Kamis, 22 November 2012

Krishna dalam Kitab suci Bhagavad Gita. penganjur Perang!

Kode Iklan anda yang ingin ada di sebelah kiri disini
Kode Iklan anda yang ingin ada di sebelah kanan disini



Bhagavad Gita kitab suci Hindu penganjur perang!
(Dari buku Hindu di balik Tuduhan dan Prasangka seri II)

Ada sekelompok orang yang menyebut Sri Krishna sebagai tokoh yang tidak bermoral, karena memaksa Arjuna berperang padahal, menurut mereka Arjuna telah tegas-tegas menolak terlibat dalam pertempuran yang akan memaksanya membunuh kakek, guru, kerabat, dan sanak saudara yang ia hormati dan ia cintai. Benarkah Bhagavad Gita semata-mata mengajarkan perang dan kekerasan?. Pelajaran moral apa yang terkandung dalam perintah Sri Krishna yang menegaskan bahwa Arjuna tetap harus berperang ?

Pada suatu waktu, dalam sebuah diskusi pendalaman Bhagavad Gita, ada seorang peserta yang berkata : “Saya sudah muak dengan agama. Saya malas membaca kitab suci lagi. Termasuk membaca Bhagavad Gita. Bukankah justru gara-gara ayat dalam kitab suci, manusia terus saling berperang. Semua orang tahu bahwa pertikaian di Timur tengah telah berlangsung puluhan tahun. Pertikaian antara Israel dan Palestina misalnya terus saja berlanjut. Padahal berbagai upaya perdamaian sudah dilakukan tapi tetap saja konflik itu tidak pernah berakhir. Bulan-bulan terakhir ini konflik itu bahkan makin meluas dan menyeret Negara-negara lain. Saya pribadi berpendapat bahwa konflik itu tidak akan pernah selesai. Soalnya kalau mau jujur, konflik itu diilhami dan dilandasi oleh perintah-perintah kitab suci agama masing-masing dari pihak yang bertikai itu. Dalam kitab suci itu, diakui atau tidak, ada pemaparan tentang sejarah pertikaian antara nenek moyang mereka, disertai klaim bahwa pihak merekalah yang dilindungi dan dikehendaki oleh Tuhan. Dendam itu akan terus berkobar di dada generasi penerus mereka masing-masing terlebih setelah mereka membaca kitab sucinya. Bukankah sejak kemunculannya, 3 agama yang sama-sama berasal dari Nabi Ibrahim itu memang selalu bertikai? Bukankah kalau hanya dibaca secara tekstual apa adanya, banyak ayat yang seolah mengajarkan dan membenarkan kekerasan kepada umat lain? Karena itu selama masing-masing kelompok masih berpegang teguh pada apa yang tersurat dalam kitab-kitab mereka, maka selama itu jalan perdamaian akan jauh dari harapan.

Tadinya saya masih menaruh harapan bahwa kitab-kitab hindu pasti tidak begitu. Karena Hindu terkenal sebagai agama Damai yang penuh toleransi. Saya pikir sikap orang hindu yang umumnya toleran, itu pasti karena pengaruh ajaran kitab sucinya. Lalu saya coba pelajari kitab suci Hindu maksudnya sekalian memperoleh pencerahan dan pengetahuan rohani. Selanjutnya Bhagavad Gita-lah yang paling mudah diketemukan karena susah menemukan kitab yang lainnya. Tapi akhirnya saya bingung dan sangat kecewa karena baru membaca Bab I dan Bab II saja sudah ngeri dan memutuskan untuk tidak meneruskan membacanya. Karena di bab itu dia saya temukan Krishna yang diagungkan sebagai Tuhan justru menganjurkan peperangan dan pembunuhan kepada sanak keluarga. Lagipula disabdakannya kitab suci itu kan di medan perang, sehingga saya berkesimpulan bahwa semua kitab suci agama sama saja yakni mengajarkan kekerasan padahal seharusnya menciptakan kerukunan dan perdamaian.”
Teman itu lalu mulai mengkritik Sri Krishna penyabda Bhagavad Gita. Menurutnya Krishna adalah tokoh yang tidak punya moral karena memaksa Arjuna untuk membunuh kakek, sanak keluarga, dan gurunya sendiri. Padahal Arjuna sudah menolak untuk berperang dengan dalih yang sangat manusiawi dan menjunjung nilai-nilai tinggi Ahimsa. Karena Ahimsa adalah Dharma tertinggi menurut Weda (Ahimsa Paramadharma). Namun begitu Sri Krishna terus membujuk Arjuna dengan iming-iming tawaran yang menggiurkan. Sebagaimana bisa dilihat dalam B.Gita 2.37 yang terjemahannya sbb :
“ wahai Arjuna, engkau akan terbunuh di medan perang dan mencapai planet-planet surge atau engkau akan menang dan menikmati kerajaan di dunia? Karena itu bangun dan bertempurlah dengan ketabahan hati.”

