Senin, 04 Maret 2013

Jalan Keselamatan

Kode Iklan anda yang ingin ada di sebelah kiri disini
Kode Iklan anda yang ingin ada di sebelah kanan disini


Istilah jalan keselamatan ataupun Juru selamat dalam hubungannya dengan agama maupun berbagai kelompok spiritual yang ada, bukanlah merupakan hal baru sebab hal ini sudah seringkali di perkenalkan khususnya oleh para misionaris agama ataupun penekun spiritual yang hanya meng-Copas (Copy Paste) sebuah ajaran tanpa memproses kesesuaiannya melalui Viveka yang diberikan Tuhan. Sehingga seringkali kebenaran dipaksakan untuk situasi, tempat, maupun kepada orang yang tidak tepat. sehingga perdebatan dan pertentanganpun akhirnya muncul sebagai akibat dari kesalahan menempatkan kebenaran di tempat yang tepat. Sebagai misal, seorang misionaris kriten militan akan bersikukuh dengan penuh keyakinan bahwasannya hanya ada satu juru selamat yang telah dikirim ke bhumi untuk menyelamatkan manusia dari kubangan dosa, yakni Yesus Kristus.Tidak ada satu agama manapun di dunia ini yang sebaik dan semudah Kristen, hanya di Kristenlah kita dapat menemukan kenyataan bahwasanya hanya dengan percaya pada Yesus dan menyerahkan diri kepadanya, maka segera dosa-dosa kita akan di hapuskan. Yesus datang ke dunia ini untuk menghapuskan dosa-dosa manusia yang percaya kepadanya. Tidak terdapat satu manusiapun di dunia ini yang luput dari dosa, karena untuk dapat terbebas serta murni dari dosa sangatlah sulit, sehingga satu-satunya jalan yang mudah dan pasti untuk mencapai kerajaan Tuhan hanyalah dengan percaya pada Yesus Kristus.” Tentu saja pernyataan ini benar jika kita mengimani diri sebagai seorang Kristen, tetapi akan menjadi sesuatu yang tidak benar jika statement yang sama kemudian kita berikan kepada orang lain di luar keyakinan Kristen  sebab diluar Kristen, seperti Islam, juga memiliki hal yang sama dengan kemasan berbeda. “Dalam ajaran Islam, iman mendasar yang harus dimiliki adalah yakin dan percaya bahwa hanya ada satu Tuhan, yaitu Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah. Disamping itu umat muslim juga harus percaya pada adanya kiamat, penghakiman akhir, padang masyar, dan syurga (sorga), keyakinan bahwa Islam adalah agama terakhir yang menyempurnakan agama-agama sebelumnya dan hanya Islam-lah satu-satunya jalan mencapai Tuhan, Allah.” Maka demikian pulalah bagi para penganut Sanathana Dharma-Hindu, yang juga memiliki keyakinan bahwa mereka mempunyai Juru selamat yang dikenal dengan nama Sri Krishna. Satu-satunya kepribadian Tuhan yang tertinggi (Ishvara Parama Krishna) sebagaimana tersirat dalam bait mantram Narayana Upanisad ‘Eko Narayana Na Dwityo ‘sti kascit’ – Hanya ada satu Tuhan, Ia yang disebut Narayana / Krishna. Sama sekali tiada duanya. Pengertian ini hampir bisa disamakan dengan bait ‘La ilahailallah’ – Tiada Tuhan selain Allah. Petunjuk tentang jalan keselamatan ini dalam faham Sanatana Dharma dapat kita lihat dalam Bhagavad Gita Bab 4.36-37; dimana Sri Krishna bersabda  api ced asi päpebhyaù sarvebhyaù päpa-kåt-tamaù sarvaà jïäna-plavenaiva våjinaà santariñyasi yathaidhäàsi samiddho ‘gnir bhasma-sät kurute ‘rjuna jïänägniù sarva-karmäëi bhasma-sät kurute tathä, Walaupun engkau dianggap sebagai orang yang paling berdosa diantara semua orang yang berdosa, namun apabila engkau berada didalam kapal pengetahuan rohani, engkau akan dapat menyeberangi lautan kesengsaraan. Seperti halnya api yang berkobar mengubah kayu bakar menjadi abu, begitu pula api pengetahuan membakar segala reaksi dari kegiatan material sehingga menjadi abu, wahai Arjuna”. jadi dalam sloka ini, setidaknya kita dapat menarik kesimpulan bahwasanya dosa dalam konsep Veda juga dapat dihapuskan. Kegiatan material dan kegiatan berdosa ini dapat segera hilang dan diampuni oleh Tuhan Yang Maha Esa setelah kita insaf dalam pengetahuan rohani dan menyerahkan diri kepada Beliau.
Dengan demikian sangat jelas bahwa dimasing-masing agama ataupun kelompok Spiritual, Tuhan, Rsi, atau Nabi yang merupakan utusan beliau telah memberikan petunjuk tentang jalan keselamatan dan juru selamat bagi pengikutnya masing-masing yang pada dasarnya akan menuju pada satu sumber yang sama walaupun terlabel dan terkemas dengan cara yang berlainan. Jalan keselamatan ataupun juru selamat tidak hanya dimiliki oleh satu agama atau satu kelompok spiritual saja.


