Kamis, 15 November 2012

Hindu pemuja Berhala!

Kode Iklan anda yang ingin ada di sebelah kiri disini
Kode Iklan anda yang ingin ada di sebelah kanan disini


Sebelum mencari tahu kenapa agama Hindu diklaim sebagai pemuja berhala khususnya oleh golongan agama Abrahamik (Islam, Kristen, dan Yahudi) ada baiknya saya uraikan sedikit sejarah berdirinya Ka’bah, sehingga nantinya umat hindu bisa menilai dirinya sendiri apakah tuduhan itu bersesuaian ataukah jauh dari kenyataan. (Silahkan dibaca secara keseluruhan, dan tunda komentar anda jika belum dibaca secara tuntas agar tidak menimbulkan kesalah mengertian)
Menurut dr Akif Manaf Jabir (1997) dalam tradisi kuno, bangsa-bangsa arab, diyakini bahwa ketika Allah mengusir Adam dan Hawa dari surga, Adam terjatuh di sebuah pegunungan di Srilangka dan Hawa jatuh di gunung Arafat. Setelah mengembara selama seratus tahun, keduanya akhirnya bertemu di mekkah. Ditempat itulah atas petujuk dan bimbingan Allah, Adam mendirikan sebuah tempat pemujaan yang disebut Ka’bah. Pada pondasi bangunan itu, diletakkan Hajar Al-Aswad (batu hitam) yang juga turut jatuh ke bhumi saat Adam dan Hawa diusir dari surge. Menurut salah satu tradisi, batu itu semula berwarna seperti susu, namun lama kelamaan berubah menjadi hitam karena dosa-dosa peziarah yang menyentuh dan menciumnya. Batu hitam itu sesungguhnya adalah seorang malaikat penjaga Adam dan Hawa. Karena kelalainnya, Adam dan Hawa berhasil dibujuk oleh iblis untuk melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah.dengan demikian Ka’bah dibangun oleh Adam lalu sepeninggalnya kemudian dibangun oleh Seth yang merupakan salah satu dari anak Adam sendiri. Dalam tulisan lain disebutkan bahwa Mekkah adalah sebuah tempat yang tepat berada di bawah singgasana Allah di Sorga dan Ka’bah dibangun sebagai replica sebuah tempat sembahyang di surge yang dijadikan sebagai tempat para malaikat memanjatkan do’a dan memuja Allah. Menurut sejarah bangsa arab, setelah terjadinya banjir besar, Sim yang merupakan keturunan nabi Nuh mendirikan rumahnya di semenanjung arab dan selanjutnya menjadi nenek moyang dari berbagai suku yang ada disana. Salah satu cicit Si mini bernama Yarab yang merupakan pendiri kerajaan Yaman. Kata Arab berasal dari kata Yarab tersebut.(Gudratov, 1990).