Bhagavad Gita dikenal sebagai simbul kedamaian dan pencerahan bhatin. Mahatma Gandhi menyatakan “Bhagavad Gita adalah sumber kedamaian bagiku. Manakala keputusasaan datang menghampiri, aku membuka lembaran-lembaran Gita dan selalu kutemukan ayat yang memberikan pengharapan.” 
Meskipun demikian, kita tahu bahwa Gandhi adalah penganjur Ahimsa (Anti kekerasan). Ia juga mengakui bahwa beberapa sloka/ayat dalam Bhagavad Gita itu penuh dengan misteri dan pemaknaannya tidak mungkin dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Misalnya dalam Bab 18 sloka 17, Sri Krishna menyatakan bahwa kegiatan membunuh sekalipun dapat bersifat rohani dan merupakan salah satu bentuk yoga. Orang yang tidak digerakkan oleh keakuan palsu dan kecerdasannya tidak terikat, tidak akan membunuh meskipun ia membunuh orang di dunia ini. Ia juga tidak akan terikat oleh perbuatannya.” Dalam karyanya yang berjudul Anna Shakti Yoga, Gandhi mengomentari ayat tersebut sebagai berikut:
“Makna ayat-ayat Bhagavad Gita ini tampaknya didasari pada cita-cita ideal di dunia khayalan yang sulit ditemukan contohnya di dunia nyata ini.” Karena alasan itulah sebagian orang terang-terangan menuduh Sri Krishna sebagai tokoh provokator yang tidak cinta damai. Anggapan demikian itu sering disebar luaskan oleh orang non hindu untuk memojokkan kitab-kitab hindu. Menurut mereka, Bhagavad Gita tidak pantas dijadikan pedoman moralitas karena jelas-jelas bertentangan dengan sikap cinta damai dan anti kekerasan. Benarkah anggapan itu? Benarkah selama ini Bhagavad Gita sudah menjadi sumber inspirasi bagi tindak kekerasan ataupun pembunuhan yang mungkin dilakukan oleh umat hindu yang ekstrim? Lalu haruskah kita menghentikan membaca kitab Bhagavad Gita?.
Selama ini orang yang menetapkan standar moralitas menurut ukuran mereka sendiri pasti akan meragukan kesimpulan Sri Krishna dalam Bhagavad Gita tersebut. Karena itu marilah secara obyektif memahami mana yang tergolong kekerasan dan mana yang bukan kekerasan. Barulah nanti kita bisa menyimpulkan apakah Sri Krishna benar-benar merupakan provokator bagi tindak kekerasan seperti yang banyak dituduhkan orang selama ini. Banyak orang yang lupa bahwa percakapan rohani antara Krishna dan Arjuna yang disebut sebagai Bhagavad Gita itu sebenarnya adalah bagian dari kitab yang lebih besar yaitu Mahabharata. Walaupun sering dibaca sebagai buku yang terpisah, sesungguhnya Bhagavad Gita yang terdiri dari 18 Bab itu adalah teks dari Bab 25-42 dari Bhisma Parwa yang merupakan salah satu bagian dari 18 parwa dalam kitab Mahabharata.
Untuk dapat memahami secara benar amanat Bhagavad Gita, kita harus memahami pula secara utuh kitab Mahabharata. Dengan demikian, kita bisa memahami apa yang melatar belakangi perang di kuruksetra dan tujuan disabdakannya Bhagavad Gita. Kalau kita mengikuti kisah Mahabharata sebelum perang di kuruksetra terjadi, sebenarnya segala upaya damai telah diusahakan. Para pandawa berhak meminta kembali kerajaan Indraprasta yang memang hak milik sah mereka. Namun para Kaurawa menolak permintaan itu, lalu para Pandawa mengalah dengan hanya meminta 5 desa sebagai tempat tinggal. Sebagai Ksatriya, tugas mereka adalah pelindung dan administrator pemerintahan. Karena itu mereka merelakan kerajaan sah mereka dan hanya meminta wilayah seluas 5 desa (1 desa untuk 1 orang) agar tetap dapat melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai Ksatriya. Duryodana yang serakah menolak mentah-mentah permintaan itu. Dengan congkak bahkan ia mengatakan, “ Wahai Pandawa, jangankan 5 desa, tanah seluas ujung jarumpun tidak akan aku relakan untuk kalian”. 