    Benarkah hanya dengan memakai tanda-tanda Vaisnava atau Diksa, bhakti seseorang baru akan bisa diterima oleh Tuhan ?
Sebuah pernyataan yang sangat menggelitik adalah ketika mendengar bahwasannya hanya setelah melalui proses Diksa, pengangkatan seorang guru atau pemakaian tanda-tanda Vaisnava seperti tilaka, sikha, tulasi, dan japa sajalah bhakti seseorang baru bisa diterima, membuat saya merasa kecewa sekaligus bersedih karena Tuhan Sri Krishna yang merupakan orang tua bagi semua mahluk hidup sebagaimana yang Beliau nyatakan dalam Bhag.Gt :9.17 Pitaham asya jagato // Matadatta pitamaha… – Aku adalah ayah, ibu, dan kakek…..akhirnya dibatasi hubungannya dengan beberapa anak-Nya hanya karena tidak memakai atribut yang sama dengan saudaranya yang lain. Apakah Tuhan sebegitu sempitnya menilai bhakti seseorang? Dan apakah kwalitas bhakti bisa dinilai dari faktor lahiriahnya saja. China Katta ini mungkin bisa memberikan sedikit gambaran agar kita tidak Aparad membatasi kemahakuasaan Tuhan yang tiada batas hanya dengan menggunakan alat indera material yang serba terbatas sebagai alat ukur.

Bhakti Sabari (Dari buku Chinna Katta  jilid I)
Sabari adalah seorang wanita yang tinggal di pertapaan Rsi Matangga, yang karena kwalitas hatinya yang murni membuat Sri Rama menerima persembahan buah darinya setelah terlebih dahulu dicicipinya. Walaupun secara mata jasmani, hal ini kelihatan sangat tidak sopan dan tidak wajar.
Sabari adalah seseorang yang berhati lembut dan penuh belas kasihan. Pada saat ia sudah beranjak dewasa, perkawinannya diatur oleh orang tuanya sedemikian rupa. Sebagai adat kebiasaan adiwasis, maka dalam ritual perkawinan itu akan dipersembahkan seekor domba kepada perwujudan Dewi yang dipuja di didesa itu sehari sebelum upacara pernikahan berlangsung agar pasangan itu mendapatkan restu. Ketika Sabari mengetahui tentang rencana penyembelihan hewan yang akan dijadikan kurban itu, ia menangis, disembahnya orang tuanya sambil memohon agar kambing itu diselamatkan. Ia berkata “Bagaimana mungkin perkawinan kami akan bahagia jika diawali dengan jeritan kematian kambing yang tak memiliki salah apapun kepada kami ini?” tetapi argument itu tidak dihiraukan para tetua lalu meneruskan ritual yang kejam itu. Sabari akhirnya melarikan diri dan lari kehutan. Menjauhkan diri dari kumpulan para dogmatis ritual itu. Ketika fajar menyingsing, orang tuanya dan mempelai laki-laki tenggelam dalam kesedihan dan kekhawatiran karena kehilangan mempelai perempuan. Mereka memeriksa seluruh daerah itu, sementara itu, tanpa diketahui Sabari berbaring di antara semak-semak yang lebat untuk menyembunyikan dirinya. Karena lelah mencari dan tidak menemukan Sabari, akhirnya para penduduk desa pulang sambil berkata “Ia tidak mungkin pergi ke pertapaan, karena wanita tidak akan diijinkan tinggal disana”. Sabari mendengar kata-kata ini dan mendapatkan ide serta kesimpulan bahwa pertapaan akan menjadi tempat bersembunyinya yang aman. Ia yakin bahwa beberapa pertapa pasti akan mau berbelas kasihan kepadanya. Demikianlah akhirnya ia sampai di pertapaan Rsi Matangga dan setelah mengutarakan kisahnya, akhirnya ia diijinkan tinggal di pertapaan. Disana Sabari mendapat informasi bahwa Tuhan dalam wujud Sri Rama suatu hari akan datang ke tempat itu karena beliau telah diasingkan selama 14 tahun dan beliau berhasrat untuk menolong para Rsi dari gangguan para raksasa yang selalu mengacaukan kegiatan bhakti mereka. Disebutkan bahwa Rama tengah mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya bersama istri-Nya; Dewi Sita dan juga saudara-Nya, Laksmana.
Sejak hari itu yang ada dalam pikiran Sabari adalah kerinduan yang teramat untuk bisa memperoleh dharsan Tuhan, kesempatan menyentuh kaki-Nya ataupun berbicara dan mempersembahkan sesuatu kepada Sri Rama. Hatinya penuh dengan Ramarasa, manisnya prinsip Rama. Ia tidak melakukan japam, dhyanam, ataupun latihan spiritual. Waktunya dihabiskan untuk mempersiapkan kunjungan Rama ke tempat itu. Sambil membersihkan jalan, ia juga membersihkan hatinya dengan mengingat dan menyanyikan nama Rama. Ia berjalan melewati semak semak dan menyingkirkan tanaman merambat dan mawar hutan yang bergelantungan, karena ia bayangkan Rama tidak sempat menyisir rambut-Nya sehingga menjadi kusut dan bisa tersangkut oleh tanaman menjalar. Gumpalan tanah diratakannya dan semua duri ataupun kerikil dijauhkannya karena ia takut kaki Sita yang lembut akan sakit jika menginjaknya. Ia selalu mengumpulkan buah dan umbi-umbian yang ada di hutan lalu menyiapkannya karena tidak seorangpun tahu kapan Rama akan datang. Ia tidak mau mengambil resiko tidak siap jika mereka tiba-tiba datang. Dilicinkannya semua permukaan batu yang terletak di tepi jalan di dalam hutan karena ia mengharap Rama, Sita, ataupun Laksmana akan duduk disitu jika mereka kelelahan berjalan. Dengan demikian segala perbuatan yang dilakukan Sabari hanyalah agar bisa menyenangkan Tuhan. Ia telah membuat hatinya menjadi tempat yang layak bagi kemuliaan Tuhan ‘Rama Hrdaya’.

Hari demi hari berlalu, namun Rama, Sita, dan Laksmana belum juga datang. Tetapi Sabari tidak pernah mengeluh ataupun menyerah. Sehingga Tuhan yang maha tau menjawab bhakti itu dengan kunjungan mereka ke pertapaan Rsi Matangga. Sinar kedewataan yang memancar dari wajah Sri Rama begitu menenggelamkan hati Sabari, air mata kerinduannya tumpah tanpa bisa dibendung, lalu ia menjatuhkan diri di kaki padma Sri Rama. Setelah puas melakukan dandavat, Sabari menjamu mereka dengan hidangan buah dan umbi-umbian yang telah dipersiapkannya. Namun sebelum ia memberikannya kepada Rama, setiap buah dan umbi itu dicicipinya terlebih dahulu untuk memastikan bahwa semua yang dipersembahkan kepada mereka hanyalah yang manis-manis saja. Beberapa orang yang melihat kejadian ini menganggap Sabari sudah tidak waras karena tidak mengindahkan sopan santun. Tapi tidaklah demikian apa yang menjadi penilaian Tuhan. Tidak semata-mata bhakti yang diperlukan tetapi niat dan motiv dalam pelaksanaan bhakti itulah yang menjadi acuan. Sri Rama tersenyum dan dengan senang hati menerima persembahan dari seorang bhakta yang diliputi dengan cinta kasih. Sabari mendapatkan Dharsan (melihat kemuliaan dan penampakan Tuhan), Sparsan (bersentuhan dengan Tuhan) dan Sambhasan (bercakap-cakap dengan Tuhan) karena kemurnian hatinya.

Bhakti para bocah penggembala sapi (Dari Buku Pancaran Bhagavatam jilid II)
Sebagaimana biasa, Krishna selalu mengajak teman-teman-Nya untuk menggembalakan ternak sapi di padang rumput dekat hutan di Vrndavan sambil bermain bersama para bocah angon lainnya. Saat siang hari, ketika sudah tiba waktunya untuk makan, mereka duduk di bawah pohon rindang dan membuka bungkusan kain berisi nasi dingin yang dicampur yogurt, krim, susu, serta lauk lain sesuai dengan selera dan kebutuhan masing-masing. Anak-anak itu menunggu hingga Gopala membuka bungkusan beliau dan mulai makan.  Setelah itu barulah mereka mulai dengan suapan pertama. Segera setelah Gopala makan sesuap, setiap anak mulai makan. Kadang-kadang Gopala memberi teman-teman beliau segenggam makanan dari bekal beliau dan menerima dari setiap anak. Segenggam dari bekal mereka masing-masing. beliau pergi ke setiap anak dan minta agar diberi sebagian dari bekal mereka. Bocah-bocah itu enggan dan merasa tidak pantas memberi Gopala segenggam makanan yang beliau minta dari bungkusan mereka karena menurut peraturan adat, makanan yang sudah dimakan sudah tidak murni lagi. Menyadari hal ini, Gopala meyakinkan mereka bahwa Tuhan yang maha esa dan yang sama bersemayam dalam diri mereka semua, karena itu mereka tidak boleh merasa terpisah dari beliau. Bagaimana ketidak murnian itu bisa timbul jika semuanya adalah satu? Demikian tanya beliau. Kemudian buah acar yang telah digigit dan diletakkan di samping, beliau ambil dan beliau gigit sedikit untuk dimakan. Lihat bagaimana mungkin Tuhan yang makan dengan sangat berselera dari persembahan buah Shabari ketika beliau muncul dalam wujud Sri Rama menolak makan sisa bekal para bocah angon teman-teman beliau? Dalam hal ini keduanya (para gopa dan Sabari) memiliki bhakti dan cinta kasih murni yang mendalam kepada beliau yang menyebabkan mereka layak mendapatkan hal tersebut.

Dari 2 kisah ini, jelas bahwa proses bhakti tidak mengenal faktor usia, tempat, gender, warna kulit, dll. Sebagai contoh, Prahlada adalah anak raksasa tetapi ia mampu meraih kasih Tuhan walaupun dalam usia yang masih sangat muda, demikian pula dengan Dhruva, dan para gopika, bahkan Jatayu yang hanya merupakan seekor burung, ataupun Gajah – yang bernama Gajendra juga bisa mendapatkan rahmat yang sama jika hati dan perasaannya memang difokuskan kepada Tuhan. Tuhan tidak bisa dibatasi oleh berbagai aturan dalam pandangan manusia sepanjang ketulusan cinta bhakti menjadi landasannya.

Jadi dalam hal ini, kwantitas berjapa ataupun proses Diksa tidak bisa dijadikan tolak ukur tunggal dalam menilai tingkatan bhakti dan spiritualitas seseorang. Saya setuju dengan adanya Diksa ataupun inisiasi bagi seorang calon penyembah Tuhan agar bisa dibukakan pintu kebjikasanaannya dan agar ia bisa diarahkan, dibimbing, serta diawasi oleh Guru demi peningkatan bhaktinya, namun begitu karena Diksa melalui pengangkatan seorang Guru bukan barang dagangan remeh yang perlu dijajakan, melainkan Diksa adalah obat mujarab yang harus dicari dengan sungguh-sungguh oleh peminat kehidupan rohani, maka ia harus benar-benar selektif melihat kepantasan penggunanya agar tidak terjadi salah resep yang bisa mengakibatkan komplikasi apalagi efek tidak baik kepada si pemberi. 

Mengenai penggunaan tanda-tanda Vaisnawa, saya rasa juga baik sepanjang itu tidak ditampilkan secara exclusive dan berlebihan kepada orang lain yang masih awam, dan juga penekanannya tidak mengarah keluar kepada orang yang belum mau menerima keyakinan dimaksud. Seperti halnya dalam penganut Taoisme yang berkeyakinan bahwa proses “Chu Tao” pembukaan pintu kesadaran atau ritual pembakaran nama sebagai simbul pendaftaran nama di Surga sekaligus pencabutan data di alam Neraka adalah sebuah keharusan untuk dilakukan sebelum dapat mengikuti dan menerima pelajaran di kelompok itu, adalah baik untuk diberikan dan dilaksanakan bagi mereka yang mau menerimanya, tetapi justru akan benar-benar menjadi penghambat dalam menyebar luaskan kebenaran dan kasih Tuhan jika sedari pertama kita sudah menerapkan berbagai aturan yang seakan menjadi sebuah ‘Keharusan” bagi para pengikut baru. Mari kesampingkan terlebih dahulu berbagai batasan yang ada agar orang awam dapat masuk serta menikmati kasih kemuliaan Tuhan sehingga sesudah mengecap manisnya nama Tuhan di tempat itu, mereka tidak mau pergi dan akan segera menyadari keperluan selanjutnya untuk bisa tetap berada dalam kemanisan itu. Sebagaimana kumbang yang tertarik oleh keharuman teratai lalu terlena dalam kemanisan serta keharuman sang bunga.

   Menggunakan Maha Mantra Hare Krishna dalam berjapa tanpa mengambil Diksa Harinam dari garis perguruan Hare Krishna adalah sebuah Aparad.
Maha Mantra yang tersusun dari 16 suku kata ketuhanan yakni “Hare Krishna Hare Krishna; Krishna Krishna Hare Hare; Hare Rama Hare Rama; Rama Rama Hare Hare” adalah rumusan Mantra yang dijelaskan oleh Deva Brahma kepada Devarsi Narada untuk menghancurkan pengaruh buruk Kali Yuga. Hal ini termaktub dalam Kalisantara Upanisad. Tidak ada kalimat yang menjelaskan bahwa Maha Mantra ini hanya diberikan kepada garis perguruan Brahma Sampradaya saja. Sebab mantra ini diperuntukkan bagi semua mahluk hidup tanpa terkecuali apapun agama, kelompok spiritual, suku bangsa, maupun warna kulit yang dimilikinya. Sepanjang mereka memiliki keyakinan yang mantap terhadap kekuatan mantra ini, tentu ia akan terselamatkan.
Bhagavata Purana 6.3.21, menjelaskan bahwa ajaran Veda memiliki empat garis perguruan pokok, yaitu dari Brahma Sampradaya, Sri (Laksmi) Sampradaya, Rudra (Siva) Sampradaya dan Catur Kumara (Sanaka) Sampradaya. Hare Krishna atau ISKCON hanya salah satu dari keempat cabang pohon besar Sanatana Dharma. Jadi tidak bisa dikatakan sebagai sumber utama dari buah manis yang bernama Maha Mantra. Krishna adalah tujuan akhir yang harus dicapai dalam mempelajari kesusastraan Veda karena Sri Krishna adalah Veda itu sendiri, beliaulah yang menyusunnya dan beliau pulalah yang paling mengetahui seluk beluk pengertian Veda (B.G :15.15 ….Vedais ca sarvair aham eva vedyo // Vedanta-krd veda-vid eva caham). Jadi kalaupun seseorang tidak berada dalam garis perguruan Brahma Sampradaya (ISKCON) bukan berarti mereka telah salah jalur dan tidak boleh memakai Maha Mantra sebagai media mendekati Sri Krishna. (untuk hal ini, saya persilahkan anda menggali pemahaman lebih dari berbagai kelompok spiritual lain untuk dapat mengetahui kebenaran sejatinya. Karena jika hanya berpatokan pada satu literature buku saja tanpa mau membaca buku lain sebagai perbandingan, seringkali akan menimbulkan pemahaman yang keliru tentang ajaran lain)