Adam dan Hawa memetik buah Huldi di taman Eden

Diceritakan bahwa saat terjadinya banjir besar, Ka’bah yang dibangun kembali oleh Seth tersebut turut hancur. Ka’bah dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim dan putranya Ismail. Untuk membangun kembali Ka’bah, malaikat Jibril memberikan kepada Ibrahim sebuah batu pipih yang dapat dijadikan sebagai tangga penyangga yang dapat dipindahkan selama membuat Ka’bah. Batu tersebut dapat muncul dan menghilang dari kaki Ibrahim sesuai dengan kebutuhan. Dewasa ini masih dapat dijumpai jejak kaki Ibrahim pada batu tersebut, yang saat ini tersimpan dalam sebuah sangkar besi. Para peziarah yang datang memanjatkan doa dihadapan batu itu (Menezez, 1911). Ketika pembangunan Ka’bah hamper selesai, Nabi Ibrahim memutuskan untuk menempatkan sebuah batu di salah satu sudut bangunan itu, sebagai pertanda dari titik mana para peziarah harus memulai ritual mereka mengelilingi Ka’bah. Pada waktu itulah malaikat Jibril dan menunjukkan kepada Nabi Ibrahim sebuah batu hitam (Hajar Al-Aswad) yang dulu sempat hilang pada saat terjadinya banjir besar. Menurut Labib MZ, batu hitam tersebut ditempatkan dipojok tenggara (South eastern) Ka’bah. Selanjutnya Ka’bah dibangun kembali oleh keturunan Amalikah, keturunan Nabi Nuh. Lalu dibangun lagi oleh Banu Jurhun yang juga merupakan keturunan Nabi Nuh dengan Katan. Beberapa ratus tahun sebelum pewahyuan Al-qur’an, Ka’bah dibangun kembali oleh Kusay bin qilab yang telah memimpin suku bangsa qurays menuju mekkah. Menurut ahli sejarah Azraqi, pada masa itu Ka’bah berukuran setinggi 4,5 meter tanpa atap dan terdapat empat batu mulia di keempat sudutnya. Dewasa ini batu hitam dan Ka’bah mewujudkan sebuah tempat pemujaan kepada Tuhan sejak jaman prasejarah dan Ka’bah menjadi orientasi arah (Kiblat) umat islam seluruh dunia dalam bersembahyang. Ka’bah merupakan pusat orientasi spiritual, merupakan pendukung bagi pemusatan kesadaran bagi Yang Maha Ada. Jika orang melakukan sembahyang di dalam Ka’bah mereka boleh menghadap kearah mana saja. Hajar Al-Aswad atau batu hitam itu saat ini berada di pojok tenggara ditempatkan setinggi 1,5 meter dari tanah warnanya hitam kemerah-merahan dan terdapat partikel kekuning-kuningan berbentuk oval dan tingginya sekitar 15 inchi (38 cm) dan lebarnya lebih kurang 11 inchi (28 cm) ditempatkan dalam sebuah kotak yang terbuat dari perak. Pada sudut yang berseberangan, terdapat batu lain yang berwarna kemerah-merahan yang disebut sebagai Hajar Al-As-sa’adah (The stone of felosity) ia merupakan titik pusat Ka’bah yang menandai arah kiblat. Titik focus kegiatan sembahyang (Jabir, 1997). Dari uraian ini jelaslah bahwa Ka’bah dibangun oleh Adam dengan tujuan untuk memuja Tuhan yang Esa. Ka’bah disebut pula sebagai rumah Allah. Dikenal pula sebagai Al-bayt Al-haram (The Holy House) dan juga Al-bayt Al-atiq (The Ancient house). Dengan demikian bangsa arab kuno percaya pada satu Tuhan dan memuja Tuhan yang Esa itu namun mereka juga percaya bahwa beberapa manusia tertentu memiliki hubungan yang istimewa dengan Allah, dan memiliki kemampuan sebagai perantara bagi orang lain untuk didengar oleh Allah. Untuk mencapai Allah adalah sesuatu yang tidak mudah bagi manusia biasa karenanya, masyarakat harus mempunyai perantara untuk menarik perhatian dan pertolongan dari Allah. Oleh karena itu masyarakat Mekkah pada saat itu membuat patung-patung orang suci dan saleh lalu memujanya. Mereka juga memberikan beberapa persembahan kepada patung-patung itu dengan maksud untuk memuaskan Allah melalui perantaraan mereka (Bashir Ud-din, 1954). 


Suku-suku bangsa arab kuno meyakini bahwa Allah telah mempercayakan berbagai urusan yang berhubungan dengan fungsi dan tugas-tugas mengurus alam semesta ini kepada berbagai dewa dan dewi. Oleh karenanya orang beralih pada kepada para dewa dan dewi ini guna meminta berkah. Bangsa Arab di gurun Syria menganggap Al-Manat atau dewi fortuna sebagai permaisuri Allah dan ibu dari semua dewa. Beberapa dewa seperti Al-lat atau dewi langit dan Al-Uzza atau dewi venus dianggap sebagai putrid-putri Allah (Jabbarov, 1990) orang-orang suku yaman memuja matahari. Suku-suku lainnya menyembah bulan sedangkan yang lainnya memuja berbagai bintang. Namun sebagian dari mereka memuja berhala. Hampir setiap suku memiliki berhalanya sendiri. Di daerah dumat ul jandal disebelah utara hijaz terdapat temple waad. Berhala yang dipuja disana berupa patung manusia terbuat dari batu ditutupi oleh dua mantel. Ia membawa pedang dan busur pada bahunya. Sebuah tempat penuh anak panah tergantung pada bahunya dan memegang sebuah tombak terhiasi bendera kecil di ujungnya. (Khan, 1931). Di Hijaz dan Hajd bangsa arab memuja batu-batu yang disebut betil (rumah Allah) mereka mengitari batu-batu itu lalu menyentuhnya dengan tujuan agar kekuatan yang tersimpan dalam batu itu dapat berpindah ke dalam diri mereka. Terdapat betil yang ditempatkan secara menetap, dan ada pula betil yang dapat dibawa kemana-mana. Beberapa suku bangsa arab memuja api yang lainnya memuja bentuk alat kelamin laki-laki dan perempuan sementara orang-orang yang perkasa dan tenar membuat patung-patung diri mereka sendiri dan memaksa orang lain untuk memuja patung itu. 


