Minggu, 07 Juli 2013

Bekal yang harus dimiliki Sadhaka (Penekun Spiritual)

Kode Iklan anda yang ingin ada di sebelah kiri disini
Kode Iklan anda yang ingin ada di sebelah kanan disini


Setiap orang dapat melakukan kesalahan tanpa sengaja. Betapa pun terangnya suatu nyala api, akan ada asap yang mengepul dari situ. Demikian pula perbuatan baik apa pun yang dilakukan seseorang akan tercampur dengan sedikit keburukan. Engkau harus berusaha agar keburukannya diperkecil, agar kebaikannya lebih banyak dan kejelekannya lebih sedikit. Tentu saja dalam situasi dunia sekarang ini mungkin engkau tidak langsung berhasil dalam usaha yang pertama. Engkau harus dengan hati-hati mempertimbangkan akibat dari apa pun juga yang kau lakukan, kau ucapkan, atau kau laksanakan. Sebagaimana engkau ingin orang lain memperlakukan engkau, demikian pula engkau harus terlebih dahulu memperlakukan orang lain. Sebagaimana engkau ingin agar orang lain mencintai dan menghormati engkau, demikian pula engkau harus mencintai dan menghormati mereka. Hanya dengan demikianlah mereka akan menghormati engkau. Sebaliknya, bila engkau sendiri tidak menghormati dan mencintai orang lain, jika engkau mengeluh bahwa mereka tidak memperlakukan engkau dengan sepatutnya, pastilah perkiraanmu itu merupakan anggapan yang keliru. Di samping itu, ada orang yang menasehati orang lain mengenai prinsip-prinsip kebenaran, kebajikan, dan tentang sifat-sifat kelakuan yang terpuji. Andai kata mereka mengikuti nasehatnya sendiri, mereka bahkan tidak perlu memberi nasehat tersebut. Orang-orang akan mempelajari hal itu hanya dengan memperhatikan (tingkah laku) mereka. Bila engkau menasehati orang lain dengan mengutip ayat-ayat kitab suci seperti burung beo, tanpa berusaha untuk menerapkannya dalam kehidupanmu sehari-hari, maka engkau tidak hanya menipu orang lain, tetapi bahkan lebih buruk dari itu, engkau menipu dirimu sendiri. Karena itu, engkau harus bersikap dan bertingkah laku sedemikian rupa sebagaimana engkau ingin orang lain juga bersikap dan bertingkah laku demikian pula. Bukanlah sifat seorang sadhaka untuk mencari kesalahan serta cacat cela orang lain dan menyembunyikan kesalahan serta cacat celanya sendiri. Bila ada orang yang memberitahu engkau bahwa engkau melakukan suatu kesalahan, jangan membantah dan berusaha membuktikan bahwa engkau benar, jangan pula sakit hati lalu menaruh dendam kepadanya. Pertimbangkan dan pikirkanlah hal itu, kemudian berusahalah memperbaiki kelakuanmu. Sebaliknya, bila engkau mencari-cari alasan untuk membenarkan kelakuanmu atau berusaha membalas dendam pada orang yang mengkritik engkau, jelaslah bahwa engkau tidak bertindak sebagai seorang sadhaka atau bakta.


Berusahalah agar bergaul dengan mereka yang jujur dan riang, hindarkanlah semua pikiran yang menyedihkan dan mematahkan semangat. Kemurungan, keraguan, dan kesombongan, adalah kekuatan-kekuatan jahat yang mengganggu peminat kehidupan rohani. Bila baktimu kepada Tuhan benar-benar mantap, engkau akan dapat menyingkirkan pengaruh-pengaruh buruk ini dengan mudah. Tetapi sebelum itu, gangguan tersebut dapat membahayakan usaha spiritualmu.
Yang terpenting, selalulah tersenyum riang dan penuh semangat dalam segala keadaan. Sikap yang murni seperti ini bahkan lebih penting dari pada bakti dan pengetahuan tentang Tuhan. Mereka yang murni dan selalu riang menghadapi kehidupan patut menjadi orang yang pertama-tama mencapai tujuan. Sifat periang ini merupakan buah karma baik yang telah dilakukan dalam berbagai kehidupan yang lampau. Bila seseorang selalu cemas, murung, sedih, dan selalu bimbang, ia tidak akan pernah dapat mencapai kebahagiaan, apa pun juga latihan spiritual yang dilakukannya. Karena itu, tugas pertama yang harus kau lakukan sebagai seorang sadhaka adalah berusaha agar selalu penuh semangat. Dengan kegembiraan ini engkau akan dapat memperoleh kebahagiaan apa pun yang kau cari. Jangan bangga bila engkau dipuji atau patah semangat bila dicela. Jadilah singa spiritual, tidak terpengaruh oleh sanjungan dan kecaman. Engkau harus mawas diri dan memperbaiki kesalahan serta cacat celamu sendiri. Ini sangat penting.

