereka telah terjadi persaingan yang sengit.
Pertemuan dengan Indra       
Dewa Indra, raja para dewa dan ayah Arjuna, menyadari bahwa kavachadan kundala Radheya tidak dapat ditembus oleh senjata apapun, dengan demikian menjadikan Radheya tidak terkalahkan. Ia memutuskan untuk menyamar sebagai seorang brahmana miskin tepat sebelum Radheya mandi. Krihsna mengetahui keutamaan moral Radheya dan bahwa Radheya tidak akan menolak permintaan apapun baik dari seorang brahmana maupun seorang pengemis pada saat tersebut (setelah pemujaan terhadap Surya). Surya, dewa matahari dan ayah Radheya , mengingatkan Radheya dalam mimpi bahwa Indra akan menyamar sebagai seorang brahmana dan meminta baju besi serta antingnya. Karna tidak mengetahui bahwa Surya adalah ayahnya. Seperti yang telah diduga oleh Surya, atas nasihat dari Krishna, Indra yang menyamar mendekati Radheya dan meminta sedekah berupa baju kavacha dan kundala-nya. Radheya tahu bahwa dengan memberikan kedua hal tersebut, ia tidak lagi tak terkalahkan. Tetapi karena telah menjadi komitmennya maka ia tetap memberikan kedua benda tersebut. Indra kagum akan kebaikan hati Radheya, sehingga menawarkan Radheya untuk memakai senjatanya (Shakti) tetapi hanya untuk satu kali saja.
Percakapan dengan Krishna  
Krishna pernah berusaha membujuk Radheya untuk membela Pandava. Percakapan ini, yang terjadi ketika Krishna meninggalkan Hastinapura setelah misi perdamaian yang gagal (lakon Kresna Duta dalam wayang purwa), berpusat kepada kebenaran moral yang mendasari alasan Pandava berperang. Walaupun Krishna menyadari kebaikan Duryodhana kepada Radheya, ia berargumen bahwa Radheya memiliki kewajiban yang lebih tinggi, mengikutinya dalam jalan kebenaran. Ketika Radheya mengatakan bahwa beralih pihak kepada Pandava adalah tindakan yang tidak terhormat, Krishna mengingatkan Radheya akan kisah Ramayana,Vibheesena, saudara Ravana memilih untuk berpihak kepada Rama setelah tidak berhasil membujuk kakaknya itu untuk merubah tindakan jahatnya.
Di sinilah rasa setia kawan Radheya ditunjukkan. Radheya memberitahu Krishna, ia mengetahui bahwa Duryodhana tidak mengikuti kebenaran, dengan mendukungnya berarti ia juga tidak mengikuti kebenaran, dan pada akhirnya ia akan menghadapi kekalahan dan kematian karenanya. Tapi ia tetap memutuskan untuk membela Duryodhana. Ia berkata kepada Krishna, “Sepanjang hidupku orang menganggapku anak seorang tukang kuda dahulu, baru kemudian sebagai seorang prajurit dan raja. Duryodhana adalah satu-satunya orang yang tidak hanya memandangku sebagai seorang prajurit dan raja, tetapi juga sebagai seorang yang setara dengan dirinya. Tidak pernah ia memandangku sebagai seorang anak tukang kuda. Ketika temanku ini membutuhkan dukungan, masihkah engkau mengharapkanku untuk meninggalkannya?”
Keutamaan dan Ketercelaan Radheya dalam Perang Bharatayudha
Pada saat perang, Radheya bertemu dengan masing-masing Pandava (kecuali Arjuna), mengalahkan mereka, dan bahkan mampu untuk membunuh mereka. Tetapi Karna menepati janjinya kepada Kunti untuk tidak membunuh mereka.
Pada perang hari ke-13, Drona mengatur formasi pasukan yang disebut Chakravyuha. Hanya Krishna dan Arjuna di pihak Pandava yang mengetahui cara membuyarkan formasi ini; tetapi Krishna dan Arjuna dengan sengaja dialihkan perhatiannya oleh pihak Kaurava ke bagian lain dari pertempuran. Abhimanyu, anak Arjuna, memiliki sebagian pengetahuan tentang formasi ini. Ia mendengarnya ketika masih dalam kandungan saat Krishna menjelaskan tentang formasi ini kepada ibunya (ibu Abhimanyu adalah Subhadra, adik Khrisna). Tetapi saat itu Khrisna tidak menjelaskan sampai selesai. Sehingga Abhimanyu mengetahui cara memasuki formasi tersebut, tetapi tidak mengetahui cara keluar darinya. Pada hari itu tidak seorang pun sanggup mengalahkan Abhimanyu yang telah berada di dalam formasi Chakravyuha. Sendirian ia menandingi jendral-jendral pihak Kaurava termasuk Radheya, Drona, dan Duryodhana. Atas perintah Drona, Duryodhana dan Radheya mengeroyok Abhimanyu (Radheya memanah busur Abhimanyu dan melumpuhkan keretanya, kemudian para Kaurava membunuh Abhimanyu. Jadi bukan Radheya sendiri yang membunuh Abhimanyu).
Pada perang hari ke-14, perang berlangsung sampai malam. Ghatotkacha, putra Bhima yang setengah raksasa, makin memporak porandakan barisan Kaurava (golongan Asura, termasuk raksasa, makin kuat di malam hari). Radheya terpaksa memakai senjata Shakti yang dipinjamnya dari Indra untuk membunuh Ghatotkacha. Karena Indra hanya memperbolehkan Radheya memakai senjata Shakti sekali saja, maka Radheya kini tanpa senjata pamungkas dan baju besi serta antingnya yang tak tertembus senjata. Radheya hanya bisa mengandalkan kesaktiannya sendiri dalam melawan Arjuna nanti.