Al-Uzza
Berangsur-angsur Ka’bah kehilangan pengaruhnya dan Mekkah tidak lagi memiliki wibawa. Untuk mengatasi hal itu, penguasa kota Mekkah memutuskan untuk menempatkan sebuah patung yang sangat perkasa dan berpengaruh yang dinamai Hubal dan ditempatkan  didalam Ka’bah (Talibov,1991) yang dibawa dari daerah Moab, Palestina. Tujuh buah anak panah ditempatkan di genggam tangannya. Ka’bah merupakan tempat peziarahan yang terkenal.dan untuk membuatnya lebih menarik bagi suku-suku bangsa arab, orang-orang Mekkah pada saat itu secara bertahap mulai mengumpulkan banyak patung. Tidak berselang lama, terkumpullah 360 berhala yang ditempatkan di dalam Ka’bah dan halamannya. Patung-patung Al-Manat, Al-Alat, dan Al-Uza dihiasi dengan pakaian pakaian dan perhiasan indah. Patung-patung lain yang juga terkenal adalah Wadd, Sava, Yagus,Yauk,dan Nasr. Para ahli sejarah muslim mengklaim bahwa patung-patung tersebut memang dibenarkan untuk disembah,bahkan sebelum masa banjir besar.Wadd adalah sebuah personifikasi langit dalam wujud seorang pria, Sava berwujud seorang wanita, Yagus memiliki wujud seekor singa, Yauk berwujud seekor kuda, dan Nasr berbentuk laying-layang. Ada patung lain dalam bentuk burung merpati berukuran besar, terbuat dari kayu. Bangsa arab kuno memuja para dewa tersebut dengan cara mempersembahkan dupa, makanan,hadiah-hadiah mahal,dan lain sebagainya. Mereka memandikan patung para dewa itu dengan air kumkuman bunga, madu, dan bahkan ada yang dari darah hewan yang telah dikurbankan. Di depan Ka’bah terdapat sepasang patung pria dan wanita yang bernama Isaf dan Naila. Menurut tradisi, suatu hari sepasang anak muda itu ingin melakukan hubungan badan dan tidak dapat menemukan tempat lain yang aman. Mereka masuk ke dalam Ka’bah dan mencemarinya dengan prilaku Asusila. Karena perbuatan biadab itu, Allah menghukum sepasang pemuda pemudi itu dengan mengutuknya menjadi sepasang patung batu. Orang-orang yang menjumpai tubuh sepasang manusia yang membatu itu teronggok di halaman Ka’bah. Sebenarnya peristiwa tersebut merupakan peringatan dari Allah bagi siapapun yang berani berbuat tidak senonoh dalam Ka’bah. Namun moral masyarakat pada waktu itu begitu merosotnya sehingga bahkan sepasang batu itupun mereka anggap sebagai arca yang patut disembah dan dihormati bersama berhala-berhala lainnya. 


Patung Isaf dan Naila yang dikutuk Allah
Di dalam Ka’bah terdapat lukisan-lukisan dinding termasuk lukisan sosok Nabi Ibrahim, dan lukisan Ibunda Maria bersama bayi Yesus (Hamidullah, 1974). Bangsa arab kuno juga mempunyai tradisi mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali dengan telanjang bulat. Para pria melakukannya pada pagi hari sedangkan para wanitanya melakukan pada malam hari. Dengan demikian, tidak diragukan lagi bahwa bangsa arab kuno telah memiliki keimanan pada Allah, Tuhan pencipta langit dan bhumi tetapi mereka tidak menyembah-Nya melainkan mereka menyembah berbagai berhala, dengan anggapan bahwa para berhala itulah yang telah ditunjuk untuk melakukan sesuatu kepada mereka. Misalnya dalam hal memberikan hujan, kekayaan, atau menyampaikan do’a mereka kepada Allah. Dari sejarah arab kuno tersebut dapat kita kaitkan bahwa seiiring berlalunya zaman, prinsip-prinsip agama sejati telah disimpangkan. Masyarakat memuja segala benda dan segala sesuatu yang lain selain Tuhan. Sri Krishna menyabdakan dalam Bhagavad Gita (IV.7-8)..”Bila hal hal yang bertentangan dengan Dharma / Kebenaran meraja lela, (Abhyutanam adharmasya) maka Tuhan akan utusan untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip Dharma (Dharmasamstha panarthaya). Dalam situasi seperti di semenanjung arab itulah , Nabi Muhamad SAW diturunkan untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip Dharma (Al-Qur’an) Beliau menerima wahyu melalui perantaraan Malaikat Jibril, dan diangkat sebagai Rasul Allah. Masyarakat pada waktu itu menyembah berhala hasil penggambaran dan rekaan manusia. Oleh karena itu, Nabi Muhamad secara tegas melarang penyembahan kepada berhala seperti itu. Tetapi beliau tidak melarang pemujaan terhadap penggambaran wujud-wujud yang dibenarkan menurut kitab suci. Pada saat Nabi Muhamad berhasil menguasai kota Mekkah, Beliau dan para pengikutnya memasuki bangunan Ka’bah. Ada begitu banyak penggambaran manusia pada tembok-tembok Ka’bah pada waktu itu. Nabi Muhamad memerintahkan agar semuanya dihapus kecuali penggambaran perawan Maria dan bayi Yesus (Akif Manaf Jabir,1997).
Seiiring berlalunya waktu, secara tradisi islam melarang pemujaan dan penyembahan terhadap bentuk apapun tanpa terkecuali.termasuk melarang pemujaan terhadap arca vigraha atau murti Tuhan yang dibenarkan oleh kitab suci Veda sekalipun. Menurut ajaran islam, penggambaran bentuk Allah diciptakan oleh setan dan disebut Byut (Berhala). Pemujaan kepada berhala ini dilarang secara tegas dan pelakunya akan mendapat hukuman yang pantas dari Allah. Tinjauan terhadap ajaran Al-qur’an dan Injil menunjukkan bahwa pemujaan berhala adalah sesuatu yang benar-benar terhalang. Semua larangan tersebut dinyatakan dengan tegas, jelas, dan disertai dengan ancaman hukuman bagi yang melanggarnya. 

Timbul sebuah pertanyaan, Jika Tuhan itu hanya satu lalu kenapa terdapat perbedaan besar pemahaman tentang hal ini dimana ada agama yang membolehkan pemujaan terhadap arca / wujud Tuhan tetapi di agama lain justru melarangnya dengan keras?. Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita harus menganalisa kembali pemahaman sesuai kontek terhadap ayat-ayat Al-qur’an dan Injil tersebut. Perlu kita ingat kembali bahwa menurut Veda, tiap utusan Tuhan akan mengajarkan kepada umat manusia menurut waktu,tempat,dan kecerdasan spiritual yang dimiliki oleh umat tertentu pada saat tertentu pula. Contoh yang paling mudah dipahami adalah sebagai berikut : Seorang dosen matematika pastilah menguasai ilmu trigonometri,yang berbicara tentang konsep sinus, cosinus, tangent, cotangent, dsb. Kalau dosen seperti itu mengajar, tentu ia harus pandai-pandai mempertimbangkan kemampuan orang yang akan diajari. Saat mengajar mahasiswa jurusan matematika, tentu tidak akan masalah jika menerangkan dengan rumus-rumus trigonometri itu. Secara psikologis dan keilmuan seorang mahasiswa telah siap menerima ilmu yang sifatnya abstrak seperti itu. Namun jika ia mengajar anak sekolah dasar, dosen itu ngotot memakai konsep trigonometri dalam proses mengajarnya, apa yang akan terjadi ?.
Bahwa kita harus berbicara kepada orang lain dengan mempertimbangkan daya tangkap seseorang, dibenarkan oleh Nabi Muhamad sendiri. Beliau mengatakan, berbicaralah kepada orang sesuai dengan tingkat kecerdasan mereka. Karena jika kita berbicara segala sesuatunya pada semua orang, beberapa diantara mereka tidak dapat memahami kita dengan begitu akan terjadi kesalahan. (Al Suhrawardhy,1905). Karena bangsa arab kuno memuja berhala dan dalam banyak hal begitu merosotnya, maka beliau tidak menyinggung apapun yang berkenaan dengan pemujaan kepada bentuk Tuhan. Contoh lain, keluarnya ayat Al-qur’an yang sesuai dengan kontek keadaan bangsa arab kuno pada waktu itu adalah perintah Nabi Muhamad (Al-qur’an 4.23) “..Diharamkan atas kamu (mengawini) ibumu, anak-anak perempuanmu, dan juga saudara perempuanmu.” Mengapa ada ayat yang berbunyi demikian ? 