Bahkan dalam soal yang berhubungan dengan usaha untuk mencapai kesadaran Tuhan, engkau harus berhati-hati. Apapun juga kesulitan yang kau hadapi engkau harus berusaha meneruskan latihan spiritualmu tanpa terputus dan tanpa mengubah disiplin (yang telah kau ikuti). Jangan mengganti nama Tuhan yang telah kau cintai, kau hormati, dan kau pilih untuk diingat serta diulang-ulang. Engkau tidak akan dapat berkonsentrasi bila nama Tuhan yang kau pilih kau ganti tiap beberapa hari. Pikiranmu tidak akan terpusat. Semua latihan spiritual bertujuan untuk mencapai pemusatan pikiran ini. Karena itu, jangan terus menerus memilih dan mengganti bermacam-macam nama serta wujud Tuhan; satu nama Tuhan harus kau pilih dan kau gunakan seterusnya untuk japa dan meditasi. Bersamaan dengan itu, engkau harus mempunyai keyakinan yang teguh bahwa semua nama dan wujud Tuhan adalah sama dengan nama dan wujud yang kau gunakan untuk japa dan meditasi. Nama dan wujud yang kau pilih ini haruslah tidak menimbulkan rasa tak suka atau tidak sayang sedikit pun juga. Terimalah semua kehilangan serta kerugian duniawi, penderitaan dan kesusahan, hanya sebagai hal yang sementara dan cepat berlalu. Insafilah bahwa semua meditasi dan japa ini hanyalah untuk mengatasi kesedihan semacam itu. Pahamilah bahwa latihan spiritual membuat engkau dapat memisahkan yang nyata dari yang tidak nyata, sehingga engkau tidak bingung dan keliru menganggap itu sebagai ini, dan ini sebagai itu. Engkau harus mengerti bahwa kehilangan, kerugian, penderitaan, dan kesusahan bersifat lahiriah milik dunia ini. Japa dan meditasi adalah batiniah dan tergolong dalam alam kasih kepada Tuhan. Inilah bakti yang murni. Jenis yang lain, bila sadhaka selalu mengganti-ganti nama dan wujud Tuhan yang dipilihnya disebut bakti yang tidak murni.

Mengubah-ubah wujud Tuhan yang kau puja tidaklah salah bila kau lakukan karena kurang mengerti. Tetapi, setelah mengetahui bahwa hal itu tidak baik dan berbahaya, dan setelah melakukan meditasi serta japa  pada nama dan wujud tersebut, bila kemudian kau ganti dengan nama dan wujud yang lain, jelaslah engkau melakukan kesalahan. Kesetiaan pada nama dan wujud Tuhan yang telah kau pilih adalah sumpah yang paling mulia, tapa yang mendalam. Walaupun misalnya ada orang tua-tua yang menasehati engkau agar berbuat demikian, jalan yang telah kau pilih jangan kau lepaskan sama sekali! Tetapi, orang tua atau guru macam apa yang akan memberimu nasehat agar mengganti nama dan wujud Tuhan yang kau puja? Siapa saja yang memberimu nasehat semacam itu, tidak layak dianggap sebagai sesepuh atau guru. Anggaplah mereka sebagai orang bodoh.

Ketetapan dalam waktu dan tempat juga penting. Sedapat mungkin usahakan agar engkau melakukan meditasi serta japa pada waktu dan tempat yang sama setiap hari. Bila engkau sedang berada dalam perjalanan dan tidak dapat berada di tempat yang sama, setidak-tidaknya lakukanlah meditasi pada waktu yang sama. Seandainya pada jam meditasimu engkau sedang berada dalam kereta api, bis, atau tempat lain yang tidak enak, sekurang-kurangnya berusahalah mengingat meditasi dan japa yang biasanya kau lakukan pada waktu itu. Bila engkau mengumpulkan harta spiritual dengan cara ini, pastilah engkau akan menjadi orang suci dan mencapai kesadaran atma.

Tidak ada komentar: