Tampilkan postingan dengan label Chinna Katta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chinna Katta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Maret 2013

Bhagavan dalam aspek Paramaatma



Dalam Upanishad, ada cerita tentang seseorang yang sangat terpelajar; dia juga seorang guru, namanya Uddalaka. Ia mempunyai seorang putra bernama Swethaketu. Swethaketu melakukan beberapa usaha agar mendapatkan pendidikan di bawah bimbingan ayahnya sendiri, tapi ayahnya tidak menyetujui cara semacam itu. Alasannya yaitu, agak sulit untuk berpegang pada disiplin yang ketat antara seorang guru dan murid karena seorang anak dapat bergerak dengan bebas terhadap ayahnya. Anaknya akan selalu berpikir bahwa gurunya adalah ayahnya, dan konsep hubungan ayah dan anak itu akan selalu ada. Ini karena ada kasih sayang antara ayah dan anak. Di sini kita dapat memahami alasan untuk sebutan Kama Putra bagi seorang anak, seorang anak yang lahir karena kasih sayang. Di mana ada keterikatan, kasih sayang dan perasaan memiliki, akan ada kelemahan tidak mungkin memberikan pelajaran dengan sepenuhnya dan disiplin yang baik. Karena Uddalaka mengerti dan menyadari situasi bahwa pendidikan tidak akan lengkap dan benar jika ada hubungan keluarga dan keterikatan, dikirimnya Swetaketu kepada guru yang lain dengan hasrat agar putranya diajar dan diberi pendidikan yang layak.

Melihat situasi ini, Swetaketu yang masih muda dan belum berpengalaman , salah tanggap dan merasa mungkin ayahnya kurang pandai sehingga tidak mampu mengajarnya. Selama beberapa tahun, Swethaketu tinggal di rumah gurunya, menyelesaikan pelajarannya, kemudian pulang ke rumah orang tuanya dengan agak sombong karena pendidikannya yang tinggi. Mengetahui hal ini, sang ayah bertanya kepada putranya: "Apakah yang telah kamu pelajari? Bermacam-macam sistem apakah yang telah engkau ketahui? Apakah engkau telah belajar tentang Brahman? Apakah engkau sudah mempelajarinya, ia tidak perlu belajar apa-apa lagi dan telah mengetahui semuanya?" demikianlah pertanyaan ayahnya. Sementara ayahnya mengajukan pertanyaan ini, anaknya bertingkah dengan cara yang aneh dan lucu. Ia masih memperlihatkan sikap superior dan sombong, seolah-olah ia jauh lebih terdidik dan terpelajar dari ayahnya, dan ayahnya sama sekali tidak akan mengerti jika ia menceritakan apa yang telah dipelajarinya selama bertahun-tahun. Dengan mudah ayahnya dapat mengerti keadaan anaknya yang belum matang dan suka melagak. Di hadapan ayahnya anak ini berusaha memamerkan jawabannya bahwa Tuhan adalah seperti ini, Tuhan seperti itu dan seterusnya.

Uddalaka merasa anaknya tidak akan dapat menangkap apa pun bila ia menerangkan kebenaran tentang Brahman dengan kata-kata. Pikirnya, lebih baik mengajarnya dengan contoh. Maka diambilnya sebuah tempayan berisi air. Ia juga mengambil segenggam gula yang diperlihatkannya kepada putranya. Setelah gula itu diperlihatkan kepada putranya, dimasukkannya ke dalam air di dalam tempayan, dan diaduknya gula itu sehingga larut semuanya, kemudian dipandangnya putranya sambil berkata: "Aku telah mengambil gula dan gula itu telah engkau lihat sendiri. Gula itu telah kumasukkan ke dalam tempayan. Dapatkah engkau mengatakan di manakah gula yang ada dalam tempayan ini sekarang? Anak itu melihat ke dalam tempayan dan tentu saja tidak dapat menemukan sisa gula di dalamnya. Sang ayah mengambil beberapa tetes air dari dasar tempayan itu dan ditaruhnya di lidah anaknya, lalu bertanya: "Bagaimana rasanya? Engkau dapat mengambil setetes air dari bagian mana saja di tempayan ini dan merasakannya."  Anaknya setuju bahwa sekarang gula itu ada dalam setiap tetes air di tempayan dan bahwa dalam seluruh tempayan itu ada gulanya. Kemudian ayahnya menerangkan: "Tepat seperti yang kau lihat sekarang bahwa gula ini ada di mana-mana, demikian pula Brahman mengambil wujud Saguna atau Dia yang memiliki sifat-sifat ke Ilahian dan datang ke dunia ini dan ada dalam setiap makhluk, dalam setiap benda yang engkau lihat di sekitarmu di seluruh dunia. Tidak mungkin melihat-Nya dengan mata, tidak mungkin memegang-Nya dengan tangan, tetapi hanya mungkin mengenal-Nya dengan menghayati kehadiran-Nya dalam urusan duniawi. Engkau tidak lagi dapat melakukan apa pun juga dengan badan kasarmu selain daripada menghayati Brahman yang Maha Ada dan hadir di mana-mana." Hanya setelah mencapai pengalaman yang berharga ini maka engkau akan berada dalam posisi untuk berbicara tentang Adwaitha dan menerangkan sifat Tuhan, tentang Tuhan yang Maha Ada dan lain-lain. Hanya setelah memperoleh pengalaman tesebut, maka engkau akan berhak dan berwenang untuk berbicara tentang Tuhan yang Maha Ada. Jika tidak, dengan pengetahuan yang diperolehnya dari buku saja dan mengoceh seperti betet tentang Tuhan dan ke Mahaadaan-Nya seolah-olah engkau telah mengetahui semuanya, itu semua bukanlah kebenaran. Hanya setelah mengalami Tuhan yang Maha Esa, engkau dapat berbicara tentang Adwaitha atau Non-dualisme.

Senin, 04 Maret 2013

Jarak Vaikuntha loka



Jarak Vaikuntha loka.
Suatu hari ada seorang pundit yang sangat pandai berbicara, sedang menceritakan kisah Gajendra moksa dari Bhagavata di balairung istana. Di hadapan Maharaja dan sejumlah besar pejabat tinggi istana. Ia menceritakan bagaimana Tuhan Narayana, ketika mendengar teriakan gajah yang memanggil nama-Nya dalam penderitaan dan rasa sakit yang teramat karena diterkam buaya, segera beranjak dari kediaman-Nya di Vaikunta untuk menyelamatkan sang gajah. Tiba-tiba Maharaja menyela cerita pundit itu dengan pertanyaannya :’Katakan padaku, pundit. Berapakah jauhnya Vaikunta itu?” Pundit itu benar-benar tercengang dan tidak menyangka raja akan bertanya seperti itu. Ia tidak tahu berapa mil jarak bhur loka tepatnya tempat gajah itu memanggil dengan kediaman Sri Vishnu di Vaikunta Loka. Ia harus jujur bahwa ia sama sekali tidak mengetahui hal itu, demikian pula saat hal yang sama ditanyakan kepada para cendikiawan istana yang ikut mendengarkan kisah Bhagavatha dimaksud.
Melihat ketidak puasan raja, tiba-tiba seorang pelayan yang mengipasi Maharaja dari belakang singgasana menawarkan diri untuk menjawab pertanyaan itu. namun sebelumnya meminta maaf atas kelancangannya. Pundit itu terkejut akan kelakukan sang pelayan yang tidak pada tempatnya. Tetapi akhirnya Maharaja mengijinkannya untuk berbicara dan memberikan pandangan “Yang mulia! Menurut saya, jarak Vaikuntha Loka adalah sejauh seruan gajah itu dapat didengar; Kata pelayan itu singkat. Semua hadirin merasa bahwa jawaban itu mengandung kebenaran nyata. Ya! Jika kesedihan hati seorang penyembah secara tulus ikhlas dinyatakan dengan teriakan atau keluh kesah, Tuhan hanya berada sejauh suara keluhan itu dapat di dengar. Beliau selalu siap mendengar tangisan anak-anakNya. Tempat tinggalNya, Vaikuntha Loka ada dalam jarak dengar setiap ratapan dari hati yang ditimpa kedukaan. Pelayan yang tidak terpelajar itu dalam sekejap saja mengetahui bahwa Tuhan hadir dimana-mana dengan penuh rasa belas kasihan.

Sifat Bhakta sejati



Sifat Bhakta yang utama harus bebas dari egoisme.

Suatu hari di Vaikunta loka, Narayana sedang bercakap-cakap dengan Devarsi Narada tentang kebesaran dan kemuliaan nama Tuhan untuk menghancurkan pengaruh buruk pikiran. Pada waktu itu Narada menyatakan ketidak mengertiannya terhadap tabiat manusia yang sudah tahu akibat dosa tetapi masih tetap melakukannya, serta tidak mau mengikuti perintah sastra untuk mengambil nama Tuhan sebagai nafas hidupnya agar tidak tersesat dalam pengaruh kemerosotan jaman. Ia menyatakan bahwa walaupun dirinya setiap saat menyebut nama Tuhan juga masih harus berjuang melawan kuatnya arus jaman Kali. Sri Narayan mengetahui ada ego yang sangat halus dalam nada pernyataan penyembahnya itu. Maka Sri Vishnu menceritakan tentang seorang petani yang mengerjakan sebidang tanah yang kecil sebagai seorang bhakta yang agung serta menganjurkan Narada untuk mengunjunginya untuk bisa mengerti dan belajar tentang pengabdian dari petani tersebut. Bagaimanapun juga akhirnya Narada pergi mencari petani tersebut yang oleh Sri Vishnu dikatakan sebagai bhakta yang agung. Ia ingin tahu seberapa seringnya sang petani menyebut dan mengingat Tuhan dalam seharinya.
Pada waktu itu dilihatnya sang petani sedang sibuk mengerjakan tugasnya sehari-hari di sawah, di kandang ternak, dan juga dirumahnya. Walaupun telah diamati dengan sangat seksama, Narada tidak mendengarkan petani itu mengucapkan nama Tuhan lebih dari tiga kali sehari. Sekali ketika ia bangun dari tidur, yang lain ketika ia istirahat makan, dan terakhir ketika akan pergi tidur. Narada semakin penasaran, atas dasar apa Sri Vishnu memberikan penilaian yang bahkan bisa dibilang melebihinya, padahal dalam kenyataannya Narada justru yang lebih banyak mengucapkan nama Tuhan, menyanyikan kemuliaan-Nya serta menyebarkan amanat Namasankirtana kemana-mana. Sedangkan orang itu, yang oleh Sri Vishnu dianggap lebih unggul darinya hanyalah seorang petani sederhana yang mengingat Tuhan tiga kali dalam sehari. Dengan perasaan seperti itu, Narada segera pergi menemui Sri Vishnu. Setelah mendengar pembelaan dan pembenaran dari Narada, akhirnya Sri Vishnu memberikan Narada sebuah periuk yang penuh berisi air sampai ke tepinya, lalu disuruhnya Narada menjunjung periuk tersebut di atas kepalanya kemudian berjalan keliling tanpa mencecerkan airnya barang setetespun. Narada melakukan perintah itu dan ketika ditanya berapa kali ia bisa mengingat Tuhan saat itu, Narada mengaku bahwa dalam usahanya untuk berjalan tanpa menggoyangkan periuk dan mencecerkan airnya, ia terkadang lupa dengan nama Tuhan. Sri Vishnu-pun lalu memberi tahu bahwa petani yang mempunyai berbagai beban yang lebih berat di kepalanya, dan lebih mudah tercecer daripada seperiuk air tadi setidaknya masih menyempatkan diri untuk mengingat Tuhan. Semua orang harus melakukan tugas kewajiban yang telah ditetapkan baginya dengan tetap mengingat Aku senantiasa, sehingga kerja itu bisa dijadikan sebagai persembahan. Jika kita ingat kepada Tuhan saat tidak berkegiatan, itu masih wajar dan memungkinkan tetapi jika engkau bisa mengingat Aku di dalam kesibukan kerja, maka hidupmu akan tersucikan. Bukankah hal yang sama telah Kukatakan kepada Arjuna yang harus menyibukkan dirinya dalam tugas sebagai seorang Ksatriya di medan perang. Ia harus tetap bertempur sambil terus mengingat Aku.