Namun begitu, segala upaya damai masih terus diupayakan bahkan tanpa diminta oleh siapapun, atas kehendak dan inisiatifnya sendiri sebagai seorang Avatara,Sri Krishna bertindak sebagai duta perdamaian. Krishna telah menunjukkan niat baik sebagai pihak yang cinta damai. Krishna pergi ke Hastinapura dan membujuk para Kaurawa agar mau berdamai dengan para pandawa. Tapi apa yang terjadi?, dengan congkaknya Duryodana justru memerintahkan prajuritnya untuk menangkap Sri Krishna. Saat dikepung oleh bala tentara Kaurawa itu, Krishna telah menunjukkan identitasnya yang sejati dengan menampakkan wujud Visvarupa-Nya. Tapi Duryodana tetap menghendaki perang terjadi karena ia merasa yakin dengan jumlah tentaranya akan mampu mengalahkan Pandawa. Jadi sesungguhnya siapa yang gemar perang?.  Kalau benar Krishna gemar berperang, penganjur pembunuhan dan merestui tindak kekerasan, mengapa Sri Krishna mengagungkan Ahimsa sebagai sifat mulia. Sifat agung yang tumbuh dari pengetahuan yang benar. Setidaknya 3 kali dalam Bhagavad Gita (yakni B.Gita 10.5, 13.8, dan 16.2) Krishna mendukung sepenuhnya perintah Veda. “Ahimsa sarva bhutanam = Jangan melakukan kekerasan kepada mahluk hidup manapun” perlu kita catat pula bahwa walaupun sabda dan argument Sri Krishna dimaksudkan untuk semua orang, namun dalam konteks ini, perintah Krishna untuk bertempur khususnya ditujukan kepada Arjuna. Sunguhlah bodoh kalau ada orang yang membenarkan tindakan kriminalnya dengan mengutip misalnya ayat yang berbunyi “sang roh tidak dapat dibunuh ataupun dapat membunuh”  tanpa memahami konteks makna ayat seperti itu, sebuah tindakan tergolong kekerasan atau bukan kekerasan ditentukan oleh prinsip tugas dan wewenang. Dalam system social Weda, Arjuna dan para Pandawa lainnya adalah para Ksatriya. Kata Ksatriya sendiri dalam bahasa sansekerta berarti orang yang melindungi dari bahaya. Menjadi tugas para ksatriya untuk melindungi masyarakat dari serangan musuh. Sama halnya dengan tugas TNI melindungi rakyat Indonesia dari serangan apapun. Disebutkan bahwa ada 6 golongan musuh yang harus dilawan dan bahkan diberikan hukuman mati yakni :
1.      Orang yang meracuni
2.      Orang yang membakar rumah orang lain
3.      Orang yang menyerang dengan senjata mematikan
4.      Orang yang merampok kekayaan orang lain
5.      Orang yang menyerobot tanah milik orang lain
6.      Orang yang menculik istri orang lain
Duryodana dan saudaranya telah melakukan 6 jenis kesalahan tersebut. Mereka telah berusaha membunuh Bima dengan meracuninya, pernah berusaha membakar Pandawa dan Kunti yang merupakan bibinya sendiri dengan menjebak mereka di istana kardus. Kaurawa juga sudah merampas kerajaan para Pandawa (Indraprasta), telah berusaha merebut Drupadi dan menjadikan istri Pandawa itu sebagai budak.
Walaupun upaya perdamaian telah dilakukan, Duryodana tetap ngotot ingin berperang. Karena yakin bahwa bala tentaranya yang jauh lebih banyak jumlahnya akan mampu mengalahkan Pandawa. Jadi menurut anjuran Weda, Duryodana sudah memenuhi syarat sebagai musuh yang harus dilawan dan boleh dihukum sampai mati. Sebelum peperangan, Krishna memberikan pilihan kepada Pandawa dan Kaurawa, Mereka dipersilahkan memilih salah satu. Pasukan Sri Krishna yang tak terkalahkan atau memilih diri Krishna yang tidak akan ikut bertempur. Demikianlah ketika kedua belah pihak itu akhirnya harus berhadapan di medan perang Kuruksetra, para Pandawa memilih Sri Krishna sebagai penasehat mereka. Sedangkan Duryodana tergoda untuk memilih bala tentara kerajaan Mathura. Pada waktu perang terjadi, Krishna bertindak sebagai kusir kereta perang Arjuna. Disinilah mulainya bab pertama Bhagavad Gita. Saat melihat Kakek, Guru, Kerabat, dan Sanak keluarga berdiri berhadapan siap bertempur, Arjuna terduduk lemas, badannya gemetar, busur dan panah terlepas dari tangannya. Ia memutuskan untuk tidak bertempur dengan memberikan argumentasi berdasarkan ajaran-ajaran moralitas menurut Veda sebagai pembenaran. 

Baginya lebih baik menjadi pengemis dan hidup sebagai peminta-minta daripada menanggung dosa besar akibat membunuh orang-orang yang patut dihormatinya. Arjuna juga beralasan bahwa apabila para suami terbunuh, maka hal-hal yang bertentangan dengan Dharma akan merajalela dalam keluarga, kaum wanita dan keluarga yang ditinggalkan akan ternoda. Dan dengan merosotnya kaum wanita, lahirlah keturunan yang tidak diinginkan (B.Gita 1.40). Peperangan adalah selalu salah bagi orang yang mampu berfikir secara jernih. Lebih baik menempuh jalan non kekerasan.
Mendengar semua argumentasi itu, sambil tersenyum Sri Krishna bersabda “ …Sambil berbicara dengan cara yang pandai, engkau menyesalkan sesuatu yang tidak patut disesalkan. Orang yang bijaksana tidak pernah menyesal baik untuk yang masih hidup ataupun untuk yang sudah meninggal” (B.Gita 2.11). menurut pengertiannya, kekerasan bukan hanya menyangkut kekerasan phisik tetapi juga kekerasan terhadap mental. Termasuk pula pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Kekerasan yang dilakukan oleh Duryodana tidak hanya menyangkut kekerasan phisik semata. Ia juga telah menghalangi hak warga kerajaannya untuk hidup berdasarkan prinsip ketuhanan. Dalam sebuah pemerintahan kerajaan, biasanya masyarakat menganggap seorang raja sebagai wakil Tuhan di dunia. Seorang raja / pemimpin wajib memberikan kesempatan penuh warganya untuk dapat mengembangkan kehidupan spiritual dan kesadaran kepada Tuhan. Selama ini para Kaurawa telah banyak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan Dharma. Karena itu sebagai Ksatriya, tugas Arjuna sudah jelas. Jauh dari sekedar gemar berperang, Krishna memerintahkan Arjuna untuk menjalankan tugas ksatriyanya. Tetapi Arjuna adalah Ksatriya yang lembut hati, berhati mulia, sehingga tidak ingin melakukan pembunuhan itu. Krishna lalu mengingatkan Arjuna tentang hakekat diri manusia sebagai Roh bahwasannya roh tidak akan pernah terbunuh dalam keadaan manapun. Kalau orang mau membaca sampai habis Bhagavad Gita dan tidak hanya berhenti sampai Bab 2, orang akan memahami segala misteri kehidupan ini. Bhagavad Gita bukan hanya berbicara tentang kekerasan. Mungkin orang masih akan mempotes tindakan Arjuna adalah sebuah pembalasan dendam dan penghukuman terhadap Duryodana tetap saja merupakan tindakan kekerasan dan patut dicela, tetapi apakah pemaksaan atau pembunuhan selalu berarti kekerasan yang tercela?, dan apakah prilaku yang tampaknya bersahabat selalu berarti non kekerasan?, saat mengamputasi anggota badan pasien, seorang dokter bedah mungkin dianggap bertindak sadis dan orang awam bisa saja mengambil kesimpulan betapa sadist dan biadabnya tindakan dokter itu. Tetapi bukankah tindakan