Dapat dipastikan bahwa semua kebiasaan zinah dengan anggota keluarga sendiri itu telah terjadi pada bangsa arab pada saat itu. Sama halnya kenapa di Indonesia sekarang ada Undang-undang yang mengatur masalah terorisme ? maka generasi selanjutnya pastilah dapat menyimpulkan bahwa pada saat itu telah ada gerakan atau tindakan terorisme yang terjadi. sebelum ada peristiwa demikian, maka hukum yang mengatur hal itu tidak akan muncul. Dapatkah anda membayangkan bagaimana mentalitas masyarakat yang harus dihadapi oleh Nabi Muhamad ? kemerosotan moral itu sudah sedemikian parahnya sehingga masyarakat pada saat itu menjadikan para berhala sebagai Tuhan pujaan mereka. Nabi Muhamad melarang pemujaan terhadap berhala, namun pada saat yang sama beliau juga tidak memberikan penjelasan atau gambaran bagaimana wujud Tuhan yang sesungguhnya. Secara terbuka beliau tidak pernah berbicara tentang bentuk Tuhan, namun dalam beberapa ayat Al-qur’an beliau memberikan secara tersirat/ tersembunyi tentang wujud Tuhan. Mengapa ? tentu saja ini dikarenakan bahwa bangsa arab itu telah akrab dengan pemujaan berhala sesuai dengan bentuk semau mereka sendiri. Kalau pada saat itu Nabi kembali menjelaskan tentang bentuk dan wujud Tuhan, pastilah mereka akan membuat berhala-berhala baru. Padahal pelarangan terhadap pemujaan berhala itulah yang menjadi misi utama kehadiran Nabi Muhamad. Tetapi hal ini tidaklah berarti bahwa Nabi Muhamad menolak pemujaan kepada arca Vigraha seperti yang dibenarkan menurut aturan kitab suci. Hal ini dapat kita temukan apabila kita secara dekat mengkaji kehidupan Nabi Muhamad.
Geo Wedengren (1995) menyebutkan : Menurut tradisi muslim, suatu waktu, saat Nabi Muhamad mengalami Isra Mi’raj (naik ke planet-planet surga) dan setelah memasuki lapis ketujuh dari planet surge, beliau menghadap singgasana Allah. Pada saat Nabi Muhamad naik ke surge dan berjumpa dengan Allah, Allah sedang duduk di singgasana-Nya. Setelah peristiwa itu ketika kemudian orang-orang bertanya kepada Nabi Muhamad “ apakah anda telah melihat Allah ?” sang Rasul menjawab “ Saya hanya melihat cahaya yang begitu gemilau, dimana Allah berada di balik 20.000 tirai gorden. Jika gorden itu tersingkap dan seseorang melihat wajah Allah, maka ia akan segera terbakar menjadi debu. (Baku,1993). Hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya Tuhan memiliki wujud rohani yang merupakan dasar bagi umat hindu dalam melakukan pemujaan kepada Tuhan dalam bentuk Arca atau Murti beliau.
Selain dalam Al-qur’an, pelarangan pemujaan terhadap berhala juga dapat kita temukan dalam kitab Injil khususnya pada kitab Perjanjian Lama (Old Statement) yang merupakan kitab suci umat Yahudi, Kristen, dan agama serumpun. Disana terdapat larangan tegas untuk menciptakan arca atau berhala apalagi menyembah bentuk-bentuk itu. Dalam exodus :20.3 terdapat perintah “Thou shall have no other gods before me” (Kamu tidak boleh memiliki Tuhan lain dihadapan-Ku). Larangan itu dipertegas kembali dalam ayat-ayat selanjutnya (Exodus; 20.4-5) “ Thou shall not make unto thee any graven (carved) image of any likeliness of anything that is in the sky above, or that is on the earth beneath, or that is in the water under earth…Thou shall not bow down to them, nor serve them ; for I the Lord thy God am a jealous God” yang artinya…Kamu tidak akan membuat atasmu patung berhala, atau keserupaan dengan apapun, yang ada di surge di atas atau yang ada di atas bhumi, atau yang ada di dalam air ; … Kamu tidak akan tunduk kepada mereka, tidak pula melayani mereka, karena Aku tuan Tuhanmu adalah seorang Tuhan pencemburu ). Ayat ini merupakan salah satu dari 10 perintah dalam Kristen (The Ten comandent) dengan dasar ayat-ayat itu umat Judeo-Kristen mengembangkan sikap kebencian yang kuat terhadap kegiatan pemujaan terhadap arca. Selanjutnya larangan itupun dimaknai sebagai larangan untuk memuja wujud Tuhan yang dibenarkan menurut uraian kitab-kitab suci sekalipun. Larangan-larangan itulah yang mengilhami penghancuran tempat-tempat sembahyang umat hindu khususnya di india, pada masa kekuasaan umat beragama lain tersebut.


Dalam bahasa sansekerta, nama lain dari arca adalah murti atau pratima. Dalam buku Darshan : seeing the devine image in india, Prof Diana Eck dari Havard University Amerika menuliskan :..” seperti halnya istilah icon menunjukkan makna keserupaan, begitupun kata-kata Pratikrti dan Pratima dalam bahasa sansekerta mengandung makna keserupaan antara gambar atau patung dengan dewata yang dilambangkannya. Namun kata yang umum digunakan untuk meyebut patung seperti itu adalah murti yang didefinisikan sebagai segala sesuatu yang memiliki bentuk dan batas tertentu, suatu bentuk, badan, atau figure, sebuah perwujudan, terjemahan, pengejawantahan. Jadi murti sesungguhnya lebih daripada keserupaan. Melainkan dewata itu sendiri yang telah mewujud. Pemakaian kata murthi dalam berbagai Upanisad dan Bhagavad Gita menunjukkan bahwa bentuk atau wujud tersebut adalah hakekat atau essensinya. Ibaratnya nyala api adalah murti dari api. Sayangnya setelah diserap dalam bahasa Indonesia, kata arca atau murti kemudian dimaknai identik dengan kata patung atau berhala, dan sering berkonotasi negative. Sembahyang umat hindu kepada Tuhan dengan menggunakan sarana arca di cap sebagai kegiatan pemujaan kepada berhala, dan penghinaan kepada Tuhan. Padahal dalam kitab Veda, cara sembahyang kepada Tuhan melalui perantaraan Arca Vigraha adalah sebuah anjuran bagi mereka yang ingin maju dalam jalan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Arca Jaganath' : Baladev' : Subhadra

Beberapa ayat dalam Bhagavata Purana  yang mengajarkan pemujaan kepada Arca Vigraha sebagaimana yang diajarkan oleh Tuhan Sri Krishna kepada Udhava adalah sebagai berikut :
Sri Udhava uvaca :
Kriya-yogam samacaksva // bhavad-aradhanam prabho
Yasmat tvam ye yatharcanti // Satvatah-satvatasarbha
( Udhava berkata : Wahai Sri Krishna, tuan bagi para penyembah, mohon menjelaskan cara yang telah ditetapkan dalam menyembah Anda dalam wujud arca. Bagaimana kwalifikasi para bhakta yang memuja arca, atas dasar apa pemujaan itu dilakukan dan bagaimanakah cara pemujaannya secara khusus (Bhagavatam 11.27.1)

Etad vadanti munayo  // muhur nihsreyasam nrnam
Narado bhagavan Vyasa  // acaryo ngirasah sutah
(Rsi Rsi yang mulia menyatakan bahwa pemujaan arca seperti itu memberikan manfaat terbesar bagi kehidupan manusia. Itulah pendapat Narada muni, Rsi agung Vyasadeva, dan pendapat guru saya sendiri, Bahaspati (angirasah sutah) – Bhagavatam 11.27.2

Vaidikas tantriko misra  // iti me tri-vidho makhah
Trayanam ipsitenaiva  // Vidhina mam samarcaret
‘ Hendaknya seseorang memuja-Ku dengan penuh kehati-hatian dengan memilih salah satu cara pemujaan yang telah ditetapkan untuk memuja-Ku yakni : Vaidika, Tantra, atau gabungan diantara keduanya.

Acaryam sthandile ‘gnau va  //  surye-vapsu hrdi dvijah
Dravyena  bhakti-yukto ‘rcet  /  Sva-gurum mam amayaya
(Seorang dvija atau ia yang sudah dilahirkan dua kali harus menyembah-Ku, sepenuh hati tanpa sikap mendua. Mempersembahkan berbagai perlengkapan dengan cinta bhakti kepada wujud-Ku sebagai arca, atau kepada wujud-Ku yang ada dalam tanah, dalam api, dalam matahari, dalam air atau dalam hati penyembah itu sendiri)

Mengenai bahan-bahan yang bisa dipakai untuk membuat arca, Sri Krishna menyebutkan sebagai berikut
“ Dinyatakan bahwa arca Tuhan dapat muncul dalam delapan jenis bahan yaitu dari batu, kayu, tanah, cat, pasir, pikiran, dan permata (Bhagavatam 11.27.12)
Jelaslah dalam hal ini bahwa pada saat umat hindu membuat arca Tuhan dari batu atau logam, tidak berari bahwa mereka sedang menghina Tuhan karena mempersamakan batu dengan Tuhan. Toh batu atau kesemua bahan yang disebutkan itu adalah ciptaan Tuhan dan Tuhan sendiri yang mengijinkan diri beliau dipuja dalam bentuk yang dapat dilihat oleh mata manusia yang serba terbatas ini.
Lalu bagaimana mengatasi keterbatasan panca indera ini padahal kalau mau jujur, kita tidak pernah bisa bersembahyang pada kekosongan. Saat berdoa, sembahyang, ataupun melakukan pemujaan, pastilah pikiran kita membayangkan suatu figure, sosok, bentuk, wujud, konsep, atau gambaran tertentu yang kita jadikan sebagai objek untuk pemusatan pikiran. Entah itu berupa ‘cahaya menyilaukan / Nur, sosok orang tua yang bijaksana, bentuk Omkara, gambar Yesus, Kaligrafi Allah, tanda Salib, dan sebagainya. Selalu ada sesuatu yang berusaha kita wujudkan dalam pikiran baik secara sadar maupun tidak. Kita butuh titik kosentrasi bagi pikiran yang selalu gelisah dan ingin mengembara kesana kemari. Bukankah saat sembahyang, umat islam juga diwajibkan untuk menghadap kea rah “Kiblat” yaitu berupa Ka’bah yang berada di kota Mekkah Arab untuk dijadikan titik kosentrasi pikiran. Sekali lagi indera manusia yang terbatas ini hanya bisa menangkap dan memahami hal-hal yang bersifat material sedangkan Tuhan bersifat rohani spiritual yang berada di luar batas kemampuan manusia oleh karena itulah Tuhan ‘mengalah’ dengan menampakkan dirinya kepada manusia. Tentu saja orang-orang seperti ini adalah orang-orang terpilih yang telah dipersiapkan bagi-Nya untuk mengungkap kebenaran dimaksud. Manusia terpilih seperti itu hanyalah seperti sebutir pasir dipantai. Begitu sulitnya ditemukan bahkan Arjuna yang memiliki kedekatan dengan Sri Krishna-pun tak sanggup melihat Viratsvarupa beliau pada saat penampakan Ilahi di medan perang kuruksetra walaupun Arjuna telah diberikan penglihatan dewata ( caksu divyam)
Arjuna berkata “….Kalau beratus ratus ribu matahari di langit terbit pada waktu yang bersamaan, mungkin cahayanya menyerupai cahaya dari kepribadian yang paling utama dalam bentuk semesta itu (B.Gita XI.12)
“Sri Krishna yang hamba muliakan, di dalam badan Anda hamba melihat semua dewa dan berbagai jenis mahluk hidup yang lain. Hamba melihat dewa Brahma sedang duduk di atas bunga teratai, dan bersamanya dewa Shiva, para Rsi, dan juga naga-naga surgawi” ( B.Gita XI.15)
“Bentuk Anda sulit dilihat karena cahayanya yang begitu menyilaukan tersebar ke segala sisi. Seperti api yang menyala atau cahaya matahari yang tidak dapat diukur. Namun hamba melihat bentuk ini yang bernyala dimana mana, dihiasi dengan berbagai jenis mahkota, gada, dan cakra” (B.Gita XI.17)

    Demikianlah, setelah mendapatkan berkat khusus berupa penglihatan rohani, Arjuna mampu melihat wujud rohani Tuhan dan wujud para dewa. Jadi kalau umat hindu bersembahyang dengan membuat dan menggambarkan wujud serta bentuk Tuhan, hal itu dilakukan dengan mengikuti uraian mengenai wujud dan penggambaran badan rohani Tuhan sebagaimana yang diuraikan dalam kitab-kitab Veda. Ada kitab dalam Veda yang khusus berisi panduan lengkap tentang bagaimana seharusnya orang membentuk arca atau murti Tuhan, upacara-upacara yang harus dilakukan, dan mantra mantra yang harus digunakan untuk “mengundang” Tuhan agar berkenan “bersemayam” dalam murti atau arca yang dipuja. Akan tetapi manusia tidak boleh membuat penggambaran Tuhan sesuka hatinya, lalu menjadikan hal itu sebagai Tuhan pujaannya. Arca harus dibuat menurut aturan dan ketentuan yang ditetapkan dalam kitab suci
(dari buku Hindu dibalik tuduhan dan prasangka, Suryanto M.Pd, 2006)

Nah kalau selama ini diketemukan masyarakat hindu yang memuja berbagai kayu atau batu besar, membuat patung binatang seperti macan, kambing, ular, dan lain sebagainya lalu mereka puja sebagaimana mereka ingin memuja Tuhan, maka tentu tidak salah jika akhirnya umat lain mengklaim mereka sebagai masyarakat primitive pemuja berhala. Karena memang apa yang mereka puja dalam bentuk itu bukan merupakan penggambaran yang benar tentang sifat Ketuhanan. Tidakkah hal itu hamper sama dengan gambaran bangsa arab kuno sebelum diturunkannya Nabi untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip kebenaran yang sejati. Dan bukannya yang sekedar pembenaran rasa yang dipegang sebagai kebenaran oleh suku bangsa jahiliyah di ketika itu.
Bait mantra …Narayana Na dwityo ‘sti kascit “ yang tercantum dalam Narayana Upanisad yang kemudian diselipkan dalam mantram puja Trisandya umat hindu di Nusantara pada bait kedua, seharusnya diterjemahkan dengan benar sebagaimana umat Islam menyebutkan “ La Ilahailallah” Tiada Tuhan selain Allah. Atau dalam mantram diatas berarti Narayana itu hanya satu. Sama sekali tidak ada duanya. Jadi Narayana yang merupakan expansi dari Tuhan Sri Krishna seharusnya menjadi penggambaran umat hindu dalam membuat arca / patung yang bersesuaian dengan isi kitab suci agar tidak terus terjadi kebingungan karena ketidak berdayaan umat dalam memahami mana Tuhan, Dewa, Leluhur, Roh suci, Memedi, atau bangsa jin dan lain sebagainya. Sehingga pemujaan, dan penggambaran Tuhan tidak rancu dengan berbagai berhala yang dibuat sebagai hasil dari konsep pemikiran manusia yang tak bersesuaian dengan isi dan petunjuk sastra.
Para Dewa dan Tuhan adalah 2 hal yang berbeda. yang satu adalah pusat cahaya sedangkan lainnya adalah cahaya yang keluar dari sumbernya (Tuhan) walaupun keduanya tidak bisa dipisahkan, namun tidak berarti bahwa pemujaan terhadap keduanya bisa disamakan. demikian halnya dengan penghormatan kepada para leluhur, para bhuta kala, atau roh-roh halus memiliki caranya tersendiri. Tuhan hanya menganjurkan pemujaan Kepada-Nya tanpa mengesampingkan penghormatan kepada mahluk yang lain sebagai partner dalam mengolah hidup. ibaratnya dalam permainan sepakbola harus ada lawan untuk menentukan keberhasilan seseorang dalam kemajuan prestasinya. para bhuta kala juga adalah tim lawan yang memacu kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan (Kalau kita tidak mau kalah dalam permainan hidup lalu menjadi pecundang mereka atau bahkan dipakai budak oleh para bhuta kala itu) jadi mereka juga perlu dihormati tapi bukan disembah atau dipuja seperti kita menyerahkan diri kepada Sang Pencipta.

Sri Krishna dalam Bhagavad Gita Bab. 9.25 bersabda :
yanti devan vrata-devan // pitrn yanti pitr vratah
bhutani yanti bhutejya  // yanti mam yajino 'pi mam
Orang yang menyembah dewa-dewa (kalau karmanya baik) maka ia akan dilahirkan diantara para dewa,  orang yang menyembah leluhur setelah mati akan dibawa ke alam leluhur, orang yang menyembah hantu dan roh-roh halus akan dilahirkan di tengah-tengah mahluk seperti itu. tetapi orang yang menyembah-Ku (Krishna) maka ia akan sampai kepadaku dan hidup bersama-ku di tempat tinggalKu yang kekal.

jadi kalau kita percaya dengan kitab suci Veda khususnya Pancama Veda atau Veda yang kelima yakni Bhagavad Gita,  seharusnya kita lebih pintar lagi dalam melakoni kegiatan keagamaan sebab tujuan yang diproklamirkan agama hindu adalah untuk mencapai Jagadhita di bhumi (Tercapainya pencapaian Artha dan Kama yang dilandasi Dharma) sehingga nantinya bisa meniti tujuan puncak yakni kelepasan atau mukti (Moksartham). dan Moksa atau alam keabadian yang tak terjamah proses tumibal lahir mati hanyalah ada dalam kerajaan Tuhan (Krishna Loka) bukan di alam para dewa (Sorga) apalagi alam para leluhur (Pitra Loka).

3 komentar:

Anonim mengatakan...

hare krishna, memang seharusnya 'yang pemahamannya lebih' memaklumi 'yang pemahamannya kurang'. Setuju sekali tulisan ini, evolusi spiritual masing masing orang berbeda beda. Tapi kalau mereka benar benar mencari maka mereka akan menemukan jawaban dalam bhagavad gita.

Deva Pratama mengatakan...

Trima kasih atas panduannya yang membantu , aku mengerti mengapa & kenapa sekarang .


Hare Krishna

Deva Pratama mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.