Mengambil Kesimpulan



Mengambil kesimpulan tanpa melakukan penyelidikan terlebih dahulu, atau hanya menggunakan analisa dangkal dari bukti yang tidak kuat bukanlah tanda orang yang bijaksana.

Chinna katta jilid IV : Kisah ini terjadi ketika Sri Rama sedang sibuk dalam pertempuran yang dahsyat di Alengka melawan Rahwana. Pada suatu hari ketika perang sudah hampir usai, seorang anak yang digendong dalam pinggul seorang raksasi, terluka karena panah nyasar. Ibunya menjatuhkan anak itu dan melarikan diri. Melihat hal itu, Laksmana berkata kepada Sri Rama “ Lihatlah Kanda, betapa tidak berperasaannya para raksasi itu, mereka bahkan tidak mencintai anaknya sendiri. Sri Rama menjawab dengan tenang “ Dinda, jangan terlalu cepat menyimpulkan apalagi menyalahkan orang lain apalagi dengan cara kasar. Raksasi itu mungkin punya alasan sehingga ia melarikan diri seperti itu. Pergi dan tanyakanlah sendiri mengenai hal itu”

Mendengar hal itu, Laksmana kemudian minta ijin untuk mengejar dan menemui raksasi itu. Setelah memberi salam, bertanya kepada raksasi itu mengenai perbuatannya yang tidak pantas. Raksasi itu kemudian menjawab :” Kami memang kaum raksasa, tetapi tidak semuanya jahat. Bagaimana dengan Vibhisana? Apakah ia tidak mencintai Rama? Apakah engkau mengira ia tidak baik? Apakah engkau mengira bahwa diantara kalian, para manusia tidak ada yang bersifat raksasa? Jangan terlalu cepat mengecam dan menyalahkan orang lain. Akan saya katakana kepada anda mengapa saya tinggalkan anak saya yang terluka parah. Jika ini adalah persoalan mengenai moksa, masing-masing adalah satu unit, apakah itu ibu, anak, suami, atau istri. Setiap orang akan mencapai tujuannya sesuai dengan perbuatannya. Saya harus mencari keselamatan bagi diri saya. Ketika saya tahu bahwa anak saya yang kena panah sudah sangat parah dan pasti mati, mengapa saya harus mengurusinya dan berlama-lama di medan perang? Sebab saya mungkin juga akan terbunuh. Saya belum ingin mati. Saya masih ingin hidup walaupun akan menjadi tawanan bagi kalian. Dengan demikian saya akan mendapat berkah Dharsan Sri Rama yang akan menyelamatkan saya dari lingkaran kelahiran dan kematian.”
Mendengar pengakuan itu, Laksmana merasakan kebenaran di dalamnya. Ia memberi hormat kepada raksasi itu dan mohon diri. Lalu Ia menceritakan peristiwa itu kepada Sri Rama, yang kemudian dijawab :”Laksmana, ingatlah selalu bahwa selalu ada kebaikan walaupun pada hal-hal yang dari luarnya kelihatan jahat. Baik dan buruk suatu perbuatan sangat tergantung pada motif dibaliknya. Penilaian yang terlalu cepat seringkali berbahaya.