dokter bedah itu tidak melanggar hokum. Mengapa ? karena ia menjalankan tugas yang telah ditetapkan baginya dan ia melakukan hal tersebut justru untuk menolong si pasien. Tindakan amputasi atau operasi yang dilakukannya yang tampaknya kekerasan justru bertujuan baik untuk menyembuhkan si pasien. Sementara itu seorang teman mungkin berusaha menghentikan kebiasaannya mabuk atau merokok. Kalau kemudian atas nama sikap persahabatan anda menawarinya minuman keras atau rokok, tindakan anda yang tampak bersahabat itu sebenarnya adalah tindakan kekerasan karena selain menyebabkan gangguan kesehatan akibat minuman keras dan rokok yang anda berikan, barangkali anda juga bisa disebut telah melanggar kebebasan orang lain untuk menjalani pilihan hidupnya. Adanya peraturan yang disertai sanki bila merokok di tempat umum adalah salah satu bukti bahwa merokok adalah salah satu tindakan yang membahayakan atau anggaplah ada seorang polisi yang menolak melakukan kekerasan saat tugas mewajibkannya melindungi seseorang dari serangan perampok, maka tindakan polisi yang melakukan Non-kekerasan itu dengan sendirinya adalah pelanggaran terhadap hak warga Negara untuk memperoleh perlindungan. Seorang anak yang baru sadar setelah menjalani operasi berat mungkin akan menangis meminta makanan karena rasa haus dan lapar. Tapi dokter tidak menuruti keinginan anak itu dengan tidak memberinya makanan. Memberikan makanan kepada anak dalam kondisi seperti itu justru merupakan tidakan kekerasan. Contoh-contoh tersebut bisa memberikan gambaran kepada kita betapa tidak mudah menentukan mana yang kekerasan dan mana yang bukan kekerasan menurut standar moralitas buatan manusia. Karena itu kita membutuhkan sebuah standar moral absolute yang melampaui standar relative, benar salah dan baik buruk di dunia ini. Sekali lagi pertempuran perang di medan perang Kuruksetra merupakan pilihan terakhir yang tidak dapat dihindari lagi. Bagi Arjuna, penolakannya bertempur dilandasi oleh kemuliaan hati dan sifat welas asihnya yang benar. Tetapi jika Arjuna meninggalkan medan perang itu, apakah para Kaurawa akan menganggap Arjuna sebagai Ksatriya berhati mulia? Tidak! Mereka akan menganggap sebagai pengecut.
Marilah kita simak sloka 2.30 -2.38 agar dapat memahami secara utuh alasan Krishna meminta Arjuna tetap bertempur.:
“Wahai putera keluarga bharata, dia yang tinggal dalam badan tidak pernah dapat dibunuh. Karena itu engkau tidak perlu bersedih hati untuk mahluk manapun. Mengingat tugas kewajibanmu yang khusus sebagai seorang Ksatriya, hendaknya engkau mengetahui bahwa tiada kesibukan yang lebih baik untukmu daripada bertempur berdasarkan prinsip-prinsip Dharma. Karena itu engkau tidak perlu ragu-ragu”

“Wahai arjuna, berbahagialah para Ksatriya yang mendapat kesempatan untuk bertempur seperti itu tanpa mencarinya. Kesempatan yang membuka pintu gerbang planet-planet surga bagi mereka.”

“Akan tetapi kalau engkau tidak melakukan kewajiban Dharmamu, yakni bertempur, engkau pasti menerima dosa karena melalaikan kewajibanmu.dan dengan demikian kemasyuranmu sebagai ksatrya akan hilang. Orang akan selalu membicarakan engkau sebagai orang yang hina dan bagi orang yang terhormat, bukankah penghinaan lebih buruk daripada kematian?”
“Jendral-jendral besar yang sangat menghargai nama dan kemasyuranmu akan menganggap bahwa engkau meninggalkan medan perang karena rasa takut saja dan dengan demikian, mereka akan meremehkan engkau”

“Musuh-musuhmu akan menjuluki engkau dengan banyak kata yang tidak baik dan mengejek kesanggupanmu. Apa yang dapat lebih menyakiti hatimu daripada itu?”

“Wahai putra Kunti, engkau akan terbunuh di medan perang dan mencapai planet-planet surge atau engkau akan menang perang dan menikmati kerajaan di dunia. Karena itu bangun dan bertempurlah dengan ketabahan hati.”

“Bertempurlah demi pertempuran saja tanpa mempertimbangkan suka atau duka, rugi atau laba, menang atau kalah, sehingga dengan demikian engkau tidak akan dipengaruhi oleh dosa.”

Jadi Arjuna mendapat perintah langsung dari Tuhan untuk membinasakan para Kaurawa. Tugasnya hanyalah bertempur, hanya sebagai alat, sekedar menjalankan kewajiban tanpa mengikatkan diri atas hasil tindakannya. Inilah sesungguhnya ajaran yang sangat dalam.
“Karena itu bangunlah. Siap-siap untuk bertempur dan merebut kemasyuran. Kalahkanlah musuhmu dan nikmati kerajaan yang makmur. Sebenarnya mereka sudah dibunuh oleh apa yang kuatur, dan engkau hanya dapat menjadi alat dalam pertempuran ini wahai Savyasaci “ (B.Gita: 11.33)
Sekali lagi, Arjuna hanya berperang sebagai instrument atau alat agar upaya penegakkan prinsip-prinsip Dharma yang dilakukan oleh Sri Krishna tampak wajar dan rasional dalam pandangan manusia biasa. Padahal sebenarnya, para ksatriya itu telah dibunuh oleh Krishna sendiri. Hal itu tampak dalam uraian arjuna tentang apa yang dilihatnya setelah ia menerima pandangan mata rohani (Caksu Divyam) dari Tuhan Sri Krishna.
“ Oh Vishnu yang berada di mana-mana, ketika hamba melihat Anda dengan berbagai warna Anda yang bercahaya dan menyentuh langit, mulut-mulut Anda yang terbuka lebar dan mata Anda yang besar dan menyala, pikiran hamba goyah karena rasa takut. Hamba tidak dapat memelihara sikap mantap maupun keseimbangan pikiran lagi “
“Oh Penguasa para dewa, pelindung dunia-dunia, mohon memberi karunia kepada hamba. Hamba tidak dapat memelihara keseimbangan ketika melihat Anda seperti ini dengan wajah-wajah Anda yang menyala seperti maut dengan gigi-gigi yang mengerikan di segala arah. hamba kebingungan”
Semua putra Drshtarata (Para Korawa) beserta raja-raja yang bersekutu dengan mereka seperti Bhisma, Drona, Karna, dan Semua pemimpin Ksatriya di pihak kita juga terseret masuk ke dalam mulut-mulut Anda yang mengerikan. Hamba melihat beberapa diantaranya tersangkut dengan kepala-kepalanya hancur diantara gigi Anda. Bagaikan ombak-ombak banyak sungai mengalir kedalam lautan seperti itu pula para ksatriya yang hebat ini menyala dan masuk ke dalam mulut-mulut Anda (B.Gita 11.25-28)