Pada perang hari ke-15, Drona terbunuh dan Radheya menjadi senapati pasukan Kaurava.
Pada hari ke-17, Radheya akhirnya bertemu dengan Arjuna dalam pertempuran yang seru dan setanding. Karena telah kehilangan senjata pamungkas dan baju besinya, Radheya hanya mengandalkan keahlian dan kesaktiannya sendiri. Dalam suatu kesempatan, Radheya melakukan trik cerdik dengan keahliannya. Ia membuat Arjuna lumpuh sejenak dengan memanah dada Arjuna. Ketika Arjuna belum pulih dari pukulan pertama tadi, Radheya melepaskan panah ke arah kepala Arjuna untuk membunuhnya. Krishna menyelamatkan Arjuna dengan menekan kereta mereka sampai amblas ke tanah beberapa senti, sehingga panah Radheya meleset dari kepala Arjuna. Banyak orang menganggap kejadian ini sebagai bukti superioritas Radheya dari adiknya itu, paling tidak dari sisi keahlian dan kesaktian.
Saat pertempuran berlangsung, salah satu roda kereta Radheya selip di tanah berlumpur. Ini diakibatkan oleh kutukan Brahmana yang telah disebutkan di atas. Shalya yang menjadi kusir kereta Radheya tidak bisa membantu karena telah dilumpuhkan oleh Arjuna. Radheya meminta Arjuna untuk menghentikan pertempuran untuk menunggunya mengeluarkan roda kereta dari tanah berlumpur tadi. Arjuna setuju. Tetapi Krishna menyuruh Arjuna melanggar kode keprajuritan dan membunuh Radheya yang sedang tidak berdaya. Roda kereta Radheya tidak bisa digerakkan dan kutukan Parashurama membuatnya tidak bisa membela diri. Krishna mengingatkan Arjuna kekejaman Radheya ketika ikut mengeroyok Abhimanyu yang sampai mati bertarung tanpa kereta dan senjata.
Dengan penuh kemarahan dan kesedihan Arjuna melepaskan panah Anjalika ke arah Radheya. Radheya jatuh ke tanah dengan luka yang mematikan. Tetapi ujian untuknya belumlah berakhir. Krishna menyamar sebagai seorang pertapa dan meminta sedekah kepadanya. Karna yang terluka parah tidak memiliki apapun untuk diberikan, kemudian ia ingat masih memiliki satu gigi emas. Dengan penuh kesakitan Radheya melepaskan gigi emasnya, membersihkannya kemudian memberikannya kepada Krishna. Dengan demikian Radheya menjadi satu-satunya manusia yang telah memberikan sedekah kepada Vishnu sendiri. Terharu dengan kemurahan hati Radheya, Krishna memberikan kesempatan kepada Radheya untuk mengajukan satu permintaan kepadanya. Radheya meminta agar jenasahnya diperabukan di tempat yang paling suci di dunia. Sebagai Vishnu, Krishna kemudian memperabukan jenasah Radheya ditelapak tangannya.
Setelah kematian Radheya, Kunti memberitahu Pandava bahwa Radheya adalah putranya dan saudara tertua mereka. Para Pandava kemudian berkabung untuk Radheya. Yudhistira, terutama, begitu terpukul mengetahui ibunya merahasiakan kenyataan bahwa Radheya adalah saudara tertua mereka yang seharusnya mereka hormati dan patuhi. Ia kemudian mengeluarkan sabda, agar sejak saat itu semua perempuan tidak lagi bisa menyimpan rahasia apapun untuk diri mereka sendiri. Pada hari ke-18, Kaurava tertumpas. Perang Bharatayudha berakhir, dan Yudhistira menjadi raja Hastinapura.
Perbedaan dengan Arjuna      
Banyak persamaan antara Arjuna dan Radheya. Keduanya adalah ahli memanah, dan saling bersaing untuk mendapatkan Draupadi. Keduanya juga mempunyai ikatan yang erat dengan Kaurava, baik karena pertalian darah maupun karena persahabatan. Percakapan Radheya dengan Krishna sangat mirip dengan Bhagavad Gita yang terkenal itu, dalam mana Krishna menjelaskan kepada Arjuna tentang kewajibannya sebagai seorang Khsatriya. Perbedaan mereka terletak pada keputusan yang diambil oleh masing-masing, Arjuna mengutamakan tugasnya sebagai seorang Khsatriya yang harus membela kebenaran apapun yang terjadi dan Karna mengutamakan persahabatanya dengan Duryodhana.
Beberapa Pendapat yang mendukung Superioritas Karna atas Arjuna
Banyak pendapat bahwa alasan Bhisma untuk tidak memperbolehkan Radheya bertempur bersamanya ketika ia menjadi senopati adalah rasa cintanya kepada Pandava. Jika Bhisma dan Radheya muncul bersamaan di medan perang, Pandava tidak akan mampu memenangkan Bharatayudha. Saat itu Bhisma berdalih bahwa karena Radheya berasal dari kasta yang lebih rendah. Dalam suatu kejadian saat pertempuran Radheya dan Arjuna, kereta Arjuna terpental ke belakang beberapa meter oleh panah Radheya. Krishna memuji kehebatan Radheya karena hal ini. Arjuna, yang panahnya mementalkan kereta Radheya berpuluh-puluh meter, heran atas pujian Krishna ini dan meminta penjelasan kepadanya. Krishna menjawab,“Arjuna, aku sendiri yang memiliki berat seluruh alam semesta duduk di kereta ini dan kereta ini juga dilindungi oleh Hanuman (kereta Arjuna memakai bendera Hanuman). Bila hanya engkau sendiri yang ada di kereta ini, kereta ini akan terlempar mengelilingi bumi.”

Tidak ada komentar: