Serial Mahadeva yang menempatkan Dewa Shiva sebagai
Tuhan, jelas-jelas bertentangan dengan hukum qur’an yang tidak memperbolehkan
penganutnya untuk menyembah sosok lain sebagai yang Maha besar, atau dengan
istilah lain bahwa penganut qur’an tidak dibolehkan sama sekali untuk
mempersamakan Allah dengan apapun juga yang diciptakan-Nya, apalagi sampai
memberikan doa pujian atau persembahan yang sama seperti apa yang diberikan
kepada Tuhan dalam nama Allah, sebab itu bisa dikatagorikan sebagai perbuatan
“Syirik” yang bisa berakibat hilangnya pahala dari semua kebaikan sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala. "yang artinya : Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu
dan kepada (Nabi-Nabi) sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Allah),
niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang
merugi"[Az-Zumar: 65]
Jumat, 25 Juli 2014
Jumat, 06 Juni 2014
Sarana dan Prosesi Agni Hotra-2
Tata cara pelaksanaan
Persembahan
Hoṁa
Yajña/Agnihotra sebaiknya dipimpin oleh seorang Dvijati atau pandita (pūjāri),
bila tidak memungkinkan dapat dilaksanakan oleh seorang pamangku atau pinandita
yang hidupnya senantiasa Vegetarian. Namun jika tidak ada sama sekali, upacara
inipun bisa dilakukan sendiri dengan keyakinan sebab Agni Hotra merupakan
kewajiban bagi semua Grhasta. Para peserta mengiringi pemimpin ūpacāra dengan
mengucapkan Svāha (untuk Deva Yajña dan Yajña yang lain) dan Svādha
khusus untuk ūpacāra Hoṁa
Yajña yang dilakukan dalam rangka Pitra Yajña, pada akhir setiap mantra
dengan sekaligus mempersembahkan persembahan yang telah disediakan dengan bahan
persembahan yang diletakkan di atas telapak tangan dalam posisi tengadah yang
disorongkan kedalam Kunda atau Vedi, tempat api persembahan berkobar. Hoṁa Yajña yang dilakukan dalam
rangka ūpacāra kematian, biasanya dilakukan setelah 12 hari selesai pembakaran
jenasah (Antyesti atau Ngaben), sebelum hari tersebut dipandang masih dalam
keadaan Cuntaka. Peserta yang mengikuti ūpacāra Hoṁa Yajña/Agnihotra dilarang
bercakap-cakap dengan sesama peserta, merokok, minum minuman keras dan
melakukan penyucian diri (mandi besar) jika sebelumnya melakukan hubungan
suami-istri.
Pemimpin
Upacara atau para Pinandita / Hotri duduk melingkar mengelilingi kunda, dan
sang Yajamana yang akan menuangkan persembahan kedalam api duduk di depan
Kunda,sedangkan peserta lainnya mengambil posisi dibelakangnya. Sang Yajamana
atau yang mempersembahkan ūpacāra dan seluruh peserta ūpacāra tidak
diperkenankan meninggalkan ūpacāra sebelum ūpacāra selesai dilaksanakan. Posisi
duduk peserta ūpacāra adalah: peserta wanita di sebelah kiri dan laki-laki di
sebelah kanan kunda atau vedi. Dilarang keras mempersembahkan lilin, dupa atau
bahan-bahan persembahan lain yang telah jatuh ke tanah, karena telah cemar.
Pelaksanaan Hoṁa
Yajña/Agnihotra dimulai dengan menyiapkan air suci (sedapat mungkin
Tirtha Gangga), dan sangat baik bila seorang atau beberapa Dvijati (pandita)
terlebih dahulu “ngarga” atau memohon Tīrtha dengan menghadirkan dewi Gangga
(dengan sarana Ganggastava) di dalam Kumbha (di atas Tripada) sebagai sarana
dalam acara Hoṁa
Yajña/Agnihotra. Selanjutnya dilakukan penyucian diri (acamana) dan Praṇāyama. Setelah penyucian diri dan
praṇāyama
dilanjutkan dengan pemujaan kepada Agni (menggunakan mantra Agni Sūkta/Ṛgveda I.1-9), Gāyatri mantram 108
atau 21 kali, Mahamṛtyuñjaya
21 kali. Sangat baik bila sebelum mempersembahkan Hoṁa Yajña didahului dengan
mempersembahkan pejati dan pesaksi kepada Devata yang bersthana di sebuah pura
bila ūpacāra itu dilaksanakan di dalam pura. Bila dikaitkan dengan ūpacāra
besar, sangat baik dilengkapi dengan Pañcadhatu (emas, perak, tembaga, kuningan
dan besi). Adapun bentuk kunda atau vedi umunya berbentuk piramid terbalik,
dapat dibuat dari tembaga atau besi, disamping juga dari batu bata atau sebuah
paso (belanga yang agak datar di Bali juga disebut dengan nama cobek dan
semuanya harus baru (payuk anyar). Bila ūpacāra Hoṁa Yajña/Agnihotra dilaksanakan
pada pagi hari sangat baik bila menghadap ke Timur, sore hari menghadap ke
Barat. Bila didepan altar atau pelinggih, sebaiknya menghadap altar atau
pelinggih tersebut. Demikian pula bila dilaksanakan di tepi pantai hendaknya
menghadap ke laut, di pegunungan diarahkan ke puncak gunung dan di tepi sungai
atau mata air, di arahkan ke sungai atau mata air.
F. Mantra yang digunakan Mantram-mantra
yang digunakan pada umumnya diambil dari mantram-mantram kitab suci Veda, dan
banyaknya Sūkta yang dirapalkan tergantung kepada tujuan ūpacāra Hoṁa Yajña tersebut, demikian
pula pilihan Sūkta umumnya disesuaikan dengan situasi pada saat ūpacāra
dilaksanakan, misalnya untuk ūpacāra Deva Yajña dan lain-lain. Berikut kami
sampaikan susunan mantram yang digunakan serta terjemahannya ke dalam bahasa
Indonesia:
Sarana dan Prosesi Agni Hotra I
Dewasa ini, Upacara
agni hotra atau Homa yajna sudah semakin dikenal dan digemari oleh masyarakat
bali. Terbukti dengan semakin banyaknya permintaan untuk melakukan yajna ini.
Bahkan dalam sehari, seorang Hotri/ hotraka atau Pandita yang memimpin upacara
agni hotra ini bisa mendapat permintaan lebih dari sekali dalam sehari. Hal ini
tidak terlepas dari efesiensi dan juga manfaat nyata yang bisa didapat dari
upacara dimaksud. Sebab upacara Agni Hotra selalu bisa dikaitkan atau
dirangkaikan dengan beberapa upacara keagamaan lainnya seperti Agni Hotra untuk
megedong-gedongan, untuk merayakan tiga bulanan, pawiwahan, membersihkan
pekarangan (secara niskala) dan juga untuk menyempurnakan upacara pitra yajna.
Mengingat prosesi,
kelengkapan, penyediaan tempat dan juga biayanya yang relative murah telah
menjadikan upacara Agni hotra sebagai pilihan bijak bagi mereka yang
kesehariannya selalu sibuk dengan pekerjaan dan juga bagi mereka yang
menginginkan sebuah formula praktis,
simple, dan juga ekonomis namun tetap tidak kehilangan makna dalam beragama. Sebab dalam ritual agni
hotra, semua kelengkapannya merupakan bahan-bahan yang amat mudah dicari dengan
harga yang cukup terjangkau. Seperti misalnya biji-bijian, beras, kayu bakar,
minyak goreng, susu, dan lain-lain. Waktu untuk menyiapkan sekaligus
melaksanakannyapun relative sangat
singkat sekitar 3 sampai 4 jam saja.
Keberhasilan suatu
yajna memang tidak bisa diukur dari seberapa besar biaya yang dikeluarkan
ataupun dari seberapa banyak dan meriahnya bebantenan yang dipakai namun lebih
kepada efek atau dampak yang ditimbulkannya kepada sang Yajamana. (apakah
setelah melakukan suatu upacara, orang yang bersangkutan bisa lebih mendapatkan
ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan ataukah sebaliknya) sebab seringkali terjadi
di masyarakat bahwa ketika upacara yang dibuatnya selesai, hidupnya tidak
semakin membaik karena terus dikejar oleh kewajiban membayar hutang karena
meminjam uang demi lengkapnya sebuah upacara atau bahkan mengalami keretakan
keluarga karena biaya upacara diambil dari hasil pembagian warisan orang tua.
Hal ini tentu tidak sejalan dengan prinsip dan cita-cita dari agama itu
sendiri. Sebab agama mengajarkan bahwa manusia hendaknya hidup secara rukun
untuk mencapai artha dan kama yang dilandasi Dharma sehingga kebahagiaan
jagadhita dan moksa sebagai tujuan akhir bisa tercapai.
Hal ini tentu sangat
terkait dengan masing-masing individu untuk memulainya, terutama untuk
menyadari dan mengetahui bahwa yajna atau pelaksanaan korban suci itu adalah
sebuah keharusan bagi semua orang sebagaimana ujar Bhagavad Gita bahwasannya
jika kita lalai akan sebuah kewajiban lalu bagaimana seseorang bisa mendapatkan
kebahagiaan dalam hidupnya kini maupun dalam penjelmaannya yang akan datang.
Oleh karena itu segala bentuk dan kegiatan yajna untuk menyenangkan para dewa
tetap harus dijalankan yang mana hal itu tentu harus didasarkan pada
keikhlasan, keyakinan, serta niat dan usaha sendiri. Sebab jika kita melakukan
upacara yajna tanpa dilandasi oleh pengetahuan tentang makna, tata cara maupun
tujuan upacara dimaksud, tanpa dilandasi keikhlasan dan jerih payah sendiri,
hal itu sama saja dengan membuang-buang waktu karena hanya akan mengantarkan
kita pada moha atau kebingungan. Oleh karena itu, sangat penting bagi sang
Yajamana (orang yang akan melakukan yajna) untuk membuat atau mendapatkan
kelengkapan ritual itu sendiri sebagai tanda keikhlasan dan niat
sungguh-sungguh untuk mempersembahkan hasil kegiatan kita kepada para dewa.
Sebab jika Yajamana hanya menyerahkan segala sesuatunya kepada orang lain atau
Hotri untuk melengkapinya, sehingga ia hanya perlu mengeluarkan uang lalu duduk
manis menunggu selesainya upacara, ini bukanlah tanda kebajikan dalam beragama
sebab yang terpenting dari setiap ritual agama bukanlah pada bagaimana upacara
itu bisa selesai dengan lancar saja tetapi lebih kepada bagaimana setiap orang
terdidik untuk belajar mengetahui proses kegiatan upacara dimaksud sehingga
bisa menumbuhkan sradha serta kecintaan terhadap nilai agamanya sehingga
generasi Hindu kedepannya bisa lebih percaya diri dalam menjawab segala
pertanyaan umat lain yang sering terkesan menyudutkan karena ketidak berdayaan
kita menjelaskan makna dan tujuan upacara agama secara logis sehingga
menimbulkan kesan bahwa sebagian besar umat hindu beragama hanya karena
warisan, dan ikut-ikutan dengan dalil ‘Anak mule keto”
Langganan:
Postingan (Atom)