Kembali dalam kehidupan nyata kita, dalam prakteknya kekerasan sering kita butuhkan untuk memelihara ketentraman hidup masyarakat banyak. Masih ingatkah kita dengan terbunuhnya gembong terrorist dr.Azhari di daerah Batu, kabupaten Malang beberapa waktu lalu, orang dapat saja mengutuk tindakan penyergapan yang dilakukan Detasmen 88 yang mengakibatkan tewasnya orang yang paling diburu itu sebagai tindakan kekerasan yang tidak manusiawi. Bagaimanapun itu adalah tindakan kekerasan. Anehnya beberapa hari setelah peristiwa itu, anggota Detasmen 88 justru mendapatkan penghargaan dan kenaikan pangkat dari pemerintah. Mengapa? Karena pembunuhan yang mereka lakukan adalah demi menjalankan perintah Negara. Mereka memang mendapatkan mandat dan perintah untuk itu. Tetapi sebaliknya seringkali kita dengar kabar pemecatan atau pemberian hukuman kepada anggota TNI atau polisi karena telah melakukan pembunuhan di luar prosedur. Mereka menggunakan senjata apinya untuk kepentingan pribadi. Jadi tindakan itu sama-sama kekerasan dan pembunuhan tetapi yang satu mendapat tanda jasa dan kehormatan tetapi yang lain justru berbuah pemecatan dan hukuman. Apa yang membedakannya? Sekali lagi, ini adalah karena tugas dan kewajiban.
Dari uraian diatas. Kiranya jelas bahwa Sri Krishna bukanlah tokoh tak bermoral yang suka perang dan kekerasan. Bhagavad Gita bukanlah kitab yang bisa digunakan sebagai pembenaran untuk tindakan criminal yang dilakukan seseorang. Kita boleh lega karena selama ini belum pernah didengar ada orang hindu yang melakukan agresi atau peperangan dengan umat agama lain dengan alasan menjalankan perintah Krishna dalam Bhagavad Gita. Lagipula kalau benar Bhagavad Gita adalah kitab penganjur perang dan kekerasan, mengapa seorang tokoh anti kekerasan seperti Mahatma Gandhi selalu membawa-bawa Bhagavad Gita kemanapun beliau pergi. Mengapa semakin banyak orang dari belahan dunia kini memeluk agama hindu berawal dari membaca Bhagavad Gita? Tentu saja yang harus kita lakukan adalah membaca Bhagavad Gita dengan didasari kerendahan hati, dibaca secara keseluruhan dengan bantuan dan bimbingan guru spiritual yang telah memahami amanat rohani kitab suci itu. Kita butuh kehadiran guru atau dosen bahkan untuk memahami dan mengerti ilmu pengetahuan material sekalipun. Apalagi untuk memahami dan menghayati misteri pengetahuan rohani seperti yang terkandung dalam Bhagavad Gita.
Jadi sayang sekali jika ada orang yang tidak lagi membaca Bhagavad Gita hanya karena belum memahami amanat rohaninya. Mungkin ia belum pernah membaca komentar Dr.Edwin H Powell, seorang professor sosiologi State University of New York yang menyatakan sebagai berikut.” Kalau memang kebenaranlah yang berhasil seperti yang ditegaskan oleh Pierce dan para pengikut pilsafat pragmatisme, maka pasti ada kebenaran dalam Bhagavad Gita menurut aslinya. Sebab para pengikut ajarannya memperlihatkan ketenangan dan keriangan yang jarang ditemukan dalam masyarakat dewasa ini yang pada umumnya hambar dan keras.
Jay Sri Krishna !

3 komentar:

Anonim mengatakan...

sebelum membaca bagawadgita ada baiknya membaca cerita mahabarata dahulu supaya tidak salah tafsir,

angel mengatakan...

Dalam perjalanan hidup batin saya, Bhagavadgita mampu menunjukkan jalan bagaimana menghadapi hidup yang berlumur dengan dosa walaupun saya seorang muslim.

Wira Hari mengatakan...

Mahabharata sarat dengan pesan moral kehidupan. ia adalah kisah dan cerminan dari kita sendiri. kita adalah arjuna yang seringkali dibelenggu oleh kebingungan tentang siapakah diri sejati ini. badan yang mempunyai nama ataukah Ia yang jati motor penggerak badan jasmani. baik muslim, kristen atau agama lain yang tidak begitu fokus pada ajaran sang roh ini, juga tentang Reinkarnasi, tetap saja mereka dan kita semua tak bisa menolak hukum sejati dari Tuhan ini. that's why Mahabharata bukanlah milik kami yang mengaku beragama HIndu saja. Ia adalah milik peradaban seluruh manusia.