       Pelayan bagi Tuhan.
Dari Sembilan cara bhakti yang dijelaskan dalam Nava vidya Bhakti, ada disebutkan salah satunya sebagai ‘Dasyam” atau cara bhakti kepada Tuhan dengan menempatkan diri kita sebagai abdi atau pelayan, dan Tuhan sebagai Tuan atau atasan yang berkuasa penuh. posisi ini umum diterapkan oleh agama-agama di dunia dan juga beberapa kelompok spiritual dimana Tuhan di takuti, dihormati karena Kemaha Kuasaan dan kemaha mutlakan-Nya. Tetapi dalam keyakinan Sanatana Dharma, dimana Kitab Bhagavad Gita menjadi salah satu dasar hukumnya, Sri Krishna juga mewejangkan “aham bija pradah pita, Aku adalah ayah semua mahluk hidup…”. (B.G 14.4 ) jadi Tuhan dalam konsep ini juga seringkali dipersamakan dengan orang tua sendiri sebagai Bapa, sebagaimana keyakinan Kristen yang mengenal istilah Tuhan Bapa. Selain itu, dalam khasanah Hindu, juga dapat kita temukan bahwa bhakti kepada Tuhan dapat diapresiasikan dalam bentuk seperti :
1.    Madhurya bhakti ; Mengibaratkan Tuhan sebagai Kekasih. Bhakti seperti ini dicontohkan oleh para gopi di Vrndavan
2.    Vatsalya bhakti ; Bhakti kepada Tuhan dengan mengibaratkan-Nya sebagai seorang anak, segala kasih keibuan dan rasa pengorbanan orang tua kepada anaknya ditujukan kepada Tuhan. Ibu Yasoda dan Nanda Maharaj adalah contoh yang menggambarkan bhakti seperti ini.
3.    Sakhya bhakti; Bhakti kepada Tuhan dengan menganggap beliau sebagai sahabat paling dekat tempat mencurahkan ide,membahas persoalan,ataupun merencanakan sesuatu. Sebagaimana ditunjukkkan oleh para Gopa di Gokul dan juga persahabatan Arjuna dengan Sri Krishna.

Namun perlu digaris bawahi bahwa masing-masing “rasa” dalam menyembah Tuhan disini tidak dapat dipaksakan. Tidak semua orang sanggup menganggap Tuhan seperti anak, sahabat atau kekasih, dan tidak semua orang juga bisa menyembah Tuhan seperti kedudukan atasan dengan bawahan. Oleh karena itu, alangkah tidak bijaksananya jika kita berani mengomentari cara pelayanan bhakti seseorang kepada Sri Krishna hanya karena mereka tidak mengikuti tata cara dan aturan yang diterapkan di ashram. Cari dan pahamilah rasa yang tepat dalam diri kita masing-masing dan biarkan Tuhan yang menilai tingkat kesungguhan dan kekhusukan bhakti umat-Nya.

Tidak ada